Oleh: Damai Hari Lubis
“Silaturahmi ini untuk mendinginkan suasana,” kata Bu Kurnia, dengan suara selembut embun pagi. Tapi siapa sangka, di balik kelembutan itu, tersimpan strategi setajam keris Mataram. Kata pengantarnya sederhana, tapi jitu: bukan untuk menyulut, tapi menyalakan kesadaran. Dalam ruang tamu rumah Presiden Jokowi yang dibungkus keheningan politik, ia bukan tamu biasa. Ia datang membawa keberanian, disisipkan dalam basa-basi yang menggetarkan.
Kita semua beruntung punya sosok seperti Bu Kurnia—cerdas, tajam, terpercaya. Di saat banyak lidah kelu di depan kekuasaan, ia justru membuka perbincangan dengan keteguhan. Ia berani mengusik sang presiden di rumahnya sendiri. Siapa yang berani? Siapa yang bisa membayangkan debat tentang keabsahan ijazah seorang kepala negara berlangsung tanpa emosi, tanpa gaduh, tapi tetap menghujam?
Tentu saja, kehadiran Ustaz RF menambah daya dobrak. Ia memang merunduk—gestur yang sering diartikan sebagai kepasrahan—namun tiap kalimatnya adalah palu godam. Substansinya jelas, tak mudah digoyah. Dan andai saja emosinya tak tertahan, niscaya letupan retoriknya bisa membuat meja-meja istana bergoyang. Tapi ia memilih diam—hanya memberi isyarat, semacam sandi, seperti yang telah disiapkan jauh-jauh hari.
Logikanya sederhana namun menohok: jika pertemuan ini murni silaturahmi, mengapa yang dipersoalkan justru ijazah? Bahkan salah satu peserta datang dengan kaos bertuliskan Rakyat Gugat: Jokowi Ijazah Palsu. Sebuah pesan yang tak butuh interpretasi. Dan yang lebih mengejutkan, adalah respons spontan Jokowi: “Cuma ijazah S1 aja kok. Bukan S2, bukan S3.” Kalimat yang tak disadari itu, justru membuka tabir.
Aku mencoba menutup percakapan dengan basa-basi. “Ibu sehat ya, Pak?” tanyaku. Tapi ia tahu, aku tak datang tanpa maksud. Ia tahu bahwa tulisanku telah sampai ke tangannya—Iriana Terlibat Jokowi Ijazah Palsu. Sebuah tulisan yang mungkin tak membuatnya marah, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa rakyat tak lagi diam.
Ini bukan tentang ijazah semata. Ini tentang kejujuran, tentang moralitas kepemimpinan, dan tentang rakyat yang menuntut pertanggungjawaban. Dalam pertemuan yang tampak sejuk, sesungguhnya badai sedang bertiup pelan. Tak perlu teriak. Tak perlu marah. Cukup basa-basi yang diracik dengan presisi. Seperti Bu Kurnia.






















