• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Belajar dari Jepang: Membangun Kota dengan Nyawa, Bukan Hanya Beton

Ali Syarief by Ali Syarief
October 27, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Belajar dari Jepang: Membangun Kota dengan Nyawa, Bukan Hanya Beton
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Ucapan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tentang Bandara Kertajati yang disebutnya “in the middle of nowhere” sempat mengundang gelombang komentar. Ada yang menilai sinis, ada pula yang membenarkan. Tapi di luar hiruk-pikuk politiknya, kalimat itu sesungguhnya menyinggung persoalan yang lebih dalam: cara kita membangun.

Indonesia, tampaknya, masih percaya bahwa kemajuan diukur dari jumlah beton yang ditanam di tanah. Bandara, tol, pelabuhan, waduk—semuanya berlomba dibangun seolah kemegahan fisik bisa menggantikan perencanaan yang matang. Kita membangun dulu, baru berpikir akan diisi apa. Kertajati menjadi contoh paling terang dari pola pikir itu: proyek ambisius yang berdiri di tengah lahan kosong, menunggu kehidupan datang entah dari mana.

Jepang mengambil jalan sebaliknya. Mereka memulai pembangunan dari kehidupan, bukan dari beton. Saat pemerintah Jepang membangun Tsukuba Science City pada 1960-an, yang pertama dibangun bukan laboratorium atau kampus megah, melainkan jalur kereta, jalan raya, sekolah, rumah sakit, dan perumahan bagi ilmuwan yang akan bekerja di sana. Kota itu dirancang hidup sejak hari pertama, bukan menunggu “ramai nanti.”

Kebijakan ruang di Jepang bekerja seperti mesin halus: setiap proyek besar mesti terintegrasi dalam masterplan nasional. Tidak ada bandara tanpa kota, tidak ada pelabuhan tanpa industri. Semua dibangun dalam sistem yang saling menautkan fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Di sana, pemerintah, akademisi, dan swasta duduk di meja yang sama sejak tahap perencanaan.

Bandingkan dengan kita. Bandara dibangun lebih dulu, akses jalan menyusul, transportasi publik entah kapan. Fungsi ekonomi baru dipikirkan setelah beton mengeras. Akibatnya, banyak proyek besar berakhir seperti monumen: gagah tapi bisu.

Kertajati adalah simbol dari pembangunan yang kehilangan arah ruang. Ia tidak gagal karena salah desain, tapi karena tak punya ekosistem. Tak ada industri di sekitarnya, tak ada transportasi massal yang mengalirkan manusia, tak ada konektivitas yang membuatnya hidup. Bandara itu sepi bukan karena kurang promosi, melainkan karena dibangun di ruang yang tak siap menampung kehidupan.

Maka, ketika AHY berbicara soal pentingnya “integrasi wilayah”, ia sebetulnya sedang menyentuh akar masalah: pembangunan yang terlepas dari peta manusia. Ia tampaknya sadar bahwa beton tanpa koneksi hanyalah lanskap kosong. Karena itu, gagasannya menjadikan Kertajati sebagai pusat industri dirgantara patut dicatat—setidaknya sebagai usaha memberi napas baru pada bandara yang telanjur berdiri sendirian.

Tapi membangunkan Kertajati tak cukup dengan satu fungsi ekonomi. Ia butuh rencana ekosistem jangka panjang: transportasi massal ke Bandung dan Cirebon, kawasan industri yang hidup, perumahan pekerja, dan pendidikan vokasi penopang. Tanpa itu semua, ia akan tetap menjadi bandara yang indah dilihat dari udara, tapi sunyi di darat.

Pelajaran dari Jepang sederhana: infrastruktur hanyalah wadah, bukan isi. Kota yang baik dibangun bukan dengan menumpuk beton, tapi dengan merajut kehidupan di atasnya.

Membangun kota berarti membangun manusia—keterhubungan, pekerjaan, dan ruang yang membuatnya merasa bagian dari tempat itu. Beton bisa dipasang dalam seminggu, tapi membangun nyawa kota butuh visi lintas generasi. Jepang sudah membuktikan itu.

Indonesia, mungkin, masih belajar.

Kesimpulan Perbandingan

AspekJepangIndonesia (Kertajati)
Titik awal pembangunanInfrastruktur dasar & konektivitasInfrastruktur besar (bandara)
PerencanaanTerintegrasi lintas sektor & jangka panjangParsial & sektoral
Keterlibatan swastaSejak tahap desainSetelah proyek berjalan
Fungsi ekonomiDirancang sejak awalDicari setelah selesai
HasilKota hidup dan efisienInfrastruktur sering underutilized

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KEGAGALAN SKEMA KCJB DAN MATINYA GOVERNANCE

Next Post

Jenderal di Persimpangan Sejarah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak
Feature

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

May 17, 2026
Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa
Feature

Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

May 17, 2026
SuperSense di Indonesia: Ketika Kita Mempercayai Sesuatu yang Tak Terlihat
Feature

SuperSense di Indonesia: Ketika Kita Mempercayai Sesuatu yang Tak Terlihat

May 17, 2026
Next Post
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Jenderal di Persimpangan Sejarah

Masalah  Penjaminan APBN Terhadap Utang proyek KCJB) Presiden Jokowi Minta Ditanyakan ke Menkeu

Multi Kejahatan Jokowi Melalui Whoosh – Alat Kampanye, Lahan Korupsi, dan Beban Bangsa

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

May 17, 2026
Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

May 17, 2026
SuperSense di Indonesia: Ketika Kita Mempercayai Sesuatu yang Tak Terlihat

SuperSense di Indonesia: Ketika Kita Mempercayai Sesuatu yang Tak Terlihat

May 17, 2026
Politik Medsos, “Gemoy,” dan Jebakan Rot Brain

Prabowo & Keledai

May 17, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Prabowo “Menghancurkan Keuangan Negara dan Melemahkan Demokrasi” (Warning The Economist)

May 17, 2026
Apa Kata Roy Suryo Soal Ijazah Jokowi Asli?

Ijazah, Roy Cs, dan Ruang Sidang yang Tak Boleh Menyisakan Tanda Tanya

May 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

May 17, 2026
Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

May 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist