Dalam politik Indonesia, ada satu nama yang selalu muncul di permukaan meski kapal partainya karam berkali-kali: Yusril Ihza Mahendra. Ia ibarat penumpang yang tidak pernah membeli tiket, tapi entah bagaimana selalu berhasil duduk manis di kabin eksekutif. Dari zaman Soeharto hingga sekarang, Yusril tak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin bukan bintang paling terang, tapi ia tahu betul cara bertahan di langit politik: dengan ilmu, kelicinan, dan tentu saja ongkos politik yang nyaris nihil.
Eksis Sejak Orde Baru
Yusril mulai dikenal di penghujung Orde Baru, ketika Soeharto mencari wajah baru untuk merias demokrasi ala dirinya. Dari situlah ia muncul lewat Partai Bulan Bintang, membawa nama besar Masyumi yang sudah lama dilarang. Tapi jangan salah sangka: Yusril bukan pejuang demokrasi, ia lebih tepat disebut pemain baru di panggung lama. Bedanya, ia lebih luwes. Rezim jatuh? Yusril tidak ikut runtuh. Ia justru menjelma menjadi menteri di era setelahnya.
Partai Itu Cuma Alamat
Bagi politisi lain, partai adalah rumah. Bagi Yusril, partai hanyalah alamat sementara—bisa diganti kapan saja, asal surat undangan ke kekuasaan tetap sampai. Partai Bulan Bintang tak lolos Senayan? Tidak masalah. Tinggal balik nama: lahirlah Partai Bintang Bulan. Singkatan mirip, simbol mirip, hanya ganti posisi bintang dan bulan. Kreativitas politik yang unik: ketika partai gagal, bukan ketua yang disalahkan, melainkan lambang yang ditukar.
Bertahan dengan Modal “Omong”
Politisi lain harus bakar uang untuk baliho, konser, hingga sembako. Yusril? Tidak perlu. Ia cukup bicara di televisi, bikin analisis hukum, atau jadi pengacara kasus besar—dan namanya otomatis masuk headline. Ongkosnya? Nyaris nihil. Inilah seni bertahan yang tidak banyak dimiliki politisi lain. Ia tidak perlu mendekati rakyat, cukup mendekati penguasa. Dan itu jauh lebih efisien.
Ilmu untuk Siapa?
Sebagai profesor hukum tata negara, Yusril tahu betul setiap celah konstitusi. Sayangnya, ilmu itu jarang digunakan untuk memperkuat demokrasi atau membela rakyat kecil. Ilmu itu lebih sering jadi alat dagang—siapa yang bayar, siapa yang berkuasa, di situlah Yusril berada. Hukum baginya bukan kitab suci, melainkan kontrak kerja.
Belajar dari Yusril
Apa yang bisa kita pelajari dari Yusril? Bahwa di Indonesia, untuk eksis dalam politik tidak perlu partai besar, tidak perlu massa fanatik, bahkan tidak perlu ongkos besar. Cukup tiga modal: kepandaian bicara, keluwesan bernegosiasi, dan kesetiaan pada penguasa—bukan pada rakyat.
Yusril adalah contoh sempurna politisi yang tidak pernah kalah karena tidak pernah benar-benar bertanding. Partainya jatuh, ia tetap berdiri. Kadernya hilang, ia tetap ada. Sementara rakyat? Ya, mereka tetap hanya jadi penonton.
Penutup
Yusril Ihza Mahendra adalah politisi yang cerdik, licin, dan hemat biaya. Ia eksis sejak Orde Baru, menukar partai sesuka hati, menjual ilmu hukum untuk kepentingannya, dan selalu berhasil masuk lingkar kekuasaan tanpa repot berhadapan dengan rakyat.
Singkatnya: politik versi Yusril adalah seni bertahan hidup dengan modal minim, tapi hasil maksimal.
Sebuah pelajaran, sekaligus peringatan, bahwa demokrasi kita bisa dipermainkan hanya dengan kecerdikan seorang individu yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus pindah alamat.























