Jakarta – Fusilatnews -Bencana banjir yang sangat parah sedang melanda wilayah Jabodetabek, terutama wilayah terdampak yang paling parah yaitu kota Bekasi dari bencana banjir yang terjadi pada awal tahun ini, membuat Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kesedihannya.
Banjir di wilayah Jabodetabek terjadi akibat meluapnya beberapa sungai di Jakarta, seperti Sungai Ciliwung, Krukut dan Pesanggrahan.
Sungai-sungai ini meluap karena limpahan air dari kawasan hulu yang juga mengalami kenaikan karena intensitas hujan tinggi di Jawa Barat, seperti di wilayah Bogor dan Depok.
“Ini banjir ini masalahnya juga ada di kiriman dari hulu, dari hulu. Juga di hilirnya sendiri juga hujan terus ya di daerah kawasan Jabodetabek. Makanya ini harus dikurangi curah hujan, curah hujannya dikurangi,” ungkap Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/3/2025).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat, ada 122 RT dan dua ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir hingga Selasa (4/3/2025) pukul 16.00 WIB. Jumlah ini meluas dibandingkan pada Selasa siang yang saat itu baru 105 RT.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bahkan menyebut wilayah Bekasi lumpuh, usai delapan dari 12 kecamatan di kota tersebut terendam banjir.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengungkapkan, Presiden Prabowo bahkan sampai sedih melihat banyaknya wilayah yang dilanda banjir.
“Tadi Presiden hanya menyampaikan bahwa dia merasa sedih, masih banyak yang terkena banjir,” kata Diana.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan Prabowo telah memonitor banjir yang cukup parah terjadi di kawasan Bekasi.
Presiden Prabowo, kata Hasan, meminta agar banjir di semua daerah segera ditangani.
“Presiden juga bilang tadi bahwa ada beberapa daerah yang sekarang mengalami kebanjiran, dan sudah koordinasi dengan Badan (Nasional) Penanggulangan Bencana untuk segera ditangani,” ujar Hasan.
“Presiden juga mention tadi soal Bekasi dan sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana,” sambungnya.
Curah hujan tinggi Diana menambahkan, banjir di wilayah Jabodetabek bukan terjadi karena adanya tanggul jebol, tetapi karena intensitas hujan yang tinggi.
di Jakarta “Hasil pengamatan kami, itu tidak ada tanggul yang jebol. Tetapi volume intensitas hujan itu memang sangat tinggi sekali. Jadi ini meluap. Makanya kalau saya harus mompa, airnya mau ditaruh di mana?” ujar Diana.
“Ndak, ndak (masalah infrastruktur), enggak ada yang jebol loh ya. Memang curah hujan intensitas sangat tinggi dari kemarin berapa hari. Dan nanti ada pengerukan akan kita lakukan, tapi tidak sekarang,” sambungnya.
Hal senada disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
“Kita tentunya menaruh perhatian khusus kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir di berbagai kota. Di Jabodetabek sendiri,
Bekasi juga cukup parah, dan beberapa wilayah Indonesia lainnya. Tentu ini akibat dari curah hujan yang tinggi, cuaca ekstrem,” ujar AHY.
Sementara Dwikorita meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan bahkan kesiapsiagaan. Intensitas hujan, menurutnya akan menurun hingga 11 Maret 2025, namun pada 11 Maret akan kembali naik. “Kemarin yang tertinggi itu sampai 232 mm dalam 24 jam.
Kami prediksi dalam durasi sampai tanggal 11 itu kita masih perlu waspada, bahkan siaga,” ujar Dwikorita.
Modifikasi cuaca
AHY menambahkan, banjir yang disebabkan oleh bencana hidrometeorologi ini harus diantisipasi bersama. “Karena jangan sampai terjadi korban yang tidak kita harapkan, termasuk tentunya mencegah yang lebih buruk bencana di berbagai daerah,” tuturnya.
Pratikno mengatakan, untuk mengurangi curah hujan diperlukan operasi modifikasi cuaca.
Dia menyebut BNPB dan BMKG saat ini sedang bekerja dalam melakukan modifikasi cuaca.
Dari operasi ini, diharapkan hujan akan dijatuhkan ke laut atau sebelum mencapai ke daratan.
“Jadi oleh karena itu kita melakukan penambahan operasi modifikasi cuaca, itu ditangani oleh BNPB bersama BMKG,” imbuhnya.
Sementara itu, Dwikorita mengatakan, operasi modifikasi cuaca bakal diprioritaskan di Jawa Barat (Jabar) pada Rabu (5/3/2025).
Dwikorita beralasan, Jabar merupakan kawasan hulu yang dapat mengalirkan air menuju wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang berada di area hilir.
“Untuk besok itu prioritas di Jabar karena memang yang paling rentan di Jabar, dan terutama ini di daerah pegunungan di Puncak. Awannya itu dari situ. Nanti bisa jadi sumber banjir untuk ke hilir,” ujar Dwikorita.
“Tidak hanya kena Jabar, tapi juga bisa mengalir ke arah utara, ke DKI ya juga banjir dikhawatirkan bisa begitu, sungai-sungainya kan juga mengalir ke utara,” kata dia. Dwikorita menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan dengan menghalangi awan yang sedang bergerak ke area rawan.
Dia menyebut awan hujan ini harus dijatuhkan sebelum tiba ke area rawan yang tak mampu menampung hujan lagi.
“Jadi dijatuhkannya misalnya masih di laut. Jadi tidak dijatuhkan di darat, nanti banjirin yang di darat. Iya kan? Jadi dijatuhkan di waduk atau di laut. Itu konsepnya seperti itu. Karena kalau di darat nanti banjir di tempat lain,” kata Dwikorita.


























