• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Bencana dan Panggung Depan Metamerfosis

fusilat by fusilat
December 2, 2025
in Birokrasi, Feature, Tokoh/Figur
0
Bencana dan Panggung Depan Metamerfosis
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial, tinggal di Tidore, Maluku Utara

“Post-truth adalah kemewahan metamorfosis dan ganti kulit. Orang cenderung mudah lupa.”


Ancaman Presiden Prabowo Subianto bahwa menteri bisa diganti kapan saja, bagi sebagian publik mungkin terdengar sebagai pesan ketegasan. Tapi di balik meja kabinet, alarm itu bergaung layaknya sirene hutan terbakar: mendesak, memaksa, dan memantik kepanikan.

Tak lama setelah peringatan itu, lanskap digital dipenuhi aksi-aksi yang ganjil. Menteri yang selama ini tak terdengar langkahnya, tiba-tiba berseliweran di For You Page—turun dari mobil dinas, menyapa warga, menggenggam bahu korban, menenteng karung bantuan, hingga berswafoto di lumpur. Dramanya bukan pada kehadiran mereka, melainkan pada waktu kemunculannya: ketika panggung depan terbuka, ketika sorot kamera mengeras, ketika kursi bisa copot.

Di berbagai platform media sosial, metamorfosis itu terlihat telanjang: ganti kulit tanpa ganti isi. Ada yang kikuk. Ada yang overacting. Ada pula yang jatuh ke citra murahan, seperti etalase diskon. Empati jadi kostum. Kepedulian jadi properti. Dan bencana? Ia sekadar latar set.


Ketika banjir bandang memukul Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh dalam beberapa pekan terakhir, panggung itu mencapai puncak dramatiknya. Di tengah luapan air, Zulkifli Hasan, yang rekam jejaknya sempat dikaitkan dengan konsesi hutan di masa menjabat Menteri Kehutanan, terlihat berbaur dengan warga, seolah ia sedang berada di babak baru penebusan dosa. Bukan ia sendiri. Pola serupa berulang.

Tentu, menteri hadir di bencana adalah hal patut. Tapi ketika ketulusan terasa seperti pindahan dari draf ke publikasi, orang sulit menahan sinisme.


Puncak kegelisahan itu datang dari surat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar kepada tiga koleganya: Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq. Surat itu, sebagaimana dikutip berita, mengajak evaluasi total kebijakan pemerintah terkait alam sebagai respons bencana.

Muhaimin bahkan menutupnya dengan metafora religius: “Bahasa NU-nya, Tobat Nasuha.” Ia melanjutkan, “Kiamat bukan sudah dekat. Kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri.”

Kalimat-kalimat itu menggelegar—bukan seperti bunyi moral seorang pejabat, tetapi layaknya ceramah pertobatan seorang tokoh agama di podium masjid raya. Ironisnya, podium itu tak selaras dengan tupoksi dan pengalaman yang ia miliki.


Problemnya bukan pada pesan, tetapi pada otoritas pengucapnya.

Jika moral itu ditujukan pada pejabat setara, ada beberapa prasyarat yang layak disematkan:

  1. Koherensi jabatan. Ia semestinya pernah berada di posisi yang mengawal kebijakan lingkungan—dan berhasil.
  2. Teladan otoritas moral. Jika ingin bicara setara ulama MUI, ia harus mewakili otoritas itu, atau setidaknya dikenal zuhud dan jadi rujukan moral publik.
  3. Relevansi etik. Jika hendak saling menasihati di kabinet, yang paling dekat dengan kapasitas itu justru Menteri Agama, bukan Menko Pemberdayaan Masyarakat.

Tanpa prasyarat itu, seruan pertobatan terasa “garing di kulit, kosong di daging”.

Bandingkan dengan Mahfud MD. Saat menyoal kinerja Polri atau Menkopolhukam setelah lengser, Mahfud berbicara dari rekam jejak jabatan yang sama—ada koherensi, ada bobot, ada hak etik. Dan ketika ditawari kursi kekuasaan baru, ia menolak. Rival yang kalah, katanya, tak pantas lompat ke pelukan kuasa.

Integritas itu bukan pencitraan, karena ia ditopang oleh standar etika personal dan kelembagaan yang konsisten.

Muhaimin memilih jalan berbeda. Kasus “kardus durian” yang pernah melekat, belum lagi keputusan bergabung paling awal sebagai paslon rival yang bersedia menjabat menteri—bahkan untuk dirinya sendiri, bukan untuk kader partainya—membuat publik makin mudah membaca motif: politik oli, bukan politik nurani.


Post-Truth dan Ekonomi Lupa

Era ini tak kaya dengan kebijaksanaan, melainkan kaya dengan reset ingatan massal. Apa yang kemarin dinilai buruk, hari ini bisa dipuja. Yang dulu dijunjung, hari ini bisa dihujat. Informasi mengendap tanpa verifikasi, berlapis tanpa kontemplasi. Pengetahuan kognitif beredar deras, tapi miskin kritisisme.

Di post-truth, kulit bisa diganti, rekam jejak bisa diputihkan, bahkan malu bisa diprivatkan.

Di era ini, pencitraan adalah komoditas paling mewah sekaligus paling rapuh. Ia bukan tentang siapa yang paling bekerja, tapi tentang siapa yang paling terlihat bekerja. Bencana tak lagi dihadapi sebagai tragedi kolektif, melainkan dipakai sebagai panggung transformasi naratif.

Dan di tengah karnaval itu, publik jadi penonton yang membayar dengan ingatan: kita lupa begitu cepat, kita memuja begitu ringkas.


Jangan-jangan setahun lagi, sejarah pun bisa mengalami metamerfosis. Mantan Presiden Jokowi, yang hari ini masih jadi perdebatan, bisa dengan mudah dipanggungkan ulang sebagai figur suci, “teladan negeri”, atau bahkan—jika panggung menghendaki—“ahli surga.”

Politik panggung depan selalu punya kemampuan mengubah yang abu-abu jadi emas, dan yang emas jadi rumor.


Penutup:
Di republik yang lembek ingatan, yang perlu diawaspadai bukan hanya bencana alam, melainkan bencana lupa—karena ia membuat kita gagal membedakan antara ulat yang tumbuh jadi kupu-kupu, dengan ular yang sekadar berganti kulit.

Wallahua’lam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Visa Makin Mahal, Mimpi ke Jepang Makin Jauh: Ketika Administrasi Jadi Tembok Baru bagi Warga Asing

Next Post

8 Tersangka Dicekal karena Bongkar Dugaan Ijazah Palsu Jokowi: Kepastian Hukum Dikorbankan?

fusilat

fusilat

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI
Feature

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu
Feature

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026
Next Post

8 Tersangka Dicekal karena Bongkar Dugaan Ijazah Palsu Jokowi: Kepastian Hukum Dikorbankan?

BULOG Sumatra Utara Pastikan Stok Pangan di Gudang Sarudik Aman di Tengah Ketegangan Pascabanjir Sibolga-Tapteng

Indonesia Bukan Kekurangan Beras. Indonesia Kekurangan Kesiapan. BENCANA ALAM: JANGAN SAMPAI TERJADI KRISIS KEMANUSIAAN!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

April 13, 2026
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

April 13, 2026
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

April 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist