Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – KH Ma’ruf Amin ternyata masih cukup bertuah. Betapa tidak? Buktinya, dua kubu yang berseteru di Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) kini sedang berebut pengaruh Kiai Ma’ruf.
Maklum, selain Wakil Presiden ke-13 RI, Kiai Ma’ruf adalah Mustasyar dan mantan Rais Aam PBNU. Pun, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Tidak itu saja. Kiai Ma’ruf adalah buyut dari Syech Nawawi al-Bantani, kiai berkaliber internasional yang lama tinggal di Mekkah, Arab Saudi yang kitab-kitab gubahannya jadi rujukan kiai sedunia. Kiai kelahiran Tangerang, Banten ini juga lulusan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tempat kelahiran pendiri NU Hadratussyech KH Hasyim Asyari, kakek Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid.
Kiai Ma’ruf juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) dan pernah pula menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di awal era Reformasi, setelah cukup lama menjadi politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di era Orde Baru.
Alhasil, wajar jika Kiai Ma’ruf masih cukup bertuah dan menjadi rebutan dua kubu yang sedang bertikai di PBNU.
Dalam konflik internal PBNU yang melibatkan Rais Aam KH Miftachul Akhyar di satu kubu dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di kubu lain, Kiai Ma’ruf dikonotasikan berpihak kepada Gus Yahya. Pasalnya, ia tidak setuju terhadap pemecatan kakak kandung mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut itu oleh Kiai Miftachul Akhyar.
Lalu, kubu Kiai Miftach pun mencoba merebut dukungan Kiai Ma’ruf dengan mengangkat KH Zulfa Mustofa, keponakan Kiai Ma’ruf menjadi Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU menggantikan Gus Yahya. Zulfa sebelumnya Wakil Ketua Umum PBNU.
Namun, keluarga Kiai Ma’ruf membantah klaim Zulfa yang menyebut dirinya direstui kiai yang pernah menjadi wapres itu.
Menurut keluarga Kiai Ma’ruf, ayahandanya itu seorang yang taat asas, dan menganggap pemecatan Gus Yahya tidak sah, karena tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
Kiai Ma’ruf Seorang Politikus
Keluarga Kiai Ma’ruf agaknya alpa bahwa ayahandanya itu juga seorang politikus. Sebab itu, sepak terjangnya tak dapat dilepaskan dari politik.
Ya, sebagai seorang politikus, naluri politik Kiai Ma’ruf tak bisa dipadamkan begitu saja. Nyaris dapat dipastikan ia sedang menempuh siasat politik tertentu untuk mencapai tujuan politik tertentu. Misalnya mempertahankan posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Siasat politik tertentu itu pernah ditempuh Kiai Ma’ruf saat menjadi Ketua Umum MUI. Saat itu Kiai Ma’ruf banyak melancarkan serangan politik kepada Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta dan terlibat kasus penodaan agama.
Saat itu sosok yang akrab disapa Ahok tersebut digadang-gadang sebagai salah satu calon wakil presiden bagi Presiden Joko Widodo di Pemilihan Presiden 2019 di samping Mahfud Md.
Di menit-menit terakhir, Kiai Ma’ruf muncul sebagai kuda hitam yang menyalip Mahfud sebagai cawapres bagi Jokowi yang saat itu diusung PDI Perjuangan. Langkah PDIP menggandeng Kiai Ma’ruf ini tak lepas dari strategi untuk meredam suara-suara anti-Ahok yang tidak menguntungkan bagi PDIP maupun Jokowi. Akhirnya Kiai Ma’ruf terpilih bersama Jokowi sebagai wapres dan presiden untuk periode 2019-2024.
Betapa jitunya strategi politik Kiai Ma’ruf. Sun Tzu (544-496 SM) berkata, strategi adalah senjata utama dalam perang. Mungkin karena itulah tuah Kiai Ma’ruf kini diperebutkan oleh dua kubu yang sedang bertikai di PBNU.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















