Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Cuma politik yang bisa menceraikan atau menyatukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Tak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan.
Lawan dari lawan adalah kawan. Bersatu karena ada musuh bersama atau “common enemy”.
Demikianlah. Lihat saja apa yang terjadi dalam proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di DKI Jakarta. Ternyata para pendukung Anies Baswedan, yang dikenal dengan sebutan Anak Abah, bersatu dengan para pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang dikenal dengan sebutan Ahokers. Padahal sebelumnya mereka berseteru. Kini mereka bersatu karena ada musuh bersama: RIDO, sang boneka oligarki!
Ya, kedua pihak yang selama ini berseteru kini bersatu untuk bersama-sama mendukung Pramono Anung-Rano Karno, calon gubernur-wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan di Pilkada Jakarta 2024. Lalu, apa faktor pemicunya?
Pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, Anak Abah berseteru secara sengit dengan Ahokers demi mendukung jagoan masing-masing, yakni petahana calon gubernur Ahok yang berpasangan dengan cawagub Djarot Saiful Hidayat, melawan penantangnya, Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno. Anies-Sandi menang, Anak Abah pun menang!
Perseteruan Anak Abah versus Ahokers berlanjut ke Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, di mana Anak Abah mendukung calon presiden Prabowo Subianto yang berpasangan dengan cawapres Sandiaga Uno, sedangkan Ahokoers mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Jokowi-Ma’ruf menang, Ahokers pun menang!
Perseteruan terus berlanjut hingga ke Pilpres 2024, di mana Anak Abah mendukung Anies Baswedan yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar sebagai capres-cawapres yang diusung Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tergabung dalam Koalisi Perubahan. Sedangkan Ahokers mendukung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud Md yang diusung PDI Perjuangan, partai tempat bernaung Ahok sekarang, bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kedua pasangan itu sama-sama kalah melawan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM), yakni Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat. Anak Abah dan Ahokers pun sama-sama kalah.
Gibran adalah putra sulung Presiden ke-7 RI Joko “Mulyono” Widodo.
Nah, salah satu loyalis Anies atau Anak Abah yang suka menyerang Ahokers adalah Geisz Chalifah. Ironisnya, pria berkepala pelontos itu terlihat duduk di jajaran para pendukung Pramono Anung-Rano Karno dalam debat ketiga cagub-cawagub di Pilkada DKI Jakarta 2024 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Minggu (17/11/2024).
Selain Geisz, Sahrin Hamid, Juru Bicara Anies Baswedan juga terlihat duduk di jajaran para pendukung Mas Pram-Bang Doel dalam acara debat terbuka itu.
Dua hari sebelumnya, Jumat (15/11/2024), Anies bertemu Mas Pram-Bang Doel di kediaman Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Anies kemudian mengunggah momentum pertemuannya dengan Mas Pram-Bang Doel itu di akun media sosialnya.
Usai pertemuan, Sahrin Hamid menegaskan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mendukung Mas Pram-Bang Doel di Pilkada DKI Jakarta 2024. Maka kurang eksplisit apa lagi ihwal dukungan Anies kepada Mas Pram-Bang Doel dalam Pilkada yang akan digelar pada 27 November mendatang?
Bahkan dukungan itu cukup konkret. Menurut Sahrin Hamid, pihaknya akan mengumpulkan 15 ribu orang Anak Abah untuk diterjunkan sebagai saksi di TPS-TPS di seluruh Ibu Kota dalam pemungutan suara.
Faktor Pemicu
Hasil survei berbagai lembaga menunjukkan, dukungan Anak Abah di Pilkada DKI Jakarta 2024 terpecah antara ke Mas Pram-Bang Doel, dan ke Ridwan Kamil-Suswono atau RIDO yang diusung KIM Plus, koalisi yang terdiri atas KIM plus Koalisi Perubahan.
Anak Abah yang tidak masuk struktur partai KIM Plus atau non-struktural diprediksi mendukung Mas Pram-Bang Doel. Sedangkan para pengurus partai atau struktural mendukung RIDO. Praktis, jumlahnya lebih banyak yang mendukung Mas Pram-Bang Doel daripada yang mendukung RIDO.
Kini, ketika Anies sudah menambatkan perahu dukungannya kepada Mas Pram-Bang Doel, diyakini akan lebih banyak lagi Anak Abah yang mendukung pasangan calon dari PDIP itu.
Mengapa Abah Anies dan Anak Abah mau bersatu dengan Ahokers mendukung Mas Pram-Bang Doel?
Kedua pihak punya kepentingan yang sama dan musuh bersama: menumbangkan RIDO, yang diasumsikan sebagai boneka oligarki.
Jika mendukung pasangan dari jalur independen, Dharma Pongrekun-Kun Wardhana maka tidak akan cukup kuat menumbangkan RIDO.
Mengapa RIDO harus ditumbangkan oleh Abah Anies dan Anak Abah?
Pertama, mereka kecewa karena PKB dan Nasdem, utamanya PKS, batal mengusung Anies di Pilkada DKI Jakarta 2024 sehingga mantan Rektor Universitas Paramadina itu gagal beroleh tiket cagub.
Kedua, pasangan RIDO mereka anggap hanya kepanjangan tangan atau bahkan sekadar boneka dari Prabowo-Gibran yang bersama Jokowi mereka yakini membentuk oligarki bersama KIM Plus dan telah menjegal Anies sehingga Abah tak cukup dukungan untuk meraih tiket cagub di Pilkada DKI Jakarta 2024.
Lalu, bagaimana peluang menang Mas Pram-Bang Doel dan RIDO?
Dalam dua kali Pilkada DKI Jakarta terjadi anomali, yakni paslon yang diusung mayoritas partai justru kalah.
Hal itu terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 di mana Jokowi-Ahok yang hanya diusung PDIP dan Partai Gerindra menang melawan petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang diusung banyak partai, dan juga di Pilkada DKI Jakarta 2017 di mana Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung minoritas partai berhasil menumbangkan petahana Ahok-Djarot meskipun saat itu terjadi peristiwa luar biasa atau “force majeur” di mana Ahok divonis bersalah dalam kasus penistaan agama (Islam).
Kini, ketika Anak Abah dan Ahokers sudah bersatu, apakah mereka akan mampu menumbangkan RIDO dan memenangkan Mas Pram-Bang Doel?
Kita tunggu saja tanggal mainnya!
























