Washington DC, Fusilatnews.com – Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), menyerukan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump menyusul serangan militer yang dilancarkan AS terhadap Iran pada Jumat malam, 21 Juni 2025 waktu setempat.
Dalam pernyataan yang dirilis di akun media sosialnya, AOC menegaskan bahwa keputusan Trump untuk menyerang fasilitas nuklir Iran tanpa persetujuan Kongres adalah pelanggaran berat terhadap Konstitusi AS. “Tindakan Presiden untuk membom Iran tanpa otorisasi adalah pelanggaran serius terhadap Konstitusi dan kekuasaan perang yang dipegang oleh Kongres. Ini adalah alasan yang sah dan jelas untuk pemakzulan,” tulis AOC.
Serangan Tanpa Persetujuan Kongres
Serangan yang disebut sebagai Operation Midnight Hammer itu menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Pentagon mengonfirmasi bahwa puluhan rudal Tomahawk dan pesawat pembom siluman B-2 digunakan dalam serangan tersebut, yang disebut sebagai respons terhadap ancaman pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Namun, keputusan Trump untuk meluncurkan serangan tanpa konsultasi atau persetujuan legislatif memicu kritik tajam dari banyak anggota Kongres, khususnya dari kubu Demokrat.
Reaksi Terbelah di Kongres
Sejumlah tokoh Demokrat progresif seperti Senator Bernie Sanders, Ro Khanna, dan Rashida Tlaib turut mengecam tindakan Trump, dan mendukung seruan AOC untuk memulai proses pemakzulan.
“Ini bukan hanya masalah hukum, tetapi juga soal demokrasi dan pencegahan penyalahgunaan kekuasaan eksekutif,” ujar Ro Khanna dalam konferensi pers di Capitol Hill.
Sementara itu, Partai Republik menunjukkan dukungan penuh kepada Trump. Senator Lindsey Graham dan Ted Cruz memuji keputusan presiden sebagai langkah tegas dalam menghadapi “ancaman eksistensial” dari Iran.
Namun di antara kedua kutub tersebut, muncul suara moderat yang meminta agar War Powers Act ditegakkan. Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyebut bahwa tindakan Trump “tidak sah” dan “berbahaya bagi tatanan hukum federal”.
Jalan Panjang Pemakzulan
Seruan pemakzulan oleh AOC menambah daftar panjang ketegangan politik di AS menjelang pemilu presiden 2028. Namun, peluang untuk memakzulkan Trump diperkirakan sulit. Meski DPR dikuasai oleh Demokrat, Senat masih dikendalikan oleh mayoritas Republik yang cenderung membela presiden.
Sejumlah analis politik menyebut bahwa serangan ke Iran dapat menjadi momen kritis dalam membangkitkan kembali perdebatan tentang pembatasan kekuasaan presiden dalam urusan militer, seraya mempertanyakan apakah Trump kembali mengabaikan prinsip-prinsip dasar demokrasi demi kepentingan politik luar negeri.
Seruan AOC: Simbol Perlawanan Konstitusional
AOC dikenal sebagai figur vokal di kalangan Demokrat progresif, dan sering menjadi suara penyeimbang terhadap dominasi kekuasaan eksekutif. Dalam pidato terbarunya, ia menegaskan bahwa tidak ada presiden—siapa pun orangnya—yang boleh bertindak sepihak dalam keputusan perang tanpa mandat rakyat melalui Kongres.
“Jika kita membiarkan ini berlalu begitu saja, kita mengundang kehancuran demokrasi konstitusional kita,” tegas AOC.
Washington DC, Fusilatnews.com – Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), menyerukan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump menyusul serangan militer yang dilancarkan AS terhadap Iran pada Jumat malam, 21 Juni 2025 waktu setempat.
Dalam pernyataan yang dirilis di akun media sosialnya, AOC menegaskan bahwa keputusan Trump untuk menyerang fasilitas nuklir Iran tanpa persetujuan Kongres adalah pelanggaran berat terhadap Konstitusi AS. “Tindakan Presiden untuk membom Iran tanpa otorisasi adalah pelanggaran serius terhadap Konstitusi dan kekuasaan perang yang dipegang oleh Kongres. Ini adalah alasan yang sah dan jelas untuk pemakzulan,” tulis AOC.
Serangan Tanpa Persetujuan Kongres
Serangan yang disebut sebagai Operation Midnight Hammer itu menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Pentagon mengonfirmasi bahwa puluhan rudal Tomahawk dan pesawat pembom siluman B-2 digunakan dalam serangan tersebut, yang disebut sebagai respons terhadap ancaman pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Namun, keputusan Trump untuk meluncurkan serangan tanpa konsultasi atau persetujuan legislatif memicu kritik tajam dari banyak anggota Kongres, khususnya dari kubu Demokrat.
Reaksi Terbelah di Kongres
Sejumlah tokoh Demokrat progresif seperti Senator Bernie Sanders, Ro Khanna, dan Rashida Tlaib turut mengecam tindakan Trump, dan mendukung seruan AOC untuk memulai proses pemakzulan.
“Ini bukan hanya masalah hukum, tetapi juga soal demokrasi dan pencegahan penyalahgunaan kekuasaan eksekutif,” ujar Ro Khanna dalam konferensi pers di Capitol Hill.
Sementara itu, Partai Republik menunjukkan dukungan penuh kepada Trump. Senator Lindsey Graham dan Ted Cruz memuji keputusan presiden sebagai langkah tegas dalam menghadapi “ancaman eksistensial” dari Iran.
Namun di antara kedua kutub tersebut, muncul suara moderat yang meminta agar War Powers Act ditegakkan. Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyebut bahwa tindakan Trump “tidak sah” dan “berbahaya bagi tatanan hukum federal”.
Jalan Panjang Pemakzulan
Seruan pemakzulan oleh AOC menambah daftar panjang ketegangan politik di AS menjelang pemilu presiden 2028. Namun, peluang untuk memakzulkan Trump diperkirakan sulit. Meski DPR dikuasai oleh Demokrat, Senat masih dikendalikan oleh mayoritas Republik yang cenderung membela presiden.
Sejumlah analis politik menyebut bahwa serangan ke Iran dapat menjadi momen kritis dalam membangkitkan kembali perdebatan tentang pembatasan kekuasaan presiden dalam urusan militer, seraya mempertanyakan apakah Trump kembali mengabaikan prinsip-prinsip dasar demokrasi demi kepentingan politik luar negeri.
Seruan AOC: Simbol Perlawanan Konstitusional
AOC dikenal sebagai figur vokal di kalangan Demokrat progresif, dan sering menjadi suara penyeimbang terhadap dominasi kekuasaan eksekutif. Dalam pidato terbarunya, ia menegaskan bahwa tidak ada presiden—siapa pun orangnya—yang boleh bertindak sepihak dalam keputusan perang tanpa mandat rakyat melalui Kongres.
“Jika kita membiarkan ini berlalu begitu saja, kita mengundang kehancuran demokrasi konstitusional kita,” tegas AOC.
























