Moskow–Washington, 23 Juni 2025 — Ketegangan global meningkat tajam setelah Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa sejumlah negara siap mentransfer senjata nuklir ke Iran, jika Republik Islam itu merasa terancam secara eksistensial. Pernyataan Medvedev disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara ke beberapa fasilitas nuklir utama Iran.
“Jika eksistensi Iran benar-benar terancam, maka tidak diragukan lagi akan ada negara-negara yang siap memberikan bantuan, termasuk dalam bentuk senjata nuklir. Dunia harus bersiap menghadapi konsekuensinya,” ujar Medvedev dalam pernyataan resmi di Moskow, Sabtu malam (22/6).
Meski tidak menyebutkan negara mana yang dimaksud, pernyataan Medvedev diyakini menyasar aliansi geopolitik yang bersimpati terhadap Iran dan menentang hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia juga memperingatkan bahwa tindakan sepihak AS terhadap Iran dapat memicu “runtuhnya tatanan global” dan mempercepat “balapan nuklir” di kawasan.
Tak lama sebelumnya, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara AS telah menyerang tiga situs nuklir strategis Iran—yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan—dengan dalih mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Dalam pidatonya dari Gedung Putih, Trump menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan defensif yang diperlukan demi keamanan global.”
“Iran telah melanggar semua peringatan. Serangan ini adalah langkah awal. Bila mereka nekat membalas, maka respons kami akan jauh lebih mematikan,” ujar Trump, Sabtu malam waktu Washington. “Amerika tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir—tidak sekarang, tidak pernah.”
Trump, yang resmi menjabat kembali sebagai Presiden AS sejak 20 Januari 2025, juga menambahkan bahwa serangan itu telah berhasil “secara akurat melumpuhkan kemampuan pengayaan uranium Iran.” Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Iran, Rusia, dan sejumlah negara di Timur Tengah.
Presiden Iran Ebrahim Raisi menuduh AS melakukan “agresi terang-terangan” dan menyebut tindakan Trump sebagai “deklarasi perang.” Ia berjanji akan memberikan “respons yang setimpal dan tak terduga.”
Sementara itu, Uni Eropa dan PBB menyerukan de-eskalasi. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa situasi ini “sangat berbahaya” dan mendesak semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi.
Analis hubungan internasional memperingatkan bahwa pernyataan Medvedev, jika dikaitkan dengan peningkatan dukungan Rusia terhadap Iran, dapat memicu fase baru Perang Dingin dan menyulut perlombaan senjata di kawasan yang telah rapuh oleh konflik proksi.






















