*—sebuah renungan tentang cinta, keberlangsungan, dan batas kepemilikan—
Bunga. Kita diajari sejak kecil bahwa ia adalah lambang keindahan, simbol cinta, tanda kasih. Tapi tak banyak yang menyadari bahwa sekuntum bunga sejatinya adalah kelamin. Ia bukan sekadar hiasan taman atau pelipur lara di dalam vas. Ia adalah rahim dan benih, tempat awal kehidupan tumbuh dalam senyap.
Di balik mahkota yang memesona, tersembunyi hasrat sunyi tumbuhan untuk lestari. Putik menanti benang sari dalam sabar yang anggun. Tak ada gembar-gembor. Tak ada rayuan kasar. Alam bekerja dengan ketertiban yang penuh hormat. Dan seekor kumbang pun datang, bukan sebagai pencuri, melainkan sebagai utusan. Ia tak mengambil apa-apa, hanya menyentuh dengan lembut, lalu pergi dengan upah setetes madu—cukup untuk melanjutkan perjalanan hidupnya, dan cukup bagi bunga untuk mulai membentuk buah.
Bunga tidak pernah meminta untuk dipetik. Ia mekar bukan untuk menjadi milik siapa pun. Ia hadir untuk merayakan kehidupan dan memperpanjangnya. Tetapi manusia, sering kali, tidak tahan dengan keindahan yang tak bisa dimiliki. Maka tangan pun menjulur, memetik tanpa permisi, merenggut tanpa pengertian. Dan dalam satu helaan nafsu, putuslah seluruh kemungkinan bagi bunga itu untuk melahirkan masa depan.
Kita sering menyebut cinta sebagai bunga yang mekar. Tapi kita lupa bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki. Ia tentang merawat jarak, menghormati bentuk, dan membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri. Maka bila kau melihat sekuntum bunga yang indah, pandangilah dengan kasih, bukan dengan keinginan. Biarkan ia tetap di sana, bernafas dalam kesendiriannya yang subur, menjadi bagian dari simfoni semesta.
Karena bunga itu kelamin—ia suci, ia mengandung kehidupan, ia tak boleh dijadikan barang. Dan siapa pun yang memetiknya tanpa kesadaran, telah merampas lebih dari sekadar kelopak. Ia merusak perjanjian alam, mencederai harmoni, dan—barangkali tanpa sadar—menjadi perusak kesucian antar-makhluk.
Bunga itu kelamin. Maka belajarlah menghormatinya, seperti kau menghormati asal-usulmu sendiri.






















