• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral

fusilat by fusilat
January 9, 2026
in Birokrasi, Feature, Pendidikan
0
Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Wilson Lalengke

Jakarta – Sebagai seorang lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, juga berkecimpung di lembaga pendidikan selama puluhan tahun sebagai guru, serta sebagai salah satu pendiri SMA Plus Provinsi Riau dan SMK Kansai Pekanbaru, saya merasa terhinakan oleh kasus-kasus pemalsuan ijazah yang masif ditemukan di negeri ini. Lebih dipermalukan lagi, ketika saya melihat gelagat pemilik ijazah UGM yang hampir dipastikan palsu menolak hadir di persidangan Class-action Lawsuit (CLS) yang digelar di PN Surakarta.

Perlu dipahami bahwa CLS merupakan gugatan sekelompok orang (biasayanya minimal 20 orang) yang merasa dirugikan oleh perbuatan seseorang atau pihak tertentu. Artinya, gugatan CLS atas dugaan ijazah palsu mantan presiden Joko Widodo merupakan gugatan dari rakyat Indonesia, yang merupakan pemegang kedaulatan di negara ini, yang dirugikan atas perilaku melawan hukum dari pelaku. Semestinya, Jokowi menghormati para penggugat yang mewakili suara rakyat dengan menghadiri persidangan dan memenuhi permintaan para penggungat: menunjukkan ijazah aslinya.

Kasus dugaan ijazah palsu bekas presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah menimbulkan kehebohan besar di ruang publik. Namun, di tengah hiruk-pikuk perdebatan masyarakat, satu hal yang terasa janggal adalah bungkamnya kalangan pendidik di Indonesia. Organisasi guru, dosen, ikatan alumni sekolah/kampus, asosiasi profesi berbasis keilmuan, hingga pemerhati pendidikan, seolah memilih diam seribu bahasa. Padahal isu ini berkaitan langsung dengan kredibilitas dunia pendidikan yang selama ini mereka perjuangkan dengan susah payah.

Lebih mengejutkan lagi, ada mantan ketua umum sebuah organisasi guru yang justru tampil aktif di media sosial membela dugaan pemalsuan ijazah yang dialamatkan kepada Jokowi. Sikap ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kalangan yang seharusnya paling vokal dalam menjaga integritas pendidikan justru memilih bungkam, bahkan ada yang membela?

Bukankah ini sebuah ketidakadilan yang nyata? Jutaan pelajar dan mahasiswa di Indonesia berjuang dengan darah, peluh, dan air mata untuk mendapatkan ijazah mereka. Mereka menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan, melewati ujian demi ujian, dan menanggung beban biaya yang tidak ringan. Namun, di sisi lain, ada orang yang diduga tidak menempuh proses pendidikan sebagaimana mestinya, tetapi bisa memiliki ijazah secara ilegal dan bahkan menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan.

Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga penghinaan terhadap martabat jutaan alumni yang memperoleh ijazah dengan cara yang benar, jujur, dan bermartabat. Ketika seseorang bisa “main curang” dalam mendapatkan ijazah, maka sejatinya ia sedang merendahkan perjuangan seluruh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam pendidikan.

Mengapa kalangan pendidik memilih diam? Jawabannya mungkin terletak pada kenyataan pahit bahwa praktik pemalsuan dokumen pendidikan sudah menjadi hal lumrah di Indonesia. Dari tingkat paling rendah seperti TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, praktik manipulasi dokumen seperti ijazah, rapor, absensi, surat keterangan, bahkan dokumen resmi di kementerian dan lembaga pendidikan berbasis agama, sudah sering terjadi.

Moralitas para pengelola lembaga pendidikan di negeri ini telah tergerus ke titik terendah. Budaya memalsukan dokumen pendidikan dengan berbagai dalih dan kepentingan berlangsung secara masif dan memalukan. Akibatnya, kasus ijazah palsu Jokowi dianggap bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan sekadar bagian dari praktik yang sudah dinormalisasi.

Padahal, hakekat memiliki ijazah bukan sekadar soal kegunaan praktis dalam dunia kerja. Ijazah adalah simbol perjuangan, sebuah kebanggaan yang lahir dari pengorbanan panjang. Walaupun pada akhirnya ijazah itu mungkin tidak terpakai dalam kehidupan sehari-hari, keberadaannya tetap menjadi bukti integritas dan kerja keras.

Ijazah yang diperoleh dengan cara instan, curang, atau tidak beradab, sejatinya adalah bentuk pembodohan dan pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Ia merusak makna pendidikan sebagai proses pembentukan karakter, bukan sekadar formalitas administratif.

Pengawasan lembaga pendidikan di Indonesia bukan hanya lemah, tetapi bahkan terkesan berubah fungsi. Alih-alih menjadi penjaga integritas, banyak lembaga pengawas justru berperan sebagai unit legitimasi atas kejahatan pemalsuan ijazah. Akibatnya, perilaku memalsukan dokumen pendidikan menjadi sesuatu yang dinormalkan.

Dalam konteks ini, kasus ijazah Jokowi dianggap tidak perlu direspons serius oleh kalangan pendidik. Guru, dosen, kepala sekolah, dekan, rektor, pimpinan yayasan pendidikan, pengawas pendidikan, hingga organisasi guru seperti PGRI dan IGI, memilih diam. Keheningan ini adalah indikasi kuat bahwa moralitas kalangan pengelola pendidikan sedang berada di titik nadir, nyaris tidak bisa diperbaiki.

Diamnya kalangan pendidik atas kasus ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami krisis moral akut tingkat dewa. Ketika integritas pendidikan tidak lagi dijunjung tinggi, maka pendidikan kehilangan makna sejatinya. Ia tidak lagi menjadi proses pembentukan manusia berkarakter, melainkan sekadar jalur administratif untuk memperoleh status sosial.

Krisis moral ini berbahaya karena merusak fondasi bangsa. Pendidikan adalah pilar utama dalam membentuk generasi masa depan. Jika pilar ini rapuh, maka masa depan bangsa pun terancam runtuh.

Di tengah keheningan kalangan pendidik, harapan terakhir justru terletak pada mahasiswa. Mereka adalah generasi yang saat ini sedang merasakan pahit getirnya berkuliah, didukung oleh peluh dan air mata orang tua di kampung-kampung.

Mahasiswa harus menyadari bahwa kasus ijazah palsu bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman terhadap masa depan mereka sendiri. Jika moral dan nurani mahasiswa tidak terusik oleh kasus ini, maka mereka berisiko menjadi korban berikutnya. Mereka akan dipimpin oleh orang-orang yang memperoleh ijazah palsu, yang tidak pernah merasakan perjuangan sejati dalam dunia pendidikan.

Sebagai sindiran, muncul istilah “Universitas Pasar Pramuka” yang konon dipimpin oleh Prof. Pair Man bersama rektornya Prof. Pratek No. Istilah ini menggambarkan betapa ijazah palsu telah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan layaknya barang dagangan di pasar.

Fenomena ini adalah tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Ketika ijazah bisa diperoleh dengan cara membeli, maka pendidikan kehilangan makna sebagai proses pembentukan manusia. Ia berubah menjadi sekadar transaksi ekonomi yang merusak nilai-nilai luhur bangsa.

Kasus ijazah palsu Jokowi dan bungkamnya kalangan pendidik adalah cermin dari krisis moral dunia pendidikan Indonesia. Keheningan ini menunjukkan bahwa praktik pemalsuan dokumen pendidikan telah mengakar dan dinormalisasi.

Ijazah sejatinya adalah simbol perjuangan, kebanggaan, dan integritas. Ketika ijazah diperoleh dengan cara curang, maka ia merusak martabat jutaan alumni yang berjuang dengan jujur.

Harapan kini terletak pada mahasiswa, generasi yang sedang menempuh pendidikan dengan penuh pengorbanan. Mereka harus berani bersuara, menjaga integritas, dan menolak budaya pemalsuan. Jika tidak, masa depan bangsa akan dipimpin oleh para pemilik ijazah palsu, dan dunia pendidikan Indonesia akan semakin miskin moral. (*)

Penulis adalah guru mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, alumni pasca sarjana bidang Etika Global dan Etika Terapan dari tiga universitas terkemuka di Eropa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PERDA KEMANDIRIAN PANGAN: ANTARA VISI MULIA DAN JEBAKAN ILUSI

Next Post

MENGEMBALIKAN SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA SESUAI PEMBUKAAN UUD 1945

fusilat

fusilat

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Next Post
MENGEMBALIKAN SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA SESUAI PEMBUKAAN UUD 1945

MENGEMBALIKAN SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA SESUAI PEMBUKAAN UUD 1945

KEPASTIAN HUKUM, KEADILAN EPISTEMIK, DAN KRISIS KEPERCAYAAN PUBLIK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist