• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

PERDA KEMANDIRIAN PANGAN: ANTARA VISI MULIA DAN JEBAKAN ILUSI

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
January 9, 2026
in Economy, Feature
0
Perekonomian Semakin Memburuk ,  Gula Mendekati Rp 20.000 Harga Sembako Lainnya Ikutan Melonjak
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Sekitar 14 tahun lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Kemandirian Pangan Daerah. Perda ini tergolong berani, bahkan progresif. Pada saat yang sama, Pemerintah Pusat justru belum berani menggunakan istilah kemandirian pangan dalam regulasi resminya, dan lebih memilih istilah ketahanan pangan.

Sejak tahap perumusan Naskah Akademik, muncul pertanyaan mendasar: apakah penggunaan istilah kemandirian pangan tidak terlalu ambisius? Apakah tidak lebih realistis jika menggunakan istilah ketahanan pangan saja? Jangan-jangan Perda ini sekadar menjadi dokumen normatif yang indah di atas kertas—ibarat “mengecat langit”. Hingga Perda tersebut ditetapkan, perdebatan ini sesungguhnya belum pernah terjawab secara tuntas.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan memberikan definisi yang sangat tegas. Kemandirian pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beragam dari dalam negeri, untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pangan hingga tingkat perseorangan, dengan memanfaatkan sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, serta kearifan lokal secara bermartabat.

Inti dari pengertian tersebut jelas: kemampuan memproduksi pangan dari dalam negeri, oleh petani Indonesia sendiri. Dengan kata lain, kemandirian pangan hanya mungkin terwujud apabila swasembada pangan berhasil dicapai, sekaligus ketergantungan terhadap impor dapat diakhiri. Di sinilah letak hubungan kunci antara swasembada dan kemandirian pangan.

Pertanyaannya kemudian: apakah saat ini bangsa kita—khususnya Jawa Barat—telah mencapai swasembada pangan? Jawabannya tegas: belum. Swasembada pangan masih terus diperjuangkan, terbukti dari masih tingginya impor berbagai komoditas strategis. Keberhasilan swasembada beras seharusnya menjadi pemicu lahirnya swasembada komoditas pangan lainnya.

Sesungguhnya, tekad menuju swasembada telah lama dikumandangkan. Swasembada jagung, kedelai, daging sapi, gula, bawang putih, cabai, dan komoditas lainnya selalu menjadi janji politik setiap pemerintahan. Namun jika dicermati lebih dalam, kemauan politik tersebut kerap tidak diikuti oleh langkah kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Akibatnya, bangsa ini terus terjebak dalam persoalan struktural yang tak kunjung selesai.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini kembali menunjukkan keberpihakan kuat terhadap sektor pertanian. Setelah keberhasilan swasembada beras, muncul keseriusan untuk mengejar swasembada jagung dan kedelai. Namun pertanyaan klasik kembali mengemuka: mengapa swasembada jagung dan kedelai terasa begitu sulit diraih?

Sebelumnya, Pemerintah mengusung jargon Swasembada PAJALE (Padi, Jagung, dan Kedelai). Anggaran negara dikucurkan tidak sedikit, regulasi dan tata kelola pertanian diperbaiki, serta kampanye swasembada digelorakan dari pusat hingga daerah. Hasilnya, swasembada beras berhasil diraih. Namun jagung dan kedelai kembali tertinggal.

Di sinilah letak persoalan serius yang harus dijawab secara jujur dan cerdas. Kemandirian pangan, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pangan, hanya dapat dicapai jika swasembada benar-benar terwujud. Tanpa swasembada, kemandirian pangan tidak lebih dari sekadar slogan. Karena itu, swasembada pangan tidak boleh diperlakukan setengah hati.

Pangan bukan hanya beras. Swasembada pangan tidak selesai dengan keberhasilan beras semata. Hingga hari ini, kedelai, daging sapi, bawang putih, dan gula masih berada dalam kondisi defisit. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, impor pun menjadi jalan pintas yang terus diulang.

Jika kita sungguh-sungguh ingin mandiri pangan, maka kondisi defisit harus diubah menjadi surplus. Impor kedelai dan daging sapi yang masih tinggi menunjukkan rapuhnya fondasi kemandirian pangan kita. Padahal, bila anggaran impor dialihkan untuk memperkuat petani lokal, ceritanya bisa sangat berbeda.

Langkah Presiden Prabowo yang mengumpulkan para pembantunya guna mempercepat swasembada pangan patut diapresiasi sebagai sinyal keseriusan negara. Kini tantangannya terletak pada kemampuan para pembantu Presiden untuk menerjemahkan kemauan politik tersebut menjadi kebijakan konkret dan tindakan nyata di lapangan.

Ironi kemandirian pangan kembali terlihat ketika Pemerintah menugaskan Perum BULOG mengimpor kedelai sekitar 350 ribu ton. Ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal kedaulatan. Berapa besar devisa yang terkuras? Dan berapa besar peluang petani kedelai lokal yang terabaikan?

Fenomena ini menegaskan satu hal: bangsa ini belum sepenuhnya berdaulat atas pangannya sendiri. Menjelang Natal dan Tahun Baru, kebutuhan daging sapi dan bawang putih kembali menghantui. Impor seolah menjadi solusi instan yang terus diwariskan dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Mencermati kondisi ini, kemandirian pangan—baik bagi Indonesia maupun Jawa Barat—masih terasa jauh. Namun menyerah bukan pilihan. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk membenahi kebijakan pangan secara menyeluruh dan konsisten.

Kemandirian pangan bukan utopia. Bagi Jawa Barat, kemandirian pangan bukan mimpi mengecat langit. Dengan integritas kebijakan, sinergi antar-lembaga, serta kolaborasi yang sungguh-sungguh berpihak pada petani, insya Allah kemandirian pangan dapat diwujudkan demi Jawa Barat yang benar-benar istimewa.

(Penulis adalah Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

DI MANA KORUPTOR MENYIMPAN HASIL CURIANNYA?

Next Post

Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai
Feature

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Next Post
Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral

Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral

MENGEMBALIKAN SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA SESUAI PEMBUKAAN UUD 1945

MENGEMBALIKAN SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA SESUAI PEMBUKAAN UUD 1945

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI 2026: ANTARA JANJI SWASEMBADA DAN REALITAS DI SAWAH

January 24, 2026
Pengurusan Barang Ekspor dan Pengambilan Kontainer di Depo

Pengurusan Barang Ekspor dan Pengambilan Kontainer di Depo

January 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...