Oleh: Entang Sastroatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) merupakan stok strategis yang disimpan untuk keperluan darurat, seperti bencana alam, gejolak harga, hingga krisis pangan. CBP menjadi alat penting untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, sekaligus mendukung kesejahteraan petani. Pengelolaannya dipercayakan kepada Perum Bulog.
Belakangan, perbincangan soal cadangan beras kembali menghangat. Pemerintah mengumumkan keberhasilan menembus angka 4 juta ton—tepatnya 4.001.059 ton—sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pencapaian ini sontak dipuji sebagai simbol kolaborasi nasional dalam memperkuat ketahanan pangan.
Namun, di balik tepuk tangan dan euforia, muncul pertanyaan mendasar: apakah ini sekadar soal kuantitas, atau benar-benar mencerminkan kualitas?
Kuantitas: Cerita Sukses yang Menggiurkan
Secara kuantitatif, pencapaian ini memang luar biasa. Setidaknya ada tiga faktor kunci yang menopang capaian tersebut:
- Produksi Nasional yang Meningkat
Produksi beras nasional periode Januari–Mei 2025 mencapai 16,55 juta ton, meningkat signifikan 11,95% dibandingkan tahun sebelumnya. - Penyerapan Bulog yang Masif
Bulog menyerap lebih dari 2,4 juta ton beras lokal—lonjakan lebih dari 400% dibandingkan rata-rata serapan lima tahun terakhir. - Kebijakan Pemerintah yang Pro-Petani
Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500/kg dan menghapus sistem rafaksi, memberikan insentif besar kepada petani.
Namun, keberhasilan dalam kuantitas menyisakan pekerjaan rumah besar: bagaimana dengan kualitasnya?
Kualitas: Bom Waktu di Lumbung Padi
Menurut laporan, Bulog menyerap gabah dari petani dengan sistem “any quality”—tanpa syarat kadar air atau kadar hampa. Ini berarti beras yang dihasilkan sangat mungkin memiliki kualitas yang tidak seragam.
Ada dua dampak utama dari sistem penyerapan ini:
- Kualitas Beras Tidak Seragam
Gabah kualitas rendah akan menghasilkan beras yang beragam mutunya. Hal ini bisa mempersulit distribusi, terutama saat digunakan untuk bantuan pangan yang memerlukan standar kualitas minimal. - Pengolahan Jadi Lebih Kompleks dan Mahal
Gabah berkualitas rendah memerlukan pengolahan lanjutan yang lebih rumit—pengeringan, penyortiran, bahkan pencampuran. Ini menambah biaya dan waktu penyimpanan.
Dengan demikian, meski kuantitasnya tinggi, cadangan beras ini sesungguhnya bagaikan bom waktu jika kualitas tidak segera dikelola dengan cermat.
Solusi: Dari Pemilahan Hingga Teknologi
Untuk mengelola stok any quality, beberapa pendekatan dapat diterapkan:
- Pemilahan Berdasarkan Mutu: Berdasarkan ukuran, warna, dan kadar air.
- Pengolahan Lanjutan: Pengeringan dan penyortiran untuk meningkatkan mutu.
- Pencampuran: Menggabungkan beras dari berbagai kualitas agar hasil akhir lebih baik.
- Pemanfaatan Teknologi: Mesin pengering, penyortir otomatis, hingga sistem pemantauan kualitas berbasis digital.
- Pengawasan Ketat: Standar mutu harus dijaga sejak proses penyerapan hingga distribusi.
Tanpa kombinasi pendekatan di atas, tumpukan beras 4 juta ton bisa menjadi beban alih-alih cadangan strategis.
Penutup: Antara Simbol dan Substansi
Cadangan beras 4 juta ton adalah prestasi yang layak diapresiasi, namun jangan sampai hanya menjadi simbol statistik tanpa substansi. Dalam dunia pangan, mutu jauh lebih penting ketimbang sekadar jumlah. Kita tidak bisa mengukur keberhasilan ketahanan pangan hanya dengan angka tonase.
Mari kita dorong Bulog dan pemerintah untuk menjaga amanah ini dengan standar pengelolaan yang tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif—agar cadangan ini benar-benar menjadi benteng bagi rakyat, bukan sekadar tumpukan yang menunggu rusak.

Oleh: Entang Sastroatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
























