• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Cara Bahlil Memuji Dirinya Sendiri – Glorifikasi Diri

Ali Syarief by Ali Syarief
February 14, 2025
in Feature, Tokoh
0
Pemerintah: Siap-Siap Kalau Kenaikan Harga BBM Terjadi
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika seorang pemimpin berbicara tentang dirinya sendiri dengan penuh kebanggaan, seharusnya ada sesuatu yang lebih dari sekadar narasi personal. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa dirinya adalah satu-satunya Ketua Umum Golkar yang pernah makan beras subsidi. Pernyataan ini ia sampaikan dalam acara ulang tahun ke-57 Fraksi Partai Golkar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Sebuah pernyataan yang seakan ingin menunjukkan kedekatan dengan rakyat, namun justru terdengar seperti glorifikasi diri yang kurang relevan dengan substansi kepemimpinan.

Dari Sopir Angkot ke Ketum Golkar

Bahlil memiliki latar belakang yang inspiratif—dari seorang sopir angkot hingga menjadi menteri dan ketua umum partai besar. Namun, pertanyaannya adalah: apakah latar belakang itu cukup untuk memastikan kebijakan yang berpihak pada rakyat? Rakyat tidak membutuhkan romantisasi masa lalu seorang pemimpin. Yang dibutuhkan adalah kebijakan nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.

Dalam pidatonya, Bahlil menekankan bahwa ia memahami kesulitan rakyat karena pernah hidup dalam kondisi ekonomi sulit. Ia mencontohkan pengalamannya membeli beras subsidi saat tinggal di Papua, di mana selisih harga Rp 5.000 saja begitu berarti bagi keluarganya. Namun, alih-alih menjadi dorongan untuk membenahi sistem subsidi agar lebih efektif, pernyataan tersebut lebih banyak terkesan sebagai ajang pembuktian bahwa dirinya memiliki pengalaman personal dengan kemiskinan, seakan itu menjadi legitimasi mutlak atas kebijakannya.

Retorika yang Tidak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Pujian terhadap diri sendiri dalam politik bukanlah hal baru. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika retorika personal tidak beriringan dengan kebijakan yang konkret. Apakah dengan mengumumkan dirinya pernah makan beras subsidi, kebijakan subsidi menjadi lebih baik? Apakah rakyat merasakan perubahan positif dari kebijakan yang dibuat oleh Bahlil? Sebab, pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat bukanlah cerita masa lalu, melainkan tindakan nyata di masa kini.

Ketika membahas subsidi LPG 3 kg, Bahlil menegaskan ketidaksetujuannya terhadap praktik penggelembungan harga dan menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin subsidi tepat sasaran. Ini adalah pernyataan yang baik, tetapi apakah cukup? Kritik terhadap praktik buruk dalam distribusi subsidi sudah sering disuarakan, namun solusi konkret yang langsung dirasakan rakyat belum tampak signifikan.

Rakyat Hanya Peduli pada Hasil

Pada akhirnya, rakyat tidak peduli siapa Bahlil Lahadalia, dari mana asalnya, atau bagaimana perjalanan hidupnya. Yang mereka pedulikan adalah apakah kebijakan yang dibuat benar-benar membantu mereka. Apakah harga LPG dan beras subsidi tetap terjangkau? Apakah akses pendidikan dan kesehatan semakin baik? Apakah keadilan sosial benar-benar diwujudkan?

Kepemimpinan diukur bukan dari cerita masa lalu, melainkan dari dampak nyata terhadap kehidupan rakyat. Jika Bahlil ingin dikenang sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat, maka ia harus berhenti menjadikan kisah pribadinya sebagai senjata politik dan mulai bekerja lebih serius untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada mereka. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah siapa dia, tetapi apa yang telah ia perbuat.

Seperti kata orang, “Dirasakan nggak? Ada manfaatnya nggak? Dan yang terakhir, jujur atau tidak?”

Ketika seorang pemimpin berbicara tentang dirinya sendiri dengan penuh kebanggaan, seharusnya ada sesuatu yang lebih dari sekadar narasi personal. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa dirinya adalah satu-satunya Ketua Umum Golkar yang pernah makan beras subsidi. Pernyataan ini ia sampaikan dalam acara ulang tahun ke-57 Fraksi Partai Golkar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Sebuah pernyataan yang seakan ingin menunjukkan kedekatan dengan rakyat, namun justru terdengar seperti glorifikasi diri yang kurang relevan dengan substansi kepemimpinan.

Dari Sopir Angkot ke Ketum Golkar

Bahlil memiliki latar belakang yang inspiratif—dari seorang sopir angkot hingga menjadi menteri dan ketua umum partai besar. Namun, pertanyaannya adalah: apakah latar belakang itu cukup untuk memastikan kebijakan yang berpihak pada rakyat? Rakyat tidak membutuhkan romantisasi masa lalu seorang pemimpin. Yang dibutuhkan adalah kebijakan nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.

Dalam pidatonya, Bahlil menekankan bahwa ia memahami kesulitan rakyat karena pernah hidup dalam kondisi ekonomi sulit. Ia mencontohkan pengalamannya membeli beras subsidi saat tinggal di Papua, di mana selisih harga Rp 5.000 saja begitu berarti bagi keluarganya. Namun, alih-alih menjadi dorongan untuk membenahi sistem subsidi agar lebih efektif, pernyataan tersebut lebih banyak terkesan sebagai ajang pembuktian bahwa dirinya memiliki pengalaman personal dengan kemiskinan, seakan itu menjadi legitimasi mutlak atas kebijakannya.

Retorika yang Tidak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Pujian terhadap diri sendiri dalam politik bukanlah hal baru. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika retorika personal tidak beriringan dengan kebijakan yang konkret. Apakah dengan mengumumkan dirinya pernah makan beras subsidi, kebijakan subsidi menjadi lebih baik? Apakah rakyat merasakan perubahan positif dari kebijakan yang dibuat oleh Bahlil? Sebab, pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat bukanlah cerita masa lalu, melainkan tindakan nyata di masa kini.

Ketika membahas subsidi LPG 3 kg, Bahlil menegaskan ketidaksetujuannya terhadap praktik penggelembungan harga dan menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin subsidi tepat sasaran. Ini adalah pernyataan yang baik, tetapi apakah cukup? Kritik terhadap praktik buruk dalam distribusi subsidi sudah sering disuarakan, namun solusi konkret yang langsung dirasakan rakyat belum tampak signifikan.

Rakyat Hanya Peduli pada Hasil

Pada akhirnya, rakyat tidak peduli siapa Bahlil Lahadalia, dari mana asalnya, atau bagaimana perjalanan hidupnya. Yang mereka pedulikan adalah apakah kebijakan yang dibuat benar-benar membantu mereka. Apakah harga LPG dan beras subsidi tetap terjangkau? Apakah akses pendidikan dan kesehatan semakin baik? Apakah keadilan sosial benar-benar diwujudkan?

Kepemimpinan diukur bukan dari cerita masa lalu, melainkan dari dampak nyata terhadap kehidupan rakyat. Jika Bahlil ingin dikenang sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat, maka ia harus berhenti menjadikan kisah pribadinya sebagai senjata politik dan mulai bekerja lebih serius untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada mereka. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah siapa dia, tetapi apa yang telah ia perbuat.

Seperti kata orang, “Dirasakan nggak? Ada manfaatnya nggak? Dan yang terakhir, jujur atau tidak?”

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

MENGAMANKAN CADANGAN BERAS

Next Post

Pejuang yang Bersekutu dengan Musuh: Prabowo dan Jokowi dalam Bayangan Pengkhianatan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post
Presiden Prabowo dan Peringatan Keras bagi Loyalis Jokowi: Tegas atau Hanya Retorika?

Pejuang yang Bersekutu dengan Musuh: Prabowo dan Jokowi dalam Bayangan Pengkhianatan

Pemerintah Pasang Target 3 Juta Orang, Terima Makan Bergizi Gratis Pada Bulan Ini

Program Makan Bergizi Gratis Belum Sampai di Madiun

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...