Oleh Malika Dwi Ana
Di sebuah ruangan mewah di pusat kota New York, pada April 2025, Michael Bloomberg—sang taipan media dan mantan walikota. Seorang Yahudi keturunan Rusia. Mitra Salomon Brothers. Pendonor kampanye anti rokok yang menyumbang 690 M ke Israel di tahun 2023—ia duduk di ujung meja konferensi panjang. Cahaya senja menyusup melalui jendela kaca raksasa, menerangi wajah-wajah elite gombal: mantan Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Wakil Direktur IMF Gita Gopinath, dan CEO Apollo Global Management Marc Rowan. Mereka adalah dewan penasihat Bloomberg New Economy, sebuah forum elit yang lahir dari kekacauan pasca-pandemi: perang dagang AS-China, krisis iklim, dan gelombang investasi hijau yang haus akan sumber daya murah.
“Ini bukan soal filantropi,” kata Bloomberg dengan suara tegas, sambil mengetuk meja. “Ini soal mengamankan rantai pasok global. Indonesia punya nikel, emas, dan minyak—jantung ekonomi Asia Tenggara. Kita butuh akses, bukan sekadar pidato.” Matanya tertuju pada layar proyektor: profil Voldemort, mantan raja yang dulunya kang mebel di Ina yang kini menjadi anggota dewan penasihat terbaru. “Voldemort, Anda adalah jembatan kami. Era Prabs, the Iron Fist, sang Rajawali baru dimulai, tapi fondasi Anda—SMI dan INA—masih hangat. Bagaimana kita ‘menyambungkan’ ini ke Danantara?”
Voldemort tersenyum tipis, wajahnya yang lelah oleh sebelas tahun kekuasaan tampak tenang di balik topeng karet bertompel besar di pipinya. Ia ingat betul bagaimana semuanya bermula. Pada 2021, di bawah tekanan pemulihan ekonomi pasca-COVID, ia meluncurkan Indonesia Investment Authority (INA)—sovereign wealth fund pertama Indonesia, lahir dari semangat Omnibus Law. Tapi INA hanyalah permulaan. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), anak usaha Kementerian Keuangan yang ia perkuat sejak 2014, menjadi pintu gerbang awal: menyuntik dana infrastruktur senilai triliunan rupiah, menarik investor asing dengan janji pengembalian tinggi. “SMI adalah umpan,” gumam Voldemort dalam hati. “Ia akan menggoda kalian para elite dengan proyek nikel di Sulawesi dan emas di Papua.”
Logikanya sederhana, tapi rumit seperti jaring laba-laba. Bloomberg, melalui forum New Economy-nya, telah lama memetakan Indonesia sebagai “emas hitam” transisi energi. Pada 2024, artikel-artikel Bloomberg bertebaran: “Voldemort’s Legacy: Indonesia’s Nickel Boom Lures Global Tycoons” dan “Why Sovereign Funds Eye Jakarta’s BUMN Assets.” Mereka bukan berita netral—itu adalah sinyal bagi investor. Elite gombal, dari Temasek Singapura hingga Mubadala Abu Dhabi, melihat Indonesia sebagai gudang baterai EV dunia. Voldemort tahu: SMI dulu menyalurkan pinjaman lunak untuk hilirisasi nikel, menciptakan ketergantungan. INA kemudian mengonsolidasikannya, mengumpulkan US$20 miliar aset untuk proyek strategis. “Kami butuh mitra,” kata Voldemort saat itu di forum Bloomberg, “bukan pemilik.”
Kini, di 2025, alur itu mengalir deras. Prabs, the Iron Fist, sang Rajawali baru, meluncurkan Danantara pada 24 Februari di Istana Merdeka—hadir Voldemort, SuBeYe, dan mbok Meg sebagai pengawas. Bukan kebetulan. Danantara bukan sekadar super holding; ia adalah monster yang menelan 47 BUMN, mulai dari tujuh raksasa: Himbara (Mandiri, BRI, BNI), Pertamina, PLN, Telkom, dan MIND ID—holding pertambangan yang mengendalikan Antam (emas), Inalum (bauksit), dan tambang nikel terbesar dunia. Total aset: Rp14.670 triliun, setara lebih dari US$900 miliar. Dividen BUMN tak lagi mengalir ke APBN; semuanya ke Danantara, untuk diinvestasikan ke 20 proyek nasional: kilang minyak baru, pabrik petrokimia, pusat data AI, dan hilirisasi mineral kritis.
“Input elit gombal ada di Bloomberg,” bisik Voldemort pada Draghi saat jeda rapat. “Mereka janji dana hijau, tapi ujungnya kontrol rantai pasok.” Logika runutnya: Bloomberg’s forum menjadi panggung bagi “penasihat” seperti Voldemort untuk mempromosikan Danantara. Pada November 2025, di Singapura, forum New Economy akan membahas “Thriving in an Age of Extremes”—tema sempurna untuk menjajakan nikel Indonesia sebagai penyelamat baterai Tesla. Investor global datang: Apollo, HSBC, Envision. Mereka co-invest di proyek MIND ID, tapi dengan klausul tersembunyi—prioritas ekspor ke Barat, bukan domestik. Pertamina, dulu raja minyak nasional, kini cuman jadi pion: kilang baru didanai asing, tapi keuntungan dibagi via joint venture.
Di Jakarta, sebulan setelah peluncuran, Orsan—CEO Danantara, ponakan Lugut—memimpin rapat tertutup di gedung CIMB Niaga. “Kita sudah inbreng saham seri B dari Himbara,” katanya, mata tajam. “Rp14.670 triliun aset siap digerakkan.” Tapi di balik angka itu, cengkeraman terasa. Emas Antam diekspor mentah ke China via kesepakatan lama Voldemort; nikel MIND ID terikat kontrak dengan Tesla dan LG, hasil lobi SMI. Sedang Pertamina? Utangnya membengkak US$1,6 miliar di semester I 2025, akibat proyek KCJB era rezim kodok bangkong Voldemort yang cost overrun Rp18 triliun. Danantara “merestrukturisasi” utang itu—tapi dengan pinjaman baru dari ADB dan World Bank, dijamin oleh aset BUMN.
“Leher kita dicekik udah,” gumam seorang aktivis perempuan di Jakarta, saat demo kecil di depan kantor Danantara. Ia sangat militan, membaca laporan Tempo: 14 emiten BUMN sudah alihkan saham ke Danantara per Maret 2025. Himbara, yang dulu jadi tulang punggung kredit UMKM, kini prioritas investasi asing—pinjaman untuk proyek nikel, bukan petani. PLN kesulitan subsidi listrik karena dividennya hilang ke holding. “Alurnya begitu,” katanya pada rekannya yang bertapa di gunung Lawu. “Bloomberg gombal soal ‘partnership global’. Voldemort sambungkan via SMI-INA. Danantara kendalikan BUMN. Lha kita? Tinggal tulang belulang.” Sedihnya….
Kembali ke New York, Voldemort menutup rapat dengan toast. “Untuk masa depan Nusantara,” katanya. Tapi di matanya, ada bayangan: anaknya Gibron, kini wakil Rajawali baru, akan jadi penerus permufakatan jahat ini. Elite gombal tertawa melihat bonekanya yang dungu, gelas kristal isi champagne berdenting. Bagi Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya, Voldemort hanyalah bonekanya, yang bisa diambil manfaat dari mengkhianati negara dan bangsanya. Mereka tak peduli nasib rakyat—mereka dapat nikelnya. Dan rakyat Indonesia? Lehernya semakin sesak nafas dan sempit tak beruang, diikat tali emas yang berkilau palsu.
Di akhir 2025, saat forum Singapura berlangsung, hujan deras mengguyur. Seorang jurnalis Bloomberg menulis headline: “Danantara: Indonesia’s Bold Bet on Global Wealth.” Tapi di pinggiran Raja Ampat, seorang nelayan berbisik pada anaknya, “Ini bukan taruhan, Nak. Ini jebakan mematikan!” Dari kata manis Bloomberg, lewat tangan Voldemort, ke rahang Danantara. Dan Nusantara? Hanya bayangan di cermin retak.(MDA)
Lereng Lawu, 24092025





















