Fusillatnews – M. Chatib Basri kembali ke Harvard. Sepuluh tahun kemudian. Ia datang sebagai Visiting Scholar, meneliti, menulis, mengajar—dan belajar. Ia menulis dengan jernih: saya belum selesai juga bodohnya.
Ada sesuatu yang jarang kita dengar dari seorang ekonom, mantan menteri, pengambil keputusan di ruang-ruang yang sering kaku: pengakuan bahwa dirinya tidak selesai. Bahwa pengetahuan, bahkan kebijaksanaan, bukanlah garis akhir.
Keraguan, katanya, adalah tempat tumbuhnya pengetahuan. Bukan kepastian. Bukan dari mereka yang merasa sudah tahu. Melainkan dari mereka yang mau mendengar, meragukan, dan mencari.
Kalimat itu terasa asing di negeri ini. Di sini, kata “ragu” sering dianggap cacat, tanda kelemahan. Kita lebih mengenal suara yang penuh kepastian—dari mimbar politik, dari layar kaca, dari ruang-ruang rapat di pemerintahan. Pemimpin yang ragu sering dianggap lemah. Akademisi yang ragu sering dipandang gamang. Padahal, justru dari keraguanlah kita bisa menahan diri dari kesombongan pengetahuan.
Kita hidup di zaman ketika “yang paling tahu” begitu lantang. Opini diperlakukan sebagai dalil. Kritik dianggap ancaman. Di ruang publik kita, keraguan sering hilang karena orang tergesa-gesa meyakini, atau dipaksa untuk yakin.
Maka yang ditulis Chatib adalah pengingat. Bahwa universitas—seperti yang ia sebut—adalah rumah. Rumah untuk menunda kepastian. Rumah untuk mempertanyakan yang sudah mapan. Rumah yang memberi kita keberanian untuk mengaku: “saya belum selesai juga bodohnya.”
Di luar sana, politik mungkin menuntut keputusan cepat. Ekonomi menuntut angka pasti. Tapi pengetahuan hanya bisa hidup bila kita menjaga ruang untuk ragu.
Mungkin itu yang kini makin jarang. Kita kehilangan sikap rendah hati di hadapan pengetahuan. Kita kehilangan kesediaan untuk mendengar. Kita kehilangan keraguan.
Dan tanpa keraguan, kita hanya akan sibuk menjadi “yang paling tahu”—tapi berhenti mencari.






















