Shenzhen, China — Pemasangan kamera keamanan tambahan di sekitar sebuah sekolah Jepang di kota Shenzhen, China selatan, telah selesai dilakukan pada Jumat (20/9/2024), setelah Jepang menyerukan peningkatan keamanan menyusul penikaman tragis seorang siswa berusia 10 tahun awal pekan ini.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum mengungkap motif pelaku yang berusia 44 tahun. Wakil Menteri Luar Negeri China, Sun Weidong, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Jepang untuk China, Kenji Kanasugi, pada Kamis (19/9/2024), menyatakan bahwa insiden tersebut adalah “kasus terisolasi” yang dilakukan oleh individu dengan riwayat kriminal, menurut keterangan Kedutaan Besar Jepang di Beijing.
Anak laki-laki yang menjadi korban, yang memiliki ayah berkebangsaan Jepang dan ibu berkebangsaan China, ditikam di bagian perut saat berada sekitar 200 meter dari gerbang sekolah pada Rabu pagi. Ia meninggal pada Kamis dini hari, seperti yang dilaporkan oleh pemerintah Jepang.
Sebuah laporan media lokal di Shenzhen pada Jumat mengungkapkan bahwa tersangka, bermarga Zhong, telah mengakui bahwa ia melukai anak tersebut dengan pisau. Pihak berwenang setempat juga meyakini bahwa pelaku bertindak seorang diri. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pria pengangguran itu sebelumnya telah dua kali ditahan atas dugaan sabotase fasilitas telekomunikasi publik dan gangguan ketertiban umum.
Pemasangan kamera keamanan tambahan di sekitar sekolah dan lokasi kejadian dimulai pada Kamis pagi, sebagai langkah untuk meningkatkan keamanan setelah insiden tersebut.
Pada hari yang sama, Kanasugi bertemu dengan Wakil Walikota Shenzhen, Luo Huanghao, dan menyerukan peningkatan keamanan guna memastikan keselamatan warga negara Jepang di wilayah tersebut.
Penikaman ini terjadi setelah serangan serupa di Suzhou, dekat Shanghai, pada Juni lalu, di mana seorang ibu dan anak asal Jepang terluka akibat serangan pisau. Dalam insiden tersebut, seorang perempuan warga negara China tewas saat berusaha menghentikan pelaku.
Hubungan bilateral antara Jepang dan China belakangan ini memburuk akibat berbagai isu, termasuk penahanan sejumlah warga Jepang oleh China terkait dugaan spionase dan larangan total impor makanan laut dari Jepang yang diberlakukan Beijing setelah dimulainya pembuangan air limbah radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang rusak pada Agustus tahun lalu.
© KYODO


























