Imam Bukhari adalah salah satu ulama besar dalam sejarah Islam, terkenal sebagai penyusun kitab hadits yang paling otoritatif, Shahih Bukhari. Beliau lahir di kota Bukhara, Uzbekistan, pada tahun 810 M (194 H) dan sejak usia muda sudah menonjol dalam keilmuannya. Bukhari menghabiskan sebagian besar hidupnya mengumpulkan dan memverifikasi ribuan hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, melalui penelitian dan perjalanan yang panjang, mencakup wilayah-wilayah Islam yang luas pada zamannya. Dedikasinya dalam memastikan otentisitas setiap hadits yang ia kumpulkan membuat namanya harum sebagai cendekiawan terkemuka, dan kitabnya dijadikan rujukan utama dalam ilmu hadits hingga kini.
Imam Bukhari tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, dengan bimbingan ibunya setelah ayahnya meninggal dunia. Di usia belia, ia sudah menghafal Al-Quran dan hadits. Menjelang dewasa, ia mulai melakukan perjalanan intelektualnya ke berbagai wilayah di dunia Islam untuk bertemu dengan ulama dan mengumpulkan hadits-hadits. Di antara perjalanannya adalah ke Mekkah, Madinah, Mesir, Kufah, dan Baghdad. Dalam upayanya untuk menjaga kemurnian ajaran Islam, Imam Bukhari sangat berhati-hati dalam memilih dan menyaring hadits yang akan dimasukkan ke dalam koleksinya. Ia hanya memilih sekitar 7.275 hadits dari ratusan ribu hadits yang ia pelajari.
Keberhasilan Imam Bukhari tidak terlepas dari sikap keteguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk fitnah yang dilemparkan kepadanya di akhir hidupnya. Beliau meninggal dunia pada tahun 870 M di Khartank, sebuah desa dekat Samarkand, Uzbekistan. Makamnya kini menjadi salah satu situs ziarah penting di dunia Muslim.
Ziarah Megawati ke Makam Imam Bukhari
Pada Jumat, 20 September 2024, Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, melakukan ziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. Dalam kunjungannya, Megawati didampingi oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayogada, serta Guru Besar Fakultas Hubungan Internasional Universitas St. Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie.
Megawati tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 waktu setempat, dengan mengenakan busana panjang dan kerudung putih. Kedatangannya disambut oleh Wakil Gubernur Samarkand, Rustam Kobilov, dan Direktur kompleks makam Imam Bukhari, Maqsud Hoji. Dalam percakapan singkat, Megawati menanyakan tentang renovasi yang sedang berlangsung di beberapa bagian bangunan kompleks makam.
Ziarah tersebut berlangsung dengan khidmat. Megawati tampak larut dalam suasana ketika berdoa di dekat makam Imam Bukhari. Beberapa kali, ia terlihat mengelap air matanya dengan tisu. Setelah berdoa, Megawati dan rombongannya bertemu dengan jajaran pengurus utama kompleks makam dan menyerahkan dua buah bingkisan berisi kain batik sebagai cinderamata.
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ahmad Basarah, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri, menyatakan bahwa Megawati ingin mengenang peran besar Proklamator RI, Bung Karno, dalam hubungan dengan Islam. Ziarah ini menjadi pengingat tentang pentingnya warisan intelektual Islam yang dijaga oleh tokoh-tokoh besar seperti Imam Bukhari, serta bagaimana Bung Karno juga memberikan perhatian terhadap peran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain berziarah, Megawati juga dijadwalkan untuk menerima penganugerahan gelar profesor kehormatan dari Silk Road University di Samarkand pada Sabtu, 21 September 2024. Agenda kunjungannya mencakup penanaman pohon dan penandatanganan prasasti Soekarno Garden di Silk Road Tourism Complex. Basarah menambahkan bahwa Megawati ingin pemahat prasasti tersebut berasal dari Indonesia, sehingga karya tersebut memiliki akurasi yang tinggi dalam merepresentasikan warisan budaya.
Makna Ziarah dan Hubungan Indonesia-Uzbekistan
Kunjungan Megawati ke Uzbekistan dan ziarahnya ke makam Imam Bukhari menunjukkan bahwa hubungan antara Indonesia dan dunia Islam tidak hanya didasarkan pada aspek politik, tetapi juga spiritual dan intelektual. Warisan besar Imam Bukhari sebagai ulama terkemuka dan kontributor utama dalam ilmu hadits tetap relevan bagi masyarakat Muslim modern. Megawati, sebagai putri Bung Karno, membawa semangat penghormatan terhadap tokoh-tokoh besar dunia Islam, melanjutkan warisan ayahnya yang selalu menjunjung tinggi Islam sebagai elemen penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
Kehadiran Megawati di makam Imam Bukhari juga menjadi simbol dialog antarbudaya dan antarbangsa. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, terus menunjukkan peran aktifnya dalam menjaga hubungan dengan negara-negara Muslim lainnya, termasuk Uzbekistan yang menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tengah.
Dalam konteks ini, ziarah Megawati adalah lebih dari sekadar kunjungan pribadi. Ini adalah pengingat bahwa warisan intelektual dan spiritual Islam terus hidup dan dihormati oleh generasi saat ini, baik di Uzbekistan maupun di Indonesia. Warisan Imam Bukhari tetap menjadi inspirasi bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk para pemimpin Indonesia yang berziarah ke makamnya dengan penuh penghormatan.


























