Fusilatnews – Ketika Mahkamah Konstitusi mengubah syarat usia calon presiden dan wakil presiden pada Oktober 2023, publik tersentak. Di balik dalih hukum dan putusan penuh celah etika, terselip motif politik yang nyaring: memuluskan jalan bagi Gibran Rakabuming Raka. Ketika kemudian ia resmi diumumkan sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto, skenario besar itu pelan-pelan tersingkap ke permukaan.
Tapi sesungguhnya, lebih terang dari itu adalah bocoran dari pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie. Dalam sebuah video yang beredar dan dikutip berbagai media pada Senin, 12 Februari 2024, Connie mengungkap pengakuan langsung dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani.
“Saya bilang, ‘Pak Prabowo bakal jadi presiden berapa lama?’ Ini disampaikan Pak Rosan, loh. ‘Rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran’,” ujar Connie.
Pernyataan itu seperti membuka tabir niat tersembunyi di balik pencalonan Gibran. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan president-in-waiting yang sengaja dipasang sejak awal. Jalan menuju tahta sudah disiapkan. Skemanya sederhana: Prabowo menjabat dua tahun, lalu menyerahkan tongkat kekuasaan kepada Gibran.
Apa yang diklaim Connie bukan isapan jempol semata. Ini bukan sekadar spekulasi. Ini semacam pengakuan. Dan jika benar, maka apa yang tengah terjadi hari ini bukanlah kebetulan politik, melainkan hasil perencanaan matang yang menyimpang dari semangat demokrasi.
Kini, memasuki pertengahan 2025, Joko Widodo berada di titik nadir. Ia bukan lagi pemimpin yang dielu-elukan, melainkan sosok yang mulai ditinggalkan. Terjepit oleh tekanan politik, investigasi kebijakan masa lalu, serta isu korupsi dan penyelewengan hukum yang diwariskan dari dua periode kekuasaannya. Di tengah badai itu, ia seperti tak punya siapa pun lagi untuk bersandar. Partai telah berjarak, relawan tercerai-berai, dan publik yang dulu mengidolakan, kini mulai kecewa.

Di titik ini, hanya satu nama yang tersisa untuk melindunginya: Gibran.
Skenario dua tahun Prabowo, lalu tiga tahun Gibran, bukan sekadar teori konspirasi. Ia terkonfirmasi dalam narasi resmi orang dalam tim kampanye. Dan bagi Jokowi, skenario itu bukan hanya strategi melanggengkan pengaruh, tapi juga cara bertahan. Bertahan dari ancaman hukum, dari beban masa lalu, dari pembalasan politik. Gibran adalah benteng terakhir—bukan demi rakyat, melainkan demi ayahnya.
Jika Prabowo benar mundur sebelum masa jabatan selesai, entah karena alasan kesehatan, tekanan, atau kompromi politik, maka Gibran otomatis naik menjadi Presiden. Legal, tapi tidak legitimatif. Sah menurut hukum, tapi cacat secara etika.
Dan ketika itu terjadi, republik ini akan menyaksikan ironi tertingginya: seorang anak naik ke tampuk kekuasaan tertinggi bukan karena suara rakyat, melainkan karena sebuah skenario yang dirancang di belakang layar oleh ayahnya dan para loyalisnya.
Politik seperti ini bukan demokrasi. Ia adalah monarki terselubung. Demokrasi hanya jadi kemasan. Dan sejarah akan mencatat: konstitusi dibengkokkan, lembaga negara diperalat, semua demi satu tujuan—menyelamatkan seorang presiden dari beban dosa masa lalunya.
Baca : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20240212065048-617-1061255/connie-beber-skenario-prabowo-jabat-2-tahun-rosan-roeslani-buka-suara
























