Fusilatnews – Garuda, burung mitologis yang agung itu, kini mendadak loyo seperti ayam kampung terserang flu burung. Danantara — badan baru nan gemerlap yang katanya sebagai anak kandung Nusantara — kini akan menyuntik Garuda, bukan dengan vaksin tapi dengan dana. Lagi-lagi.
Saya tak hendak ikut-ikutan jadi auditor. Tapi aroma suntikan dana ini seperti rendang yang terlalu banyak santan: eneg. Hampir di setiap rezim, dari yang berjanggut sampai yang berjambak, Garuda selalu jadi pasien rawat inap. Diagnosisnya sama: nyaris bangkrut. Terapi keuangannya juga tak berubah: suntik dana dari negara.
Padahal Garuda ini bukan maskapai ecek-ecek. Jalurnya gemuk. Rute-rutenya basah. Harga tiketnya mahalnya bukan main, sampai-sampai orang lebih rela naik kapal laut seminggu penuh ketimbang harus jual ginjal demi terbang dari Jakarta ke Papua. Tapi anehnya, tiap tahun selalu tekor.
“Privatize!” kata ekonom.
“Revitalize!” kata pejabat.
“Tutup saja!” kata rakyat yang kesal.
Garuda ini aneh. Dia seperti anak konglomerat yang tak pernah bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Disekolahkan di Harvard, pulangnya tetap minta uang jajan. Diberi rute padat, tetap merugi. Diberi subsidi, tetap megap-megap. Diberi manajemen baru, tetap bobrok.
Bukan sekali dua kali manajemen Garuda dituding main petak umpet dengan duit negara. Dari pembelian pesawat bekas yang lebih tua dari usia pensiun, sampai skandal impor Harley Davidson di perut pesawat kargo. Ini maskapai atau koperasi simpan-pinjam yang salah kelola?
Dan kini datanglah Danantara. Lembaga baru yang katanya akan menjadi “bapak asuh” perusahaan-perusahaan pelat merah yang sedang sekarat. Seperti Panti Asuhan Korporasi. Danantara ingin menyuntik Garuda — katanya untuk penyelamatan. Tapi kalau disuntik terus, kapan sembuhnya?
Garuda seharusnya bisa terbang tinggi. Namanya gagah, lambangnya ada di dada Garuda Pancasila. Tapi kini dia lebih mirip burung merpati tua di taman kota, jalan terseok, terbang pun nyaris tak kuat.
Negara ini tak kurang ahli. Tak kurang penasihat. Tak kurang riset. Yang kurang cuma satu: niat untuk membuat BUMN tak lagi jadi ladang main bola — tendang ke sini, umpan ke sana, dan akhirnya… gol ke gawang rakyat.
Danantara boleh menyuntik Garuda. Tapi jangan suntikan itu hanya jadi formalitas birokrasi. Jangan jadi kosmetik untuk wajah bopeng korporasi. Jangan jadi obat tidur agar kita lupa bahwa Garuda bukan cuma soal sayap dan pesawat — tapi soal harapan, kepercayaan, dan akal sehat.
Karena kalau Garuda terus disuntik tapi tak pernah sembuh, maka kita sedang menyaksikan sebuah komedi tragis: Burung mitologi yang diberi dana ilahi, tapi tetap saja terbang rendah dan tersesat arah.
























