“Setiap perangkat Apple bisa dilacak, dikunci dari jarak jauh, dan mengirim sinyal bahwa ia hasil curian — bahkan sebelum si pencuri sempat mengisi daya baterainya.”
Fusilatnews – Ada satu jenis manusia yang mungkin terlalu sering makan apel hingga otaknya ikutan keropos: pencuri toko Apple.
Ya, Apple, saudara-saudara sekalian. Bukan apel Malang, bukan apel Washington, tapi yang ini dijual di etalase toko mewah, dikelilingi pendingin ruangan, dipelototi kamera CCTV, dan disayangi FBI lebih dari sayang ibu pada anak semata wayang.
Pada suatu sore yang penuh semangat demonstrasi — katanya demi keadilan — segerombolan orang mendadak lupa bahwa yang dituntut bukanlah iPhone, melainkan hak hidup yang layak. Mereka berhamburan masuk toko Apple, menyambar iPad, menggondol MacBook, mengantongi iPhone. Seperti pahlawan kesiangan yang tersesat ke dalam katalog belanja digital.
Tentu saja, mereka pikir sedang untung. Barang mahal, gratis pula. Tapi mereka lupa satu hal kecil, yang sebetulnya tidak kecil-kecil amat: ini Apple, Bung, bukan warung kelontong.
Apple bukan perusahaan ecek-ecek. Ia adalah kombinasi antara teknologi, kekuasaan, dan keangkuhan kapitalis yang bisa mendeteksi bahkan nafasmu kalau kamu nyalakan iPhone curian itu. Setiap perangkatnya punya nomor seri, bisa dikunci dari jarak ribuan mil, dan bisa mengirimkan sinyal “Hai, saya dicuri!” langsung ke aparat yang paling malas sekalipun.
Maka benar saja, setelah puas selfie dengan barang curian, para pencuri yang dungu ini ditangkap satu per satu. Ada yang ditelusuri lewat akun Facebook, ada yang ketahuan menjual iPhone di pinggir jalan, ada pula yang sok jadi Robin Hood tapi akhirnya jadi pasien tetap ruang interogasi.
Lho, kok bisa?
Karena pencuri ini bukan pencuri sejati. Mereka bukan penjahat kelas kakap yang tahu cara menghapus jejak. Mereka adalah oportunis digital yang pikir hidup ini seperti TikTok: bisa dihapus kalau ketahuan. Mereka pikir dengan hoodie dan masker, mereka sudah lulus jadi James Bond. Padahal yang mereka hadapi bukan hanya kamera toko, tapi juga teknologi yang bisa mengenali sidik jari, wajah, bahkan bentuk telinga.
Apa yang lebih menyedihkan dari itu?
Catatan kriminal, Bung. Sekali ditangkap, hidup mereka berubah. Bukan berubah jadi sukses seperti di drama Korea, tapi berubah jadi penolakan kerja, penolakan visa, dan penolakan dari calon mertua.
Jadi, adik-adik, abang-abang, dan siapa pun yang merasa pintar mencuri Apple: pikir ulang. Dalam dunia yang semakin canggih, mencuri bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal kebodohan. Dan tidak ada yang lebih menyedihkan dari pencuri yang dungu.
Lebih baik hidup pas-pasan dengan kepala tegak, daripada jadi headline berita kriminal karena mencuri barang yang bisa bicara, “Saya dicuri!”
























