Oleh: Entang Sastraatmadja
Penyerapan gabah oleh Perum Bulog merupakan proses vital dalam mata rantai ketahanan pangan nasional. Ini adalah langkah konkret Bulog sebagai operator logistik pangan negara dalam membeli gabah langsung dari petani, mengolahnya menjadi beras, atau menyimpannya sebagai cadangan strategis. Kegiatan ini bukan hal baru, tetapi menjadi semakin penting setiap kali panen raya berlangsung.
Terdapat tiga tujuan utama dari penyerapan gabah ini. Pertama, meningkatkan pendapatan petani. Dengan membeli langsung dari petani, Bulog menjaga nilai tukar petani agar tetap kompetitif dan menguntungkan. Kedua, menjaga stabilitas harga di pasaran, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Ketiga, memperkuat cadangan pangan nasional untuk menghadapi kemungkinan krisis atau bencana.
Pada musim panen raya kali ini, Perum Bulog dipuji banyak pihak karena keberhasilannya menyerap gabah dalam jumlah besar. Hal ini didukung oleh beberapa faktor kunci: jaringan distribusi yang luas, harga beli kompetitif, sistem pembayaran yang tepat waktu, relasi yang erat dengan petani, serta fasilitas penyimpanan yang relatif memadai.
Apresiasi pun datang dari Presiden Prabowo Subianto, yang menyambut baik langkah Bulog membeli gabah petani seharga Rp6.500/kg langsung dari lokasi panen. Langkah ini tak hanya mendorong nilai tukar petani, tapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional. Dalam panen raya serentak yang digelar di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota, Bulog berhasil menyerap lebih dari 800 ribu ton setara beras—capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Hingga akhir Mei 2025, total serapan gabah telah mencapai 2,4 juta ton. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi dan menunjukkan keseriusan Bulog dalam menjalankan mandat negara.
Namun, di balik keberhasilan itu, muncul tantangan baru yang tak kalah berat: menyimpan gabah dalam jumlah besar. Tugas ini bukan hanya soal teknis, tapi menyangkut kesiapan infrastruktur, kualitas SDM, serta sistem manajemen yang harus benar-benar matang. Mengelola gabah sebanyak 4 juta ton adalah pekerjaan kolosal yang belum pernah dilakukan Bulog sebelumnya.
Sayangnya, kesiapan infrastruktur pergudangan belum sepenuhnya paralel dengan volume gabah yang diserap. Maka dari itu, sudah saatnya Perum Bulog memiliki Grand Desain Penyimpanan Gabah Nasional yang utuh, holistik, dan komprehensif. Desain ini harus dilengkapi dengan roadmap yang jelas, termasuk proyeksi kapasitas, distribusi, serta mitigasi risiko kehilangan atau kerusakan.
Selain infrastruktur, kebutuhan akan SDM gudang yang handal tak bisa ditawar. Petugas gudang bukan sekadar penjaga lumbung, melainkan garda terdepan penjaga mutu dan kuantitas stok pangan nasional. Target melahirkan 25 ribu petugas gudang yang profesional tentu bukan hal sepele. Ini membutuhkan pelatihan, seleksi ketat, serta penanaman nilai-nilai pengabdian—bahwa menyimpan gabah adalah menyimpan masa depan bangsa.
Petugas gudang Bulog harus memiliki semangat juang tinggi untuk menjaga agar gabah tidak rusak, tidak berkutu, tidak apek, tidak berubah warna, dan tetap layak konsumsi dalam jangka panjang. Tugas ini lebih berat dari sekadar menerima gaji rutin; ia menyangkut amanah dan tanggung jawab besar terhadap ketahanan pangan negeri.
Namun kita percaya, dengan pengalamannya sebagai operator pangan nasional, Perum Bulog mampu menjawab tantangan ini. Keberhasilan menyerap gabah harus dilanjutkan dengan keberhasilan menyimpannya. Dari ladang ke lumbung, perjuangan Bulog belum selesai. Ia baru saja dimulai.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja




















