Ada cara lain para analis Barat membaca masa depan: bukan lewat laporan intelijen atau jurnal akademik semata, melainkan lewat novel. Fiksi, dalam tradisi ini, bukan sekadar hiburan. Ia menjadi alat simulasi sejarah. Cara halus untuk memotret realitas politik, meraba kecenderungan kekuasaan, dan memperingatkan kemungkinan yang tak nyaman dibicarakan secara terbuka.
Indonesia pernah menjadi objeknya.
Tahun 1978, dunia mengenal The Year of Living Dangerously karya Christopher Koch. Novel itu memotret Indonesia menjelang dan saat tragedi G30S 1965. Tokohnya fiktif, tetapi latar peristiwa, atmosfer politik, ketegangan militer, dan kejatuhan kekuasaan Sukarno digambarkan dengan akurasi yang mengagumkan. Ia bahkan kemudian diadaptasi menjadi film pemenang Oscar. Di sini, fiksi bekerja sebagai kamera sejarah.
Puluhan tahun kemudian, muncul novel lain: Ghost Fleet (2015), karya P.W. Singer dan August Cole. Kali ini bukan tentang Indonesia secara langsung, melainkan tentang perang global masa depan antara kekuatan besar. Namun dalam salah satu fragmennya, Indonesia digambarkan sebagai negara yang runtuh akibat salah kelola ekonomi, korupsi, dan perebutan pengaruh asing. Potongan itulah yang kemudian dikutip Prabowo Subianto dalam pidatonya: bahwa ada “kajian asing” yang memprediksi Indonesia tidak ada lagi pada 2030.
Belakangan terungkap: “kajian” itu ternyata novel. Fiksi.
Sebagian menertawakannya. Tapi sesungguhnya, tradisi strategic fiction di Barat memang serius. Pentagon, think-tank, dan lembaga keamanan sering memakai novel sebagai medium latihan skenario. Fiksi bukan ramalan. Ia simulasi risiko.
Maka pertanyaan sesungguhnya bukan: apakah Indonesia benar-benar bubar?
Tetapi: apakah kondisi yang digambarkan novel itu memiliki potensi nyata?
Jawabannya: sebagian potensinya memang ada.
Namun bukan pada skenario dramatis “negara bubar”. Melainkan pada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih berbahaya: negara yang tetap berdiri, tetapi melemah fungsinya.
Negara ada. Bendera berkibar. Pemilu tetap digelar. Tetapi kualitas tata kelola menurun, hukum kehilangan wibawa, institusi diisi loyalitas keluarga, bukan kapasitas, dan rakyat perlahan kehilangan kepercayaan.
Inilah skenario yang lebih realistis.
Bukan bubar.
Tetapi survive with scars.
Tanda-tandanya dapat dibaca lewat beberapa indikator risiko.
Pertama: utang dan ketergantungan fiskal.
Ketika pendapatan negara stagnan sementara belanja meningkat, defisit ditutup dengan utang. Jika ini berlangsung lama, ruang gerak kebijakan menyempit. Negara akhirnya lebih sibuk membayar bunga daripada membangun kapasitas. Kedaulatan ekonomi mengecil tanpa satu pun peluru ditembakkan.
Kedua: korupsi struktural.
Ketika hukum dapat dinegosiasikan, kepercayaan publik runtuh. Negara tidak tumbang, tetapi kehilangan legitimasinya. Rakyat patuh bukan karena hormat, melainkan karena terpaksa. Ini kondisi paling rapuh bagi republik mana pun.
Ketiga: ketimpangan sosial.
Jurang kaya dan miskin yang melebar menciptakan bom waktu sosial. Ketika mobilitas sosial buntu, energi muda berubah menjadi apatis — atau radikal.
Keempat: nepotisme politik.
Ketika kekuasaan diwariskan, bukan diperebutkan melalui meritokrasi, kapasitas negara menurun. Negara tidak kekurangan pejabat, tetapi kekurangan negarawan.
Dalam konteks ini, wacana kemungkinan seorang figur muda yang naik bukan karena rekam jejak administratif panjang, melainkan karena garis keturunan politik Gibran Rakabuming Raka menjadi contoh sempurna bagaimana negara bisa melemah tanpa kudeta, tanpa perang, tanpa deklarasi bubar. Semua terjadi halus, administratif, legal — namun menggerus kualitas republik sedikit demi sedikit.
Kelima: brain drain.
Ketika generasi terbaik memilih pergi karena merasa sistem tidak memberi ruang adil, inovasi berhenti tumbuh. Negara tetap ada, tetapi kehilangan tenaga pembaharu.
Jika lima faktor ini bertemu, lahirlah negara yang utuh secara formal, tetapi rapuh secara fungsi.
Inilah yang tak tertulis di Ghost Fleet, tetapi justru lebih dekat pada realitas kita sendiri.
Karena itu, novel fiksi tentang Indonesia bubar sebenarnya tidak perlu dipercaya sebagai ramalan. Ia cukup dibaca sebagai peringatan. Seperti The Year of Living Dangerously yang membantu dunia memahami Indonesia 1965, Ghost Fleet membantu kita bercermin pada Indonesia yang mungkin — jika tata kelola diabaikan.
Pada akhirnya, republik tidak runtuh karena diserang dari luar. Ia runtuh — atau lebih tepatnya melemah — karena dibiarkan salah urus dari dalam.
Dan di titik inilah, peran jurnalisme kritis, masyarakat sipil, serta warga yang tidak mau diam menjadi benteng terakhir agar Indonesia tidak menjadi sekadar fiksi yang ditulis orang lain tentang kegagalan kita sendiri.

























