By Paman BED
Perjalanan menuju Citeko biasanya hanya kisah macet dan kabut Puncak.
Namun kali ini, kabut terasa seperti tirai tipis yang perlahan membuka panggung ketenangan.
Di balik udara dingin pegunungan, para alumni Boedoet yang kini memasuki usia senja menemukan kembali sesuatu yang lama tersembunyi: kehangatan yang lahir dari hati yang ingin memberi.
Tak ada rapat panjang.
Tak ada komando.
Hanya kesepahaman sunyi—bahwa di usia enam puluh lima, kebahagiaan tidak lagi dicari, melainkan dibagikan.
Seperti firman-Nya:
“Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya kembali untuk dirimu sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 272)
Sekelompok anak yatim piatu yang diundang ke villa itu tertawa tanpa beban.
Keceriaan mereka memantul seperti cermin bening—menyejukkan siapa pun yang memandang.
Di balik tubuh-tubuh kecil itu, ada rapuh yang tabah.
Ada kekurangan yang tak pernah menyerah.
Setiap tangan yang dijabat seakan mengikat simpul baru
antara kasih dan ketulusan.
Dan sabda Nabi bergema lembut di hati:
“Pengasuh anak yatim bersamaku di surga seperti dua jari yang berdampingan.”
(HR. Bukhari)
Sore itu terasa nyata:
memberi bukan soal seberapa banyak,
melainkan seberapa tulus.
Bukan sekadar perpindahan harta,
tetapi perpindahan cahaya
dari satu jiwa ke jiwa lain.
Ketika matahari tenggelam pelan di balik punggung gunung,
tersadarlah bahwa setiap sedekah
adalah doa yang terbang lebih cepat dari angin—
dan kembali membawa damai
bagi siapa pun yang melepaskannya.
Dalam perjalanan pulang,
kabut kembali turun.
Namun hati para pejalan
telah jauh lebih terang.
Seolah alam berbisik lirih:
Kadang hidup tidak meminta kita
memiliki lebih banyak,
tetapi mengizinkan kita
memberi lebih dalam.
By Paman BED





















