• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Mitos Kegagalan Konstituante

fusilat by fusilat
September 15, 2025
in Feature, Politik, Sejarah
0
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Mitos Kegagalan Konstituante
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno kerap digambarkan sebagai penyelamat bangsa dari kebuntuan politik. Narasi resmi yang dikonstruksi sejak era Orde Lama hingga Orde Baru menempatkan lembaga Konstituante—badan yang diberi mandat merumuskan Undang-Undang Dasar baru—sebagai lembaga gagal karena perdebatan yang tidak kunjung selesai. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, Dekrit tersebut bukanlah sekadar solusi atas kebuntuan, melainkan puncak dari perebutan kekuasaan yang kompleks, melibatkan Soekarno, militer, dan dinamika politik Demokrasi Parlementer.


Penciptaan Mitos Kegagalan Konstituante

Pada masa Demokrasi Parlementer, politik Indonesia terbelah ke dalam beberapa arus pemikiran. Perdebatan yang populer memang berpusat pada persoalan dasar negara: Pancasila atau Islam. Tetapi, ada isu-isu fundamental lain yang tak kalah penting:

  • Sistem Konstitusi: Apakah Indonesia akan kembali ke UUD 1945 atau menyusun konstitusi baru?
  • Sistem Pemerintahan: Apakah yang lebih sesuai adalah presidensial atau parlementer?
  • Konsep Negara: Apakah negara harus berwatak integralistik (kekeluargaan) atau demokratis?

Inilah inti perdebatan di Konstituante. Narasi resmi yang menggambarkannya sebagai lembaga gagal tidak sepenuhnya benar. Faktanya, Konstituante sudah menorehkan capaian penting sebelum memasuki masa reses. Mereka berhasil merumuskan ketentuan Hak Asasi Manusia yang bahkan lebih komprehensif dibanding Universal Declaration of Human Rights 1948. Mayoritas anggota juga condong mempertahankan sistem parlementer karena dianggap lebih demokratis. Persoalan dasar negara, yang kerap dituding sebagai biang kebuntuan, sebenarnya masih dalam proses lobi-lobi politik.

Namun, capaian ini menimbulkan kegelisahan di kalangan Soekarno dan militer. Dalam sistem parlementer, presiden hanya berperan seremonial dan militer tunduk pada supremasi sipil. Posisi ini tidak sesuai dengan ambisi politik Soekarno maupun kepentingan militer yang ingin memperluas pengaruhnya. Kondisi kian genting setelah Mohammad Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1957, meninggalkan Soekarno tanpa penyeimbang politik yang kuat.


Dekrit dan Legitimasi Mitos

Pada 5 Juli 1959, Soekarno mengeluarkan Dekrit yang membubarkan Konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945. Langkah ini dibalut narasi bahwa Konstituante gagal menyelesaikan tugasnya akibat perdebatan yang tidak berkesudahan. Narasi inilah yang kemudian direproduksi Orde Baru untuk memperkuat legitimasinya.

Rezim Soeharto bahkan menciptakan istilah Demokrasi Liberal untuk menyebut masa Demokrasi Parlementer, dengan maksud menegasikan periode itu sebagai masa penuh pertikaian ideologi. Sebaliknya, mereka mengklaim Demokrasi Pancasila sebagai sistem ideal. Baik Orde Lama dengan konsep Nasakomnya maupun Orde Baru dengan jargon Demokrasi Pancasila sama-sama membangun mitos kegagalan Konstituante demi membenarkan pemusatan kekuasaan di tangan eksekutif.


Membongkar Mitos

Pada masa Orde Baru, kritik terhadap narasi resmi sejarah amat berisiko. Namun, sejumlah intelektual berani meluruskannya.

Salah satunya adalah Adnan Buyung Nasution. Melalui disertasinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, Buyung menunjukkan bahwa Konstituante tidak gagal. Lembaga itu justru dibubarkan karena tekanan eksternal, terutama dari Soekarno dan militer yang cemas kehilangan kekuasaan dalam sistem parlementer. Konstituante, menurut Buyung, adalah bukti berkembangnya semangat konstitusionalisme dan penghormatan terhadap HAM di Indonesia—semangat yang kemudian dibungkam oleh praktik politik otoriter.

Tokoh lain, Marsillam Simanjuntak, lewat bukunya Pandangan Negara Integralistik, Sumber, Unsur dan Riwayatnya dalam Persiapan UUD 1945, membongkar mitos mengenai negara integralistik yang dijadikan justifikasi ideologis Orde Baru. Marsillam membuktikan bahwa konsep itu sebenarnya sudah ditolak dalam perumusan UUD 1945, namun kemudian “diselundupkan” ke dalam memori kolektif bangsa seakan-akan merupakan cita-cita para pendiri negara.


Kesimpulan

Pembubaran Konstituante melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tidak bisa dipandang sebagai kegagalan Demokrasi Parlementer. Peristiwa itu lebih tepat disebut sebagai coup d’état konstitusional yang dilakukan oleh Soekarno bersama militer demi melanggengkan kekuasaan.

Mitos kegagalan Konstituante yang diciptakan Orde Lama dan diwarisi Orde Baru hanyalah instrumen politik untuk melegitimasi konsentrasi kekuasaan di tangan eksekutif. Padahal, Konstituante telah membuka jalan bagi berkembangnya konstitusionalisme, penghormatan terhadap HAM, dan demokrasi yang lebih matang.

Dengan membongkar mitos ini, sejarah dapat dilihat lebih jernih: kegagalan bukanlah milik Konstituante, melainkan milik praktik politik otoriter yang menolak demokrasi.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Beras Bulog: Dua Dekade Masalah yang Tak Pernah Tuntas

Next Post

Hakim Frank Caprio (1936–2025): Hakim yang Dikagumi Dunia

fusilat

fusilat

Related Posts

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?
Feature

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026
Feature

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda
Feature

Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

May 30, 2026
Next Post
Hakim Frank Caprio (1936–2025): Hakim yang Dikagumi Dunia

Hakim Frank Caprio (1936–2025): Hakim yang Dikagumi Dunia

Terbukti Mengkriminalisasi Wartawan, PPWI Desak Kapolri Copot Kapolres Blora

Terbukti Mengkriminalisasi Wartawan, PPWI Desak Kapolri Copot Kapolres Blora

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

May 30, 2026

Jembatan Akselerasi Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja (Program Sertifikasi dan Standardisasi Kapasitas SDM)

May 30, 2026

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026

EKONOMI KEDAULATAN NASIONAL; JALAN TENGAH ANTARA NEGARA PASIF DAN NEGARA SERAKAH

May 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...