“Setiap kali kita merasa ingin menyerah, apa yang membuat kita terus maju?Ia adalah Lilin yg ada di dalam diri kita. Inilah yang tidak mau peduli seberapa keras kita mencoba untuk meniupnya. Untuk beberapa alasan lilin itu akan tetap ada dan menyala.Berjuang untukmu. Apa itu? Harapan”.
Sesal itu kemudian. Ini pepatah yang selalu ku ingat. Mewanti-wanti saja, agar setiap langkahku, selalu diwaspadai. Kata guru saya itu namanya “consciousness”. Kesadaran. Supaya kelak, aku tidak menyalahkan Tuhan, padahal itu kecerobohan yang dibuat oleh diri sendiri. Jadi itulah jalan yang sesungguhnya, bagaimana menciptakan taqdir baiku sendiri.
Sesekali, kadang makan pagi saya, pindah sambil duduk di veranda depan rumah. Kesempatan untuk menikmati udara segar sambil mendengar nyanyian burung kutilang yang liar sekitar rumah ku. Mereka saling sahut menyahut seperti sedang berduet. “The birds sing but not a song”, ini saya abaikan memaknainya, karena tidak dapat saya tangkap apa semiotikanya. Burung burung kutilang tetangga ku itu, bernyanyi karena seperti sedang merayakan, memeriahkan kesuka citaannya.
Waktu tinggal di Desa, makan pagi saya adalah surabi. Saya beli sendiri dari tetangga yang jualan didepan rumahnya. Tetapi belakangan, saya makan pagi sering dibuatkan roti dan secangkir kopi hitam, yang disiapkan khusus oleh istri. Ternyata enak banget.
Pada potongan terakhir, saat hendak menghabiskan roti itu, saya diingatkan oleh kesadaran tadi. Walau kopi pahit tanpa gula, tapi saya telah mengomsumsi “hiden sugar” sebenarnya. Ini istilah dari sahabat saya, Dewi Huges, yang sudah lama, ia meninggalkan makanan carbo hidrat, sehingga tubuhnya kini jadi langsing, tampak lebih sehat dan semakin cantik. Gula itu terselubung dalam roti itu.
Memang terakhir ini, saya seperti sedang frustrasi. Pasalnya karena duga’an saya, seperti pernah terjadi 4 tahun yang lalu, saat berada di Jepang, kadar gulaku tertinggi dalam sejarah hidupku. HBA1C-nya 9.9. Akibat dari ini, kaki kiri-ku seperti kena struk ringan. Jalan sedikit pincang. Tak bisa dilipat, saat duduk diantara dua sujud. Baru tahun ke dua, bisa pulih lagi. Saat di Cambodia, hendak ke Bali, saya hampir tidak bisa terbang, karena darah tinggi ku, tak terkendali. Darah tinggi dan cholesterol adalah tetangga akrab diabetis yang selalu menyertainya.
Betul, kali terkahir ini, HBA1C nya 9.3. Itulah ketika, sempat, saat terpapar omicron covid19 yang lalu, kosa kata baru “komorbit” yang menghantui diri saya setiap hari. Membayangkan tubuh ini diusung dalam peti jenasah, tak ada yang diijinkan atau berani turut mengantarkannya.
Disitulah, pikiran saya liar kemana-mana. Tetapi intinya, saya ingin terlahir kembali tanpa diabetis. Kapok.
Punya penyakit bawaan ini, adik-adik saya 5 orang penyandang komorbit diabetis, yang sudah 15 tahun lebih, ada bersama hidupku. Tapi tak pernah bisa akur dengan pola makan, yang sama dan aman untuk penyakit yang menyebalkan itu. Umpamanya, bila kemarin saya makan dengan menu A, hari ini dengan pola makan yang sama, tidak menghasilkan tingkat gula darah yang sama pula dalam tubuh. Bisa jadi 2 kali lebih tinggi dari yang kemarin, karena ada factor lain yang mempengaruhi. Ia adalah Pikiran dan emosi. Bagi si penderita diabetis, susaana kejiwaan, lebih bahaya dari pada makan Onigiri. Dua faktor itu sama dengan makan lahap gulai kepala Ikan kakap plus tambah nasi dua kali di Krekot.
Bagaimana sembuh dari Diabetis?
Kontrol rutin saya ke Dr. Erwin di Kebon Jeruk sana, menjadi ilmu baru saya bagaimana mengendalikan diabetis. Setiap kali saya konsul, resepnya adalah pola makan diatur, tambah dosis obatnya, plus tambahan obat lain, seperti vitamin dan obat-obat herbal lainnya. Tapi semua obat-obat lain, yang juga direkomendasikan oleh teman-teman yang senasib, semua pil-pil itu pada dasarnya mengandung unsur metvormin. Sama saja.
Kerisauan karena diabetis itu, mendorong saya, selalu mencari tahu obat dan cara yan tepat melawannya. Akhirnya, bertemu dengan suatu pendapat, bahwa diabetis itu, bukan penyakit. Nah, membaca ini, darah harapanku mengalir lagi.
Saya pernah menulis begini ; “Setiap kali kita merasa ingin menyerah, apa yang membuat kita terus maju? Ia adalah Lilin yg ada di dalam diri kita. Inilah yang tidak mau peduli seberapa keras kita mencoba untuk meniupnya. Untuk beberapa alasan lilin itu akan tetap ada dan menyala. Berjuang untukmu. Apa itu? Harapan”.
Disebut bukan penyakit, karena sebenarnya penyebab utamanya adalah soal Pola Hidup (life style). Apa itu? Ada 3 jurus bagaimana menjaga supaya diabetis itu dapat bersahabat dengan diri kita, walau saya tidak disiplin dengan ini, tapi ini bagiku adalah mujarab.
Pertama, sekali lagi, atur asupan makanan. Ingat bedakan perut yang kosong, berbeda dengan perut yang lapar. Saat tarasa lapar, itulah tubuh kita memohon diisi. Kebiasaan mengemil, sebenarnya itu mengisi perut yang kosong, bukan karena lapar. Tidak baik bagi yang diabetis.
Kedua, olah raga. Hindari berkendaraan. Sepanjang itu masih bisa dilakukan dengan jalan kaki. Naik turun, tangga, hindari lift, bila lutut masih mampu berjuang untuk naik ke puncak let’s do it.
Ketiga, ini bagian pengting. Jangan abai. Obat itu penting. Lupakan mengonsumsi obat kimia itu, merusak ginjal. Sebab, tanpa bantuan obat, bagi komorbit diabetis, kerja ginjal juga semakin berat.
Seperti biasa, bila dengan tiga pola strategis menghindari diabetis ini, tidak mujarab, segera menghubungi dokter ahli anda.


























