• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

ISLAMOFOBIA DAN LOGIKA BERFIKIR INFERIOR

fusilat by fusilat
August 23, 2022
in Feature
1
ISLAMOFOBIA DAN LOGIKA BERFIKIR INFERIOR
Share on FacebookShare on Twitter

Ari Dharma – Dosen

Pemetaan terhadap indikasi muncul nya perilaku Islamofobia di Indonesia, ternyata memprovokasi timbulnya pertanyaan baru. Yaitu, kenapa perilaku Islomofobia dapat muncul di “Timur”, di negara yang lebih dari 80% penduduk nya adalah Muslim?

Premis yang selama ini berlaku menempatkan Islamofobia sebagai perilaku yang hanya terjadi di “Barat”, tempat dimana Muslim adalah minoritas baik secara demografis, politis maupun ekonomi. Fakta bahwa indikasi perilaku Islamofobia muncul di “Timur”, di negeri tercinta, merupakan kenyataan yang mengusik rasa kebangsaan warga Muslim di negari ini.

Agar dapat mengetahui kenapa perilaku Islamofobia dapat muncul di Indonesia, penelaahan dari sudut pandang teori Antecedent Behavior Consequences merupakan salah satu pilihan yang dapat diambil.

Teori ini menyatakan bahwa kemunculan perilaku dipicu oleh antecedent atau pendahulu yang dapat berupa kejadian, tindakan, sifat atau keadaan yang memicu kemunculan suatu perilaku. Dalam konteks Islamofobia, fokus pada pemahaman antecedent dari perilaku yang muncul merupakan fondasi untuk memahami kenapa perilaku itu terjadi.

Untuk mendapatkan gambaran antecedent dari perilaku Islamofobia, ia dilihat sebagai bentuk paling terselubung dari rasisme Epistemik, satu bentuk perilaku struktural yang berlangsung di alam bawah sadar yang membentuk logika berfikir bangsa “Inferior” dimana hanya bangsa “Superior” saja yang memiliki pemahaman terhadap “Universalitas”, “Rasionalitas”, dan “Kebenaran”.

Rasisme epistemik sendiri merupakan warisan masa kolonial, masa dimana sebagian bangsa di muka bumi ini menjadi objek kolonialisme bangsa Eropa yang berlangsung selama ratusan tahun, dimulai sejak akhir abad ke lima belas hingga berakhir di penghujung abad ke dua puluh.

Kolonialisme membentuk interaksi antara bangsa penjajah “Barat” sebagai bangsa “Superior” dengan bangsa terjajah “Timur” sebagai bangsa yang “Inferior”. Dalam konteks relasi kolonialisme inilah rasisme Epistemik terbentuk, logika berfikir yang menempatkan kan penjajah “Barat” sebagai “Superior” sebagai satu satu nya pemilik pemahaman “Universalitas”, “Rationalitas”, dan “Kebenaran”.

Dalam sudut pandang kaitan antara rasisme Epistemik dan Islamofobia, tidak lagi relevan untuk mendeskripsikan “Barat” dan “Timur” sebagai teritori, tapi dipandang dari sudut pandang hubungan antara bangsa penjajah, “Superior” dengan bangsa terjajah, “Inferior”.

Punahnya kolonialisme tak menjadikan rasisme Epistemik turut punah, dunia tetap menjadi panggung bagi rasisme Epistemik. Tokoh “Superior” dan “Inferior” tetap ada, hanya para pemeran nya saja yang berubah seiring waktu.

Pada era kolonialisme, pemeran tokoh “Superior” adalah negara negara Eropa. Saat perang dingin, setelah perang dunia kedua, pemeran berganti, Amerika Serikat dan Rusia yang menjadi tokoh “Superior”. Setelah perang dingin berakhir dan memasuki era perdagangan global, hingga saat ini Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina yang memainkan peran sebagai tokoh “Superior”.

Selam 350 tahun sebagai negara jajahan dan 77 sebagai negara merdeka, Indonesia memainkan peranan yang relatif sama. Peranan sebagai “Inferior” saat menjadi bangsa terjajah, lalu setelah merdeka memainkan peran yang relatif “Inferior” bila dibandingkan Amerika Serikat dan RRC yang merepresentasikan lebih dari 40% kekuatan ekonomi dunia.

Dalam konteks rasisme Epistemik kita coba melihat bagaimana kesamaan perilaku Islamofobia yang dilakukan Amerika Serikat dan RRC sebagai “Superior” dengan indikasi perilaku Islamofobia yang dilakukan oleh pejabat dan aparat negara serta elit bangsa di Indonesia.

Tragedi 9/11 menjadi awal menguatnya perilaku Islamofobia Amerika Serikat dalam bentuk mengkaitkan Islam dengan terorisme dan hardliner. Ini dapat dilihat dari sejumlah kebijakan dan inisiatif “Anti Teror” Amerika Serikat yang bahkan secara eksplisit menargetkan Arab dan Muslim

Tragedi Kun Ming menjadi awal semakin menguatnya perilaku Islamofobia RRC dalam bentuk mengkaitkan Islam dengan terorisme, bahkan membenturkan Islam dengan budaya Cina dan tatanan masarakat Sosialis yang ingin dicapai Partai Komunis Cina. Presiden Jinping bahkan menyatakan, Islam di negara itu harus berorientasi Cina dan beradaptasi dengan tatanan masarakat sosialis.

Perilaku Islamofobia Amerika Serikat dan RRC yang mengkaitkan Islam dengan terorisme dan garis keras itu, ternyata memiliki kesamaan dengan narasi penggiringan opini yang dilakukan oleh pejabat dan aparat negara yang bahkan semenjak tujuh tahun belakangan ini semakin marak terjadi.

Perilaku Islamofobia RRC untuk menjadikan Islam di negara itu berorientasi Cina dan beradaptasi dengan tatanan masarakat sosialis ternyata memiliki kesamaan dengan pernyataan beberapa pejabat negara dan elit bangsa terkait Islam Nusantara, Sinkretisme serta pembenturan atara Islam dengan Pancasila.

Dari kesamaan diatas, dapat kita simpulkan, indikasi perilaku Islamofobia oleh pejabat dan aparat negara serta elit bangsa, sedikit banyak merupakan pencerminan dari perilaku Islamofobia yang ditampilkan oleh Amerika Serikat dan RRC.

Pencerminan yang menjadi indikasi bahwa antecedent perilaku Islamofobia di negara ini adalah rasisme Epistemik. Perilaku yang dipicu logika berfikir “Inferior” yang dilandasi pemahaman bahwa Amerika Serikat dan RRC sebagai “Superior” menjadi pemilik pemahaman “Universalitas”, “Rationalitas” dan “Kebenaran”.

Kesimpulan yang menakutkan karena antecedent perilaku Islamofobia di negara kita adalah, perilaku struktural yang berlangsung di alam bawah sadar yang membentuk logika berfikir “Inferior” yang dimiliki pejabat dan aparat negara serta elit bangsa. Antecedent laten yang mengakibatkan perilaku ini memiliki potensi berulang tanpa disadari oleh pelakunya.

Setelah memahami antecedent perilaku Islamofobia di Indonesia, pertanyaan berikut nya adalah, bagaimana cara kita mencegah kemunculan perilaku Islamofobia dimasa depan?

Cara jangka pendek dan termudah adalah dengan memberikan negatif feedback terhadap perilaku Islamofobia yang muncul, Cara yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi karena tidak mudah untuk merubah antecedent perilaku struktural yang berlangsung di alam bawah sadar yang membentuk logika berfikir “Inferior”.

Alternatif lain adalah dengan cara yang lebih strategis dan berjangka panjang, yaitu dengan memanfaatkan momentum Pemilu pada tahun 2024 nanti. Menggunakan hak konstitusional kita sebagai rakyat untuk memilih pemimpin negara.

Pilihan untuk memastikan bahwa negara ini di pimpin oleh pemimpin yang memiliki logika berfikir “Superior”, pemimpin yang dapat menempatkan Indonesia sebagai mitra sejajar negara lain di dunia. Pemimpin yang dapat berdiri diatas semua agama dan golongan serta dengan tegas mengatakan bahwa Pancasila sejalan dengan ajaran agama Islam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dialektika : “Bila Aku Dilahirkan Kembali” – Obat Mujarab Bebas Diabetis

Next Post

Anggota DPR Sindir Gaya Hidup Anak Buah Ferdy Sambo Gonta Ganti Mobil hingga Pamer Kemewahan, Ini Sosoknya!!!

fusilat

fusilat

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik
Feature

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Next Post
Anggota DPR Sindir Gaya Hidup Anak Buah Ferdy Sambo Gonta Ganti Mobil hingga Pamer Kemewahan, Ini Sosoknya!!!

Anggota DPR Sindir Gaya Hidup Anak Buah Ferdy Sambo Gonta Ganti Mobil hingga Pamer Kemewahan, Ini Sosoknya!!!

Pengadilan Tinggi Malaysia Penjarakan Najib – Tolak Naik Banding

Pengadilan Tinggi Malaysia Penjarakan Najib - Tolak Naik Banding

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist