• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dialog Imaginatif Gibran dan Purbaya: Belajar Dulu Sebelum Ngomong

Ali Syarief by Ali Syarief
October 18, 2025
in Feature, Tokoh
0
Dialog Imaginatif Gibran dan Purbaya: Belajar Dulu Sebelum Ngomong
Share on FacebookShare on Twitter

Pagi itu, udara Jakarta masih lembap ketika Menke Purbaya keluar dari Kantor Kementerian Keuangan di Jalan Dr. Wahidin Raya. Jam menunjukkan pukul 10.19 WIB. Kepada wartawan yang menunggu di halaman, ia berkata singkat, “Mau ke kantor wapres. Diajakin diskusi soal ekonomi.”
Ucapan itu sederhana, tapi cukup untuk memantik rasa ingin tahu banyak pihak: apa yang hendak didiskusikan antara seorang teknokrat yang dikenal berani menabrak kepentingan dengan seorang wakil presiden yang kerap jadi bahan cemooh karena dianggap berpikir cetek?

Pertemuan itu, menurut sumber imajinatif kita, berlangsung hangat namun kikuk. Purbaya datang dengan map tebal berisi data, grafik, dan analisis ekonomi makro; sementara Gibran menyambut dengan secangkir kopi dan kepercayaan diri yang besar.
“Pak Purbaya,” katanya membuka pembicaraan, “saya pengin paham soal ekonomi. Biar kalau wartawan nanya, saya bisa jawab.”

Purbaya tersenyum tipis — sebuah senyum khas para pejabat senior yang tahu lawan bicaranya belum mengerti medan yang akan mereka masuki. Ia lalu mulai menjelaskan tentang inflasi, subsidi energi, dan beratnya beban APBN.
Namun di tengah penjelasan serius itu, Gibran tiba-tiba memotong:
“Oh, inflasi itu kayak harga cilok naik, kan Pak?”

Kalimat itu menggantung di udara. Bagi Purbaya, perbandingan ekonomi nasional dengan cilok mungkin terasa seperti menjelaskan relativitas Einstein pada anak TK. Tapi ia mencoba bersabar, menjelaskan lagi dengan bahasa yang lebih sederhana.
Sayangnya, kesederhanaan tak selalu menjamin pemahaman. Gibran kemudian menimpali, “Ya udah, suruh aja UMKM turunin harga ciloknya.”

Pada titik ini, Purbaya hanya bisa menarik napas panjang — napas panjang yang mewakili beban intelektual seluruh birokrasi yang harus menyesuaikan diri dengan “logika jualan cilok”.
Namun, seperti seorang guru sabar di kelas yang gaduh, ia tetap melanjutkan. Ia bicara tentang struktur harga, tentang pasar, dan tentang keseimbangan antara subsidi dan daya beli. Tapi Gibran membalas dengan semangat khas pengusaha muda:
“Saya tuh paham, Pak. Ekonomi itu kayak jualan. Kalau untung kecil, naikin harga. Kalau nggak laku, kasih promo.”

Purbaya terdiam sesaat, menatap jendela, lalu berkata pelan tapi dalam:
“Kalau negara dikelola dengan logika jualan cilok, Mas, kita bisa kolaps sebelum akhir tahun.”

Jawaban itu seperti tamparan halus. Gibran tersenyum kikuk, lalu berusaha menutup pembicaraan dengan kalimat aman: “Berarti saya harus banyak belajar ya, Pak?”
Dan Purbaya menjawab dengan bijak, “Itu kalimat paling baik yang saya dengar hari ini. Belajar dulu sebelum ngomong.”

Namun sebelum Purbaya beranjak, Gibran sempat bertanya lagi:
“Kalau ekonomi kita berat, masih sempat nggak bikin event besar di IKN? Soalnya Bapak Presiden suka yang heboh-heboh.”

Purbaya menatapnya lama, lalu berkata lirih, “Mas… jangan terus berpesta kalau dapur negara sedang kosong.”

Kalimat itu mungkin sederhana, tapi mengandung makna yang lebih dalam daripada angka-angka ekonomi mana pun. Ia bukan sekadar kritik pada cara berpikir pejabat muda yang tumbuh dalam euforia pencitraan, tapi juga sindiran pada seluruh sistem yang lebih sibuk membangun panggung ketimbang memperbaiki isi dapur negara.

Pertemuan imajinatif itu berakhir dengan dua tokoh yang berjalan di dua dunia berbeda: satu hidup dalam data, satu lagi dalam ilusi.
Dan di atas meja Wapres, tertinggal selembar kertas dengan tulisan tangan besar dan dilingkari tebal:

“Belajar dulu sebelum ngomong.”


Refleksi: Antara Kepemimpinan dan Kedalaman

Esai imajinatif ini bukan sekadar potret lucu dari percakapan dua tokoh yang berjarak dalam kapasitas intelektualnya. Ia adalah cermin dari keadaan politik hari ini: di mana jabatan tinggi tak lagi menuntut kedalaman berpikir, tapi cukup dengan loyalitas dan nama belakang yang tepat.

Purbaya, dalam sosok imajinasinya, mewakili sedikit sisa rasionalitas dalam pemerintahan — figur teknokrat yang masih percaya pada data, logika, dan tanggung jawab moral. Sementara Gibran menjadi simbol dari generasi politik yang dibesarkan dalam kenyamanan, diangkat bukan karena pemahaman, tetapi karena koneksi.

“Belajar dulu sebelum ngomong” bukan hanya nasihat bagi seorang wakil presiden, tetapi bagi seluruh bangsa yang kerap lebih cepat berbicara daripada berpikir.
Negara ini sudah terlalu sering berpesta di tengah krisis, tertawa di tengah kekosongan, dan bertepuk tangan untuk pencitraan yang tak menghasilkan kesejahteraan.

Mungkin, jika kita semua mau belajar dulu sebelum bicara — seperti yang disarankan Purbaya — maka politik akan kembali menjadi ruang berpikir, bukan sekadar ruang pertunjukan.
Dan ekonomi, seperti cilok yang sempat disebut dalam dialog absurd itu, akan kembali menjadi makanan rakyat, bukan bahan dagangan kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Blunder Besar Jokowi Dalam Proyek Kereta Cepat

Next Post

Yang Diajarkan Nabi Itu Akhlaqul Karimah – Bukan Ngesot

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Yang Diajarkan Nabi Itu Akhlaqul Karimah – Bukan Ngesot

Yang Diajarkan Nabi Itu Akhlaqul Karimah - Bukan Ngesot

Luhut Pandjaitan & Pandu Sjahrir

Luhut Pandjaitan & Pandu Sjahrir

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...