Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Like uncle like nephew. Paman dan keponakan sama saja. Jika Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru bisa dievaluasi setelah 10 tahun berjalan, maka Pandu Patria Sjahrir pun mengatakan, Danantara baru bisa dievaluasi setelah 10 tahun berjalan.
Luhut adalah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), sedangkan Pandu adalah Chief Investment Officer (CIO) Danantara.
Pandu adalah keponakan dari Luhut, atau anak dari adik Luhut yang bernama Nurmala Kartini yang menikah dengan mendiang ekonom Sjahrir.
Pandu bisa menjadi CIO Danantara disinyalir karena menjadi keponakan Luhut. Ada ordal (orang dalam) di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang membuat Pandu melenting tinggi.
Luhut menentang desakan masyarakat agar program MBG dihentikan karena sudah menelan puluhan ribu korban anak sekolah yang keracunan. Jangankan dihentikan, Luhut bahkan menyatakan program MBG baru bisa dievaluasi setelah 10 tahun berjalan.
Entah apa maksud Luhut. Mungkin MBG ia nilai sebagai program populis atau pro-rakyat yang akan mengantarkan Prabowo terpilih kembali di Pemilu 2029. Atau mungkin saja Luhut punya kepentingan ekonomi dalam program MBG yang di lapangan banyak melibatkan politikus ini.
Sepuluh tahun dari sekarang berarti tahun 2035. Artinya, ketika program MBG yang menjadi janji kampanye Prabowo di Pemilu 2024 lalu kelak dievaluasi, Prabowo sudah tidak menjabat Presiden lagi. Mungkin demikian maksud Luhut.
Padahal, sejumlah hal yang didukung Luhut sudah terbukti salah. Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, misalnya. Proyek yang didukung Luhut habis-habisan ini kini membukukan kerugian triliunan rupiah. Juga meninggalkan segunung utang. Bahkan Indonesia harus membayar ke China yang bunganya saja mencapai dua triliun rupiah per tahun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipakai untuk membayar bunga utang ke China terkait proyek kereta api yang diberi nama Whoosh itu. Purbaya menghendaki Danantara yang membayar utang dan bunga proyek Whoosh itu ke China.
Akan tetapi, Pandu Sjahrir menolak. CIO Danantara yang juga keponakan Luhut itu berdalih dividen atau keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tahun ini mencapai Rp90 triliun itu akan digunkan untuk investasi, bukan untuk membayar utang dan bunganya.
Seperti Luhut, Pandu pun mengatakan, Danantara yang merupakan metamorfosis dari Kementerian BUMN yang telah dibubarkan itu baru bisa dievaluasi setelah 10 tahun berjalan. Kok bisa?
Bukankah evaluasi bisa dilakukan setiap tahun bahkan setiap bulan? Mengapa harus menunggu sampai 10 tahun? Apakah menunggu sampai Prabowo lengser juga?
Danantara juga tidak kreatif. Induk BUMN ini menggunakan uangnya untuk membeli bond atau surat utang pemerintah; suatu hal yang membuat Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa “murka”.
Pandu berdalih, pembelian bond itu hanya dilakukan Danantara kali ini saja karena waktu tersisa cuma tiga bulan. Selanjutnya uang Danantara akan digunakan untuk investasi atau membiayai proyek sehingga roda perekonomian berputar.
Mengapa mindset atau pola pikir Luhut dan Pandu sama: evaluasi baru bisa dilakukan setelah 10 tahun berjalannya program?
Mungkin karena keduanya ada hubungan keluarga, antara paman dan keponakan, sehingga mindset atau pola pikirnya pun sama. Ada transfer pemikiran dari Luhut ke Pandu.
Mungkin keduanya juga punya “hidden agenda” atau agenda terselubung yang sama, yang bukan buat kemajuan bangsa dan negara. Mereka laiknya penumpang gelap di gerbong pemerintahan Prabowo.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















