Fusilatnews – Di tengah maraknya praktik keagamaan yang semakin seremonial, kita seperti kehilangan arah tentang apa yang sebenarnya diajarkan Nabi Muhammad ﷺ. Jalan jongkok di depan kiai, ritual penghormatan yang berlebihan, hingga pembelaan membabi buta terhadap institusi keagamaan — semuanya tampak menjauh dari esensi Islam yang luhur. Padahal, inti risalah Nabi sederhana namun agung: “Innamā bu‘itstu li utammima makārimal akhlāq” — Aku diutus tiada lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Sejarah tidak pernah mencatat para sahabat berjalan jongkok di hadapan Nabi. Tidak ada Imam Mazhab atau tabi’in yang menunduk-nunduk di depan gurunya demi disebut beradab. Mereka menghormati dengan cara yang lebih dalam: dengan meneladani ilmu, kejujuran, dan akhlaknya. Sebab Nabi tidak mengajarkan penghormatan yang memperkecil martabat manusia, melainkan akhlak yang meninggikan derajat kemanusiaan.
Namun di sebagian lingkungan keagamaan kita, tradisi yang berakar dari budaya lokal justru dijadikan simbol kesalehan. Ketika tradisi itu dikritik, pembelaannya pun muncul: “ini bagian dari adab santri terhadap kiai.” Lebih ironis lagi, ketika muncul kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual di pesantren, suara keagamaan justru membisu. Semuanya dianggap “urusan internal.” Padahal, bukankah kejujuran dan keterbukaan adalah bagian dari akhlakul karimah yang seharusnya dijunjung?
Sikap menutup diri semacam itu bukanlah cermin dari Islam yang diajarkan Nabi. Akhlak mulia justru menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan, meminta maaf kepada masyarakat, dan berkomitmen memperbaiki diri. Menghindari tanggung jawab dengan dalih menjaga nama baik agama sama saja dengan menodai nilai-nilai moral yang ingin dijaga.
Kita tentu perlu menghargai tradisi Nusantara sebagai kekayaan budaya. Namun, agama tidak boleh dijadikan tameng bagi perilaku yang menyalahi nilai moral. Bila tradisi dipertahankan hanya untuk melindungi otoritas, bukan menegakkan kebenaran, maka Islam justru yang dirugikan. Sebab Islam bukan sekadar simbol dan ritual — ia adalah moralitas yang hidup dan menuntun.
Menjadi umat Nabi berarti meneladani substansi, bukan sekadar bentuk. Nabi tidak pernah meminta umatnya berjalan jongkok di hadapannya, tetapi mengajarkan agar manusia saling memuliakan tanpa saling merendahkan. Maka, jika kita ingin disebut sebagai pengikut Rasulullah, buktikan dengan akhlak: jujur dalam lisan, adil dalam tindakan, dan lembut dalam hati.
Sebab yang diajarkan Nabi bukan sekadar agama yang dipelajari di kitab, melainkan akhlak yang harus dihidupkan dalam kehidupan. Dan selama akhlak itu belum menjadi napas umatnya, maka risalah kenabian belum benar-benar dihidupkan.




















