Jakarta, FusilatNews,- Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk sejak merdeka dari Inggris pada 1948. Negara itu gagal membayar utang luar negerinya sehingga dikatakan bangkrut. Sri Lanka gagal bayar utang luar negeri sebesar US$ 51 miliar atau Rp 729 triliun (kurs Rp 14.300). Kekurangan makanan, bahan bakar minyak (BBM), serta pemadaman listrik berkepanjangan membawa penderitaan kepada 22 juta orang di negara itu.
China disebut sebagai negara pemberi pinjaman terbesar ke Sri Lanka dengan total nilai US$ 8 miliar atau setara Rp118,4 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS). Jumlah ini seperenam dari total utang luar negeri Sri Lanka sebesar US$45 miliar pada April 2022. Dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (24/6/2022) yang melansir Times of India, tahun ini saja, Sri Lanka utang US$1 miliar hingga US$2 miliar ke Negeri Tirai Bambu.
Pemerintah Sri Lanka banyak meminjam dari Beijing sejak 2005 untuk sejumlah proyek infrastruktur, termasuk pelabuhan Hambantota. Namun, proyek infrastruktur tersebut dianggap tak memberi manfaat.
Sri Lanka juga menyewakan pelabuhan Hambantota ke sebuah perusahaan China pada 2017 setelah tidak mampu membayar utang $1,4 miliar kepada Beijing.
Mengutip Reuters, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa meminta China untuk membantu merestrukturisasi pembayaran utang ketika ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Januari lalu.
Sementara itu, Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe akhirnya buka suara soal kebangkrutan yang menimpa negaranya. Ia mengatakan kondisi ekonomi negaranya kini memang tengah krisis saat ini.
Krisis terjadi akibat utang luar negeri Sri Lanka yang cukup besar dan kondisi buruk lainnya.
“Ekonomi kita benar-benar runtuh,” ujar Wickremesinghe kepada Parlemen.
Wickremesinghe mengatakan Sri Lanka tidak dapat membeli bahan bakar impor karena utang yang besar dari perusahaan minyak negara tersebut. Ceylon Petroleum Corporation disebut memiliki utang US$700 juta. “Akibatnya, tidak ada negara atau organisasi di dunia yang mau menyediakan bahan bakar untuk kami. Mereka bahkan enggan menyediakan bahan bakar untuk uang tunai,” ujar Wickremesinghe.
Ini juga peringatan bagi Indonesia yang juga punya banyak utang ke China. Dikutip dari Kompas.com, Jumat (27/5/2022), posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan I 2022 tercatat sebesar 411,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 6.033 triliun (kurs Rp 14.661 per dollar AS).
Dari jumlah tersebut, utang Indonesia ke China tercatat sebesar 22 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 322 triliun dengan asumsi nilai tukar yang sama. Sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), China selalu menjadi salah satu negara pemberi utang terbesar ke Indonesia.





















