Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).

Jakarta, Fusilatnews – Sudah nyaris pasti Donald Trump akan memenangi kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Amerika Serikat, 5 November mendatang.
Trump dari Partai Republik, yang pernah memenangi Pilpres AS pada 2016, kali ini bertindak sebagai penantang. Sementara yang ditantang adalah petahana Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat.
Akan tetapi, Biden akhirnya menyatakan mundur dari pencalonan, Minggu (21/7/2024), setelah popularitas dan elektabilitasnya anjlok dalam beberapa jajak pendapat. Biden kemudian menunjuk Wakil Presiden Kemala Harris sebagai kandidat calon presiden penggantinya dari Partai Demokrat.
Ada sejumlah faktor yang mendorong anjloknya popularitas dan elektabilitas Biden. Pertama, performanya dalam debat perdana kandidat capres dengan Trump, Juni lalu. Saat itu pidato Biden tidak meyakinkan, bahkan kerap mengalami “slip of tongue” (keseleo lidah) seperti salah menyebut nama tokoh tertentu.
Akibatnya, internal kubu Demokrat sendiri pun mendesak agar capres petahana berusia 81 tahun itu mundur saja karena sudah pasti akan dikalahkan Trump yang saat ini berusia 78 tahun bila tetap maju.
Kedua, insiden penembakan Trump saat pidato kampanye di Pennsylvania, Sabtu (23/7/2024), yang mengenai telinga kanannya, dan peluru hanya berjarak kurang dari dua inci dari kepalanya.
Insiden penembakan yang diikuti penembakan mati atas pelakunya, Thomas Matthew Crooks oleh aparat ini menjadi semacam “blessing in disguise” (berkah di balik musibah) bagi satu-satunya mantan Presiden AS yang pernah divonis bersalah dalam kasus pidana, dalam hal ini uang tutup mulut bagi bekas bintang porno yang pernah dikencaninya.
Sontak, popularitas dan elektabilitas Trump langsung melejit, menenggelamkan Biden di pihak lain yang lebih menyerupai “lame duck” (bebek lumpuh).
Apalagi setelah capres petahana itu didera influensa berat dan kemudian terpapar Covid-19 yang membuat penampilannya di depan publik makin merosot.
Bahkan ada yang bespekulasi dengan teori konspirasi bahwa insiden penembakan Trump itu sudah diskenariokan orang dalam Trump sendiri yang akan dijadikan senjata bagi Trump untuk menarik simpati publik.
Trump disinyalir sedang memainkan “playing victim” atau memosisikan diri sebagai korban kezaliman. Apalagi pasca-penembakan itu Bidan langsung menjadi sasaran kecaman publik karena dituduh ada di balik upaya penembakan itu.
Kini, Trump akan menghadapi Kemala Harris, wanita kedua setelah Hillary Clinton yang dinominasikan sebagai capres dalam sejarah AS, dalam Pilpres AS yang akan digelar pada 5 November mendatang.
Seperti Hillary, Kemala yang kini berusia 59 tahun berlatar pengacara dan sama-sama dari Partai Demokrat. Namun, pada Pilpres 2016, Hillary dikalahkan Trump dengan selisih suara yang sangat tipis sebagaimana Biden mengalahkan Trump pada Pilpres 2020.
Akankah di Pilpres 2024 nanti Kemala dikalahkan Trump? Tampaknya demikian. Sebab, popularitas dan elektabilitas Trump tak terbendung lagi. Apalagi usai insiden penembakan Trump yang merenggut nyawa seorang pendukung capres berlatar pengusaha itu.
Akan tetapi, siapa pun Presiden AS, tak akan berpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan zionis Israel atas Palestina. Entah presidennya dari kubu Republik atau Demokrat, AS akan tetap menjadi pembela terdepan Israel, sekutu utama AS di Timur Tengah.
Memang, jika presidennya dari kubu Demokrat, seperti pada era Barack Obama dan kini Joe Biden, dukungan AS terhadap Israel terkesan ambigu. Atau standar ganda. Tapi pada prinsipnya, AS tetap membela segala kebijakan Israel atas Palestina, apa pun kebijakan itu.
Sedangkan jika Presiden AS berasal dari kubu Republik, seperti di era Trump (2016-2020), dukungan negara Paman Sam itu kepada Israel akan “all out”, tidak ada ambiguitas lagi. Contohnya Trump memindahkan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem tahun 2018 lalu.
Biden yang tempo hari membantu Palestina dengan mengirim bantuan ke Gaza, disebut Trump sebagai “Palestina buruk”. Kebijakan Trump terhadap Palestina, jika benar nanti terpilih, dipastikan akan lebih keras lagi.
Biden memang ambigu terhadap Palestina. Tapi pada prinsipnya AS tetap mendukung Israel. AS akan memveto apa pun hasil pemungutan suara di Dewan Keamanan (DK) dan Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) jika merugikan Israel.
Mengapa AS selalu mendukung Israel?
Pertama, karena banyak orang Yahudi yang tinggal dan kemudian menjadi warga negara AS. Bahkan di AS ada lobi Yahudi yang menguasai jaringan bisnis dan politik.
Kedua, sejak berakhirnya Perang Dunia II, AS bangga menjadi pahlawan bagi Yahudi dan juga Israel. Sebab AS-lah yang mengalahkan Jerman, negara yang menjadi pelaku Holocaust atau pembersihan etnis Yahudi.
Ketiga, Israel merupakan “The Little America” di Timur Tengah. Israel menjadi semacam penegak hukum dan pos terdepan hegemoni AS di Timur Tengah.
Ketiga alasan itulah yang membuat siapa pun Presiden AS pasti mendukung apa pun kebijakan Israel atas Palestina bahkan negara-negara Arab lainnya seperti Iran yang juga menjadi musuh bebuyutan AS.
Apa pun makanannya minumnya teh. Siapa pun presidennya, AS tetap mendukung Israel.





















