By Paman BED
Metro Mini itu bergerak perlahan meninggalkan halte terakhir, lalu memutar arah untuk memulai rute sebaliknya. Pagi masih lengang.
Penumpangnya baru tiga orang: sepasang suami istri muda dan anak mereka yang berusia dua tahun.
Sang suami duduk di bangku belakang sopir, memangku si kecil yang masih mengisap botol susu. Di depannya, sang istri duduk di atas mesin, mendekatkan wajahnya ke wajah anak mereka. Ia membuat ekspresi lucu—mata membesar, bibir dimonyongkan—hingga si kecil terkikik, menepuk-nepuk botolnya sendiri.
Tawa itu memantul di dinding kendaraan yang sederhana.
Suasana mereka hangat. Biasa saja.
Dan justru karena itulah ia terasa berharga.
Perjalanan mereka hanya dua halte. Tak ada firasat apa pun. Tak ada tanda yang mencurigakan.
Pengemudi hari itu bukan sopir tetap. Ia sopir cadangan—yang biasa disebut sopir batangan—pengganti tidak resmi yang bekerja atas dasar hubungan pertemanan, bukan penugasan perusahaan.
Entah karena merasa penumpang sedikit, ia menekan pedal gas lebih dalam. Kendaraan melesat.
Sang suami spontan menegur. Meminta agar tidak ngebut—ada anak kecil.
Teguran itu tak digubris. Laju justru makin liar. Kendaraan berzigzag, seolah jalanan miliknya sendiri.
Tubuh mereka terombang-ambing.
Sang suami refleks memeluk anaknya lebih erat, menundukkan kepala untuk melindungi wajah kecil itu. Ia tak lagi memikirkan dirinya.
Detik berikutnya, segalanya runtuh.
Kendaraan kehilangan kendali. Ban berdecit panjang. Tubuh Metro Mini menukik, lalu terjungkal ke dalam parit besar. Benturan keras mengguncang segalanya. Mesin mendesis. Bau bahan bakar menyengat.
Api mulai menjalar dari bagian depan.
Sang istri terseret ke sisi kendaraan yang miring. Panas menyambar kakinya. Dalam kepulan asap, ia mendengar suara suaminya—tertahan, namun jelas:
“Selamatkan anak kita dulu.”
Ia meraih si kecil. Tangannya gemetar, tetapi pelukannya kokoh. Asap makin menyesakkan. Kendaraan kian condong.
Dengan langkah tertatih, ia turun melalui celah pintu yang terbuka, memeluk anaknya seakan tak ada ruang sedikit pun bagi bahaya untuk masuk.
Di dalam, sang suami berusaha menggerakkan tubuhnya. Tangan kanannya tak lagi menurut. Nyeri terasa seperti merobek dari dalam. Ia menyeret diri perlahan—menahan napas, menahan sakit, menahan kemungkinan terburuk.
Waktu terasa seperti seutas benang tipis yang hampir putus.
Teriakan warga terdengar. Beberapa orang turun ke parit.
Tangan-tangan asing meraih dan menariknya keluar. Tak lama setelah itu, api membesar.
Lengannya mengalami lepas sendi. Tubuhnya gemetar.
Namun ketika ia melihat istri dan anaknya berdiri di tepi jalan—selamat—dadanya dipenuhi sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa sakit.
Malam itu ia tidak tidur. Setiap gerakan menyiksa. Diam pun menyiksa.
Namun di sela nyeri yang datang bergelombang, bibirnya bergerak oleh dzikir yang lirih.
Dalam ingatannya terngiang sabda Rasulullah ﷺ, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.”
Sabda itu dahulu sering ia dengar.
Kini ia merasakannya—mengalir perlahan, seperti penawar yang tak terlihat.
Jika sakit ini adalah cara Allah membersihkan, pikirnya, maka biarlah ia bersabar.
Keesokan harinya, seorang ahli tulang mengembalikan sendi lengannya ke tempat semula. Nyeri berkurang, meski belum sepenuhnya pergi.
Namun ada sesuatu yang telah berubah.
Ia tak lagi memandang peristiwa itu semata sebagai kecelakaan.
Ia memandangnya sebagai pengingat.
Beberapa malam kemudian, ketika rumah kembali sunyi, ia duduk di sisi tempat tidur anaknya. Si kecil terlelap. Napasnya teratur. Wajahnya tenang—seolah tak pernah mengenal dentuman keras atau jilatan api.
Ia mengusap kepala anak itu perlahan.
Lengannya masih terasa ngilu.
Namun hatinya lapang.
Di luar, malam berjalan seperti biasa.
Dan di dalam dada seorang ayah, sesuatu telah tumbuh—lebih kuat daripada rasa sakit, lebih lama daripada luka.
Keikhlasan.
By Paman BED





















