London – Fusilatnews – Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zumlot, menyerukan embargo senjata terhadap Israel serta mendesak dunia internasional untuk menuntut pertanggungjawaban atas apa yang ia sebut sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Israel di Jalur Gaza.
Pernyataan tersebut muncul seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel atas operasi militernya yang kembali menggempur Gaza dan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dilanda krisis tersebut.
Dalam sebuah pernyataan bersama yang dirilis pada Senin (20/5), tiga negara sekutu utama Barat – Inggris, Prancis, dan Kanada – memperingatkan Israel bahwa mereka siap mengambil “tindakan konkret” apabila Tel Aviv tidak segera menghentikan operasi militernya di Gaza dan mencabut pembatasan terhadap bantuan kemanusiaan.
“Kami sangat menentang perluasan operasi militer Israel di Gaza. Tingkat penderitaan manusia di Gaza tidak dapat ditoleransi,” tulis pernyataan yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Selain mengecam serangan terbaru di Gaza, ketiga pemimpin tersebut juga mengutuk perluasan permukiman ilegal Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Mereka memperingatkan akan menjatuhkan sanksi yang ditargetkan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran hukum internasional dan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Palestina.
Husam Zumlot menyambut baik langkah tersebut namun menegaskan bahwa pernyataan harus dibarengi dengan tindakan nyata. “Ini bukan saatnya untuk retorika. Ini saatnya untuk akuntabilitas dan embargo senjata terhadap rezim yang terbukti melakukan kejahatan perang,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Kondisi di Gaza saat ini terus memburuk. Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 35.000 warga sipil telah tewas sejak serangan besar-besaran Israel diluncurkan Oktober lalu, menyusul serangan Hamas ke wilayah selatan Israel.
Sementara itu, PBB memperingatkan bahwa lebih dari satu juta warga Gaza berada di ambang kelaparan karena terhambatnya pengiriman bantuan dan hancurnya infrastruktur sipil akibat gempuran tanpa henti.
Langkah Inggris, Prancis, dan Kanada ini dinilai sebagai salah satu sinyal terkuat dari negara-negara Barat untuk menekan Israel secara diplomatik, di tengah meningkatnya kemarahan publik dunia terhadap eskalasi kekerasan yang terus berlangsung.
Sumber: Al Jazeera





















