Oleh Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP
Erick Thohir, “murid kesayangan Jokowi”, kini ibarat siswa yang bukan hanya gagal naik kelas, tapi justru turun kelas. Dan yang lebih ironis, wali kelas barunya adalah Presiden Prabowo Subianto.
Analogi ini bukan sekadar permainan kata. Di dunia nyata, dalam Kabinet Merah Putih yang baru, posisi Erick Thohir menurun secara simbolik. Dari menteri yang dulu dielu-elukan Jokowi sebagai golden boy dan wajah profesionalisme kabinet, kini ia harus menghadapi kenyataan pahit: beberapa hasil kerjanya mulai “dipertanyakan”.
Lebih perih lagi, Erick justru diperolok oleh “adik kelasnya” — sosok yang kini naik daun, Purbaya Y. Sadewa, Menteri Keuangan baru yang dulu menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Purbaya, yang dulu hanya staf di sejumlah kementerian, kini “menolak” laporan pertanggungjawaban keuangan Erick terkait proyek kereta cepat.
Pertanyaan publik pun menggelitik:
Apakah akan ada lagi laporan keuangan lain yang ditolak oleh sang adik kelas?
Kita tunggu saja.
Sebab daftar menteri yang punya “utang moral” kepada publik tampaknya masih panjang: Luhut Binsar yang mengaku jujur tapi selalu misterius, Bahlil yang lihai bermain peran, Airlangga yang tampak wibawa dari luar tapi rapuh di dalam, Muhaimin yang piawai berpolitik dua kaki, dan Zulhas yang tak pernah akur dengan seniornya, Amien Rais.
Namun, di antara semuanya, Erick tampak paling “kebal dan tebal muka”. Seperti murid yang tak peduli nilai rapornya jeblok asal tetap di kelas favorit. Prinsipnya sederhana: tidak ada rotan, akar pun jadi — yang penting tetap jadi menteri.

Oleh Damai Hari Lubis





















