Dalam terminologi Qur’ani, terdapat ungkapan yang menggugah kesadaran: “Fahua minkum”, yang bermakna “maka dia adalah dari golongan kalian.” Ayat ini turun sebagai peringatan bahwa seseorang yang secara lahiriah tampak berada dalam kelompok kita, tetapi memiliki watak, niat, dan perilaku yang berbeda, sesungguhnya berasal dari kelompok yang lain — dari golongan yang selama ini diam-diam menjadi lawan nilai yang kita anut. Dalam ilmu komunikasi, istilah ini sejajar dengan konsep homophily — kecenderungan manusia untuk berkawan, bekerja sama, dan berkelompok dengan mereka yang memiliki kesamaan latar belakang, nilai, dan kepentingan.
Melalui lensa ini, persahabatan yang makin erat antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak bisa hanya dibaca sebagai rekonsiliasi demi persatuan bangsa. Ia patut dibaca sebagai manifestasi dari prinsip “fahua minkum”: bahwa seseorang akan cenderung berkumpul dan bersatu dengan sesamanya, dengan yang sejiwa dalam kepentingan dan ambisi — meskipun sebelumnya tampak sebagai musuh di panggung politik.
Dari Rival Menjadi Rekan: Rekonsiliasi atau Rekayasa?
Hubungan Jokowi dan Prabowo adalah drama politik yang membingungkan rakyat. Dua kali bertarung dalam Pilpres sebagai musuh bebuyutan dengan narasi yang seolah tak terjembatani — dari tuduhan pelanggaran HAM hingga soal keturunan PKI — namun akhirnya bersatu dalam kabinet. Bahkan kini, Prabowo tengah dipoles untuk melanjutkan estafet kekuasaan melalui jalan yang telah dibuka Jokowi.
Pertanyaannya: apakah ini hasil dari niat baik membangun bangsa bersama? Ataukah ini adalah konsolidasi kekuasaan di antara dua tokoh yang akhirnya menemukan kenyamanan dalam kepentingan yang sejalan?
Jika kita memakai lensa “fahua minkum”, maka jawaban yang jujur dan pahit adalah: mereka memang dari golongan yang sama. Bukan golongan rakyat, bukan pula golongan penegak amanah reformasi, tetapi golongan oligarki, pencari kuasa, dan pelindung status quo.
Homophily: Ketika Nilai Menyerah pada Kepentingan
Dalam komunikasi sosial, homophily menjelaskan bagaimana individu lebih mudah terhubung dan bekerja sama dengan mereka yang memiliki kemiripan dalam budaya, kelas sosial, hingga ideologi. Maka tidak mengherankan jika Jokowi yang konon berasal dari rakyat jelata, lambat laun menjalin kedekatan bukan dengan rakyat miskin, tapi justru dengan para jenderal dan konglomerat. Karena setelah menikmati kuasa, ia menjadi bagian dari mereka.
Prabowo, dengan latar militer dan jejaring elite Orde Baru, tampaknya menjadi teman senyawa yang pas. Tak ada lagi perbedaan prinsip, sebab prinsip sudah dikesampingkan. Yang tersisa hanyalah strategi, kalkulasi, dan penyatuan kekuatan untuk melanggengkan pengaruh.
Peringatan Langit dan Kebangkrutan Moral Politik
Jika kita masih memiliki nurani yang jernih, maka persahabatan Jokowi dan Prabowo harus dibaca sebagai peringatan: bahwa politik kita sedang kehilangan arah, bahwa musuh lama bisa menjadi sahabat karib asalkan ada keuntungan yang dijanjikan. Kita seakan menyaksikan realisasi firman Ilahi tentang manusia yang akan bergabung dengan yang sekaumnya — bukan berdasarkan nilai, tapi atas dasar kesamaan kepentingan dan ambisi duniawi.
Persahabatan mereka bukanlah jembatan rekonsiliasi, tapi menara pengkhianatan terhadap idealisme reformasi, terhadap impian rakyat tentang pemimpin yang jujur dan berpihak. Jokowi telah membuktikan dirinya sebagai pendusta, yang tak hanya mengingkari janji-janji kampanye, tapi juga mempermainkan harapan rakyat. Prabowo, yang dulu dielu-elukan sebagai antitesis Jokowi, ternyata hanya bagian dari skenario besar untuk mempertahankan hegemoni elit.
Kesimpulan: Siapa Golongan Kita?
Kini kita ditantang untuk bertanya: kita bagian dari siapa? Apakah kita akan larut dalam ilusi persatuan yang dibuat oleh para penipu itu? Atau kita akan menegaskan bahwa kita bukan dari golongan mereka? Bahwa kita menolak menjadi bagian dari homophily para penguasa, dan memilih untuk berdiri bersama rakyat — bersama yang jujur, yang bersuara, dan yang terus melawan?
Karena dalam akhir cerita ini, hanya ada dua golongan: yang melayani rakyat atau yang memperalat rakyat. Dan persahabatan Jokowi-Prabowo telah memberi tahu kita dengan jelas, mereka bukan dari golongan kita.






















