Makasar – FusilatNews.–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat provinsi yang diikuti siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA negeri maupun swasta se-Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut berlangsung di SLB Negeri 2 Makassar pada 21–22 Mei 2026.
Berbagai cabang lomba dipertandingkan dalam festival tersebut, di antaranya catur, dongeng, menyanyi, puisi, dan sejumlah perlombaan seni lainnya. Sebelum perlombaan dimulai, para pengunjung disuguhkan penampilan grup drum band Gita Bahana Viswara yang terdiri dari siswa-siswi disabilitas dengan beragam kebutuhan khusus, mulai dari disabilitas netra, grahita, hingga tuli. 
Pelatih Gita Bahana Viswara, Eka Putra Nur Resky, mengatakan grup drum band tersebut lahir dari gagasannya untuk memperluas jejaring antar-SLB, khususnya antara sekolah dengan peserta didik disabilitas netra dan sekolah dengan ragam disabilitas lainnya.
“Kolaborasi antara SLB A YAPTI dan SLB YPAC dalam penampilan Gita Bahana Viswara di pembukaan FLS3N menjadi langkah awal yang baik,” ujar Eka saat ditemui awak media.
Ia menambahkan, ke depan dirinya ingin melibatkan lebih banyak anak berkebutuhan khusus dari berbagai jenis disabilitas dalam kegiatan serupa.
“Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, saya ingin melibatkan bukan hanya teman tuli dan disabilitas intelektual, tetapi juga disabilitas netra dan disabilitas lainnya,” katanya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Kepala SLB A YAPTI, Subu B., S.Pd., serta Kepala SLB YPAC, Rosbiati, S.Pd., M.Pd.
“Alhamdulillah, kami selaku pemangku kebijakan di sekolah sangat mendukung gebrakan ini. Kami berharap Gita Bahana Viswara tidak hanya tampil di FLS3N, tetapi juga di berbagai kegiatan lain dan bisa berkolaborasi dengan sekolah reguler,” ujar Rosbiati.
Eka menjelaskan, konsep kolaborasi dalam grup tersebut dibangun dari kemampuan masing-masing peserta didik. Menurutnya, siswa disabilitas netra dapat menjadi “telinga” bagi teman tuli, sementara siswa tuli dapat menjadi “mata” bagi teman netra. Adapun siswa grahita berperan sebagai penghubung di antara keduanya sehingga hambatan saat tampil dapat diatasi bersama.
“Melalui festival ini kami ingin membuktikan bahwa anak-anak disabilitas mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa stigma terhadap disabilitas bisa diubah,” ungkapnya.
Di akhir perbincangan, Eka turut menjelaskan makna nama Gita Bahana Viswara. Menurutnya, nama tersebut memiliki arti “harmoni nada dan semangat yang lahir dari keberagaman, di mana perbedaan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dalam satu kesatuan.”
Nama itu merepresentasikan para personel drum band yang berasal dari berbagai latar disabilitas, seperti netra, tuli, intelektual, dan lainnya. Meski memiliki keterbatasan yang berbeda, mereka mampu membangun kekompakan melalui musik dan irama.
“Hambatan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Justru keberagaman menjadi simbol persatuan, kerja sama, dan saling melengkapi satu sama lain,” tutup Eka.





















