Malika Dwi Ana
Dandhy Laksono dan Watchdoc enam tahun lalu pernah merilis Sexy Killers. Film yang membongkar hubungan mesra politisi, oligarki tambang batubara, dan kerusakan lingkungan di Kalimantan Timur. Dirilis pas masa tenang Pilpres 2019, langsung meledak dan viral.
Beberapa tahun kemudian muncul Dirty Vote, yang kembali menghebohkan soal politik uang, oligarki, dan demokrasi transaksional menjelang pemilu. Dan kini giliran Pesta Babi — lagi-lagi Dandhy cs — yang mengangkat deforestasi masif di Papua untuk food estate, tebu bioetanol, dan sawit atas nama “ketahanan pangan”.
Polanya selalu sama, seperti mantra yang berulang:
- Ekspos oligarki + kroni + aparat
- Heboh sesaat, trending, jutaan views
- Nobar dibubarkan atau diblokir
- Narasi “anti-pembangunan” atau “provokasi” dilontarkan
- BuzzeRp dan kang cebok pemerintah gerak cepat dengan kontra-narasi, ada yang dibeli, dibungkam, atau diintimidasi
- Kemudian semuanya kembali ke business as usual. Yang nyangkul ya balik nyangkul, yang maling ya balik maling, yang kebiasaan cabul ya balik nyari korban, dan seterusnya dan seterusnya.
Dari Sexy Killers ke Dirty Vote, lalu ke Pesta Babi. Semua film ini berhasil membuat sebagian orang mikir, melek informasi, dan marah sejenak, misuh-misuh di medsos. Tapi hasil akhirnya? Hampir nihil.
Rakyat Kaltim masih hidup di antara lubang tambang batubara yang menganga. Papua semakin gundul oleh proyek monokultur. Parlemen dan RI 1 tetap diisi oleh figur-figur yang sama atau bahkan lebih buruk. Pemilu datang, rakyat jelata kembali mencoblos dengan pola lama — seolah semua paparan dokumenter yang katanya “membuka cakrawala kesadaran” itu tak pernah mereka tonton.
Pesta Babi Oligarki terus berlanjut. Hutan disembelih, dagingnya dinikmati segelintir orang, rakyat adat cuma beroleh tulang dan janji kosong. Dulu tambang batubara, sekarang agribisnis raksasa. Besok? Entah komoditas atau skandal apa lagi yang akan diangkat.
Fenomena sosialnya sungguh menyedihkan. Penduduk setempat — Dayak di Kaltim maupun Marind, Awyu di Papua — semakin terpinggirkan di tanah leluhur. Dari Dayak di Kaltim yang hidup di antara lubang tambang, sampai Marind dan Awyu di Papua yang kehilangan hutan pangan tradisional mereka.
Berbagai protes muncul, emosi memuncak sampai misuh-misuh di kolom komentar, tapi begitu coblosan tiba, masyarakat ya tetep membuat pilihan bodoh, short memory kembali aktif. Antara short memory dan sistemnya yang sudah terlalu kuat: izin PSN, dukungan militer, duit negara mengalir, dan pemilu yang hanya jadi kontes siapa lebih pandai bagi-bagi gentong. Oligarki dan kroni tertawa lebar. Mereka sudah hafal iramanya: satu film viral, sepuluh film viral, struktur kekuasaan dan ekonomi ekstraktif tetap berjalan. Kesadaran kolektif bangsa ini baru sebatas embun, yang sebentar muncul lalu lenyap ditilas mentari. Seneng diloloh bansos, lalu merelakan dipanen suaranya saat pemilu.
Dandhy dan timnya cukup produktif dan konsisten. Karya-karya mereka patut diacungi jempol sebagai upaya membuka tabir. Tapi selama rakyat hanya menjadi penonton emosional yang marah sesaat lalu kembali tidur, maka Pesta Babi ini akan terus berulang — berganti judul, berganti komoditas, berganti musuh publik, tapi intinya tetap sama: pesta oligarki pemakan bumi yang rakus, kotor, dan nggak mau disebut babi.
Meski demikian, masih ada secercah harapan, walaupun kecil dan rapuh, semoga bangsa ini segera mencapai titik jenuh yang sesungguhnya — titik jenuh kebodohan, titik jenuh kerusakan yang tak lagi bisa ditoleransi.
Bukan sekadar lonjakan views, bukan pula amarah sesaat yang memuncak lalu surut seperti ombak di lautan, atau embun di pagi hari. Melainkan kesadaran kolektif yang mendalam, yang benar-benar bertahan, yang mengubah cara kita berpikir, memilih, dan bertindak.
Sebelum hutan-hutan kita lenyap seluruhnya, sebelum tanah air ini gundul dan kering, sebelum anak-cucu kita hanya mewarisi debu, angin panas, utang, dan tumpukan penyesalan yang tak terucapkan.
Semoga kita masih punya waktu.
Malika Dwi Ana



















