Oleh: Aries Musnandar(Wakil Direktur Pascasarjana UNIRA Malang & Pemerhati Pendidikan)
Sebagai seorang praktisi pendidikan, penulis memandang bahwa esensi Idul Adha harus ditarik keluar dari sekadar ritual peribadatan personal. Momentum ini adalah kritik tajam sekaligus cetak biru bagi pembangunan kualitas kebangsaan warga negara, terutama bagi para elite pemimpin. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kepedulian radikal terhadap pemberantasan ketidakadilan dan keberanian untuk menumbangkan segala bentuk kezaliman struktur sosial.
Anjuran berkurban bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra terkasihnya, Nabi Ismail. Peristiwa ini menorehkan kesan yang sangat mendalam bagi sejarah kemanusiaan. Betapa tidak? Nabi Ibrahim yang telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun, seketika diuji Tuhan untuk mengorbankan Ismail.Beliau dihadapkan pada pilihan dilematis: tunduk pada titah mutlak Pencipta atau mempertahankan ego keduniawian dengan mengabaikan perintah-Nya. Karena didasari ketakwaan yang visioner, perintah tersebut tetap dilaksanakan. Pada puncaknya, Allah menggantikan posisi Ismail dengan seekor domba besar. Momentum historis ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102-109.
Titah Sang Pencipta kepada Ibrahim di saat beliau sedang menikmati kebahagiaan bersama anaknya, mengandung pembelajaran krusial bagi peningkatan kualitas personal sekaligus nasionalisme warga negara. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama yang transformatif. Dalam perspektif kualitas kebangsaan yang peduli pada pemberantasan ketidakadilan dan kezaliman, kisah ini memuat tiga pilar pembelajaran utama:
1. Dekonstruksi Berhala Kekuasaan dan Sifat Egoisme Korporat Penyembelihan Ismail adalah simbol penghancuran “berhala-berhala modern” yang sering kali memicu kezaliman di tengah bangsa. Ismail dalam konteks bernegara dapat berwujud jabatan, kekayaan berlebih, kelompok, atau ego sektoral yang dipelihara secara membabi buta. Warga negara yang berkualitas—terutama para elite pemimpin—harus berani “menyembelih” keserakahan pribadi dan golongan. Ketidakadilan struktural yang terjadi di masyarakat, seperti korupsi, kolusi, dan eksploitasi kaum lemah, lahir dari ketidakmampuan moral pemimpin mengendalikan ego kepemilikannya. Kurban mengajarkan bahwa kepentingan publik dan keadilan sosial harus berada di atas kepentingan oligarki.2. Keberanian Sipil Membela Hak Kaum Tertindas (Mustad’afin) Transformasi dari penyembelihan manusia (Ismail) menjadi seekor domba adalah manifesto teologis yang menolak segala bentuk dehumanisasi dan penindasan. Secara historis, peristiwa ini mendobrak tradisi kuno yang kerap mengorbankan darah manusia demi takhta atau ritual mistis.
2. Keberanian Sipil Membela Hak Kaum Tertindas (Mustad’afin). Transformasi dari penyembelihan manusia (Ismail) menjadi seekor domba adalah manifesto teologis yang menolak segala bentuk dehumanisasi dan penindasan. Secara historis, peristiwa ini mendobrak tradisi kuno yang kerap mengorbankan darah manusia demi takhta atau ritual mistis. Dalam konteks kebangsaan hari ini, esensi kurban adalah komitmen warga negara untuk melawan segala bentuk kezaliman sistemik yang mengorbankan hak-hak rakyat kecil. Menjadi pemimpin atau warga negara yang peduli berarti tidak mendiamkan terjadinya kesenjangan ekonomi, perampasan ruang hidup, maupun hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Kurban memanggil kepedulian kolektif untuk menegakkan keadilan yang setara.
3. Solidaritas Sosial sebagai Kekuatan Perlawanan terhadap Ketimpangan
Ritual pembagian daging kurban secara merata bukan sekadar aksi filantropi tahunan, melainkan sebuah gerakan pembebasan dari ketimpangan sosial. Melalui pendistribusian ini, sekat-sekat kelas antara si kaya dan si miskin dirobohkan seketika. Pemimpin yang memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi akan melihat momentum ini sebagai stimulus untuk membangun sistem sosial yang lebih adil dan inklusif melalui kebijakan pendidikan dan ekonomi. Distribusi kesejahteraan yang merata adalah senjata utama untuk mengikis kecemburuan sosial dan melawan ketidakadilan ekonomi yang memicu kezaliman masif di suatu negara.
Kesimpulan dan Ikhtisar: Kurban Sebagai Gerakan Moral
Sebagai penutup, esensi Idul Adha sejatinya adalah manifesto gerakan moral untuk mereformasi kualitas kebangsaan kita. Kisah Ibrahim dan Ismail memberikan ikhtisar berharga bahwa ketakwaan sejati menuntut keberanian untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi tegaknya keadilan universal.Melalui tiga pilar di atas—penghancuran ego kekuasaan, pembelaan kaum tertindas, dan pemerataan solidaritas—ibadah kurban bertransformasi dari kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial-politik yang nyata. Sudah saatnya para elite pemimpin bangsa mempraktikkan substansi kurban ini dengan menyembelih keserakahan kekuasaan mereka, demi melahirkan tatanan negara yang bersih, inklusif, dan bebas dari jerat kezaliman struktural.
Oleh: Aries Musnandar(Wakil Direktur Pascasarjana UNIRA Malang & Pemerhati Pendidikan)

















