JAKARTA, FusilatNews — Pengarang Andre Donas mengungkapkan rasa bangganya sebagai penulis asal Minangkabau dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Literasi Budaya Berpikir Minangkabau” yang diselenggarakan Yayasan Rawamangun Mendidik bekerja sama dengan Komite Sastra DKJ, Pusat Dokumentasi HB Jassin, dan Dana Indonesiana di kawasan TIM, Cikini, Jakarta, pada Mei 2026 sore.
Dalam pengantarnya, Andre menceritakan perjalanan hidupnya sejak merantau usai lulus SMA hingga menempuh pendidikan di bidang arkeologi di Universitas Indonesia selama lima tahun. Meski memiliki latar belakang akademik arkeologi, ia mengaku minatnya tidak terbatas pada satu bidang saja dan membawanya menekuni dunia kepenulisan.
“Saya setelah SMA merantau selama lima tahun kuliah di UI di bidang arkeologi, tetapi saya peduli pada bidang lain sehingga menjadi pengarang kitab Gampo dan Cerita di Waktu Hujan. Saya terkesan dengan laki-laki dan perempuan Minang yang memiliki ambisi untuk belajar dan bekerja, meskipun kini pejuang seperti itu mulai jarang. Saya bangga menjadi pengarang Minang,” ujar Andre.
Andre mengatakan karya-karyanya, baik novel maupun esai, mendapat respons positif dari masyarakat. Dua karya yang menjadi sorotan dalam acara tersebut adalah Cerita di Waktu Hujan dan Gampo.
Menurutnya, salah satu respons paling berkesan datang dari ibunya sendiri. Ia menyebut sang ibu merasa bangga karena sebagian besar kisah yang ditulis memiliki keterkaitan dengan pengalaman dan sosok ibunya.
“Banyak respons dari masyarakat terhadap karya saya, terutama dari ibu saya sendiri yang bangga karena banyak cerita di dalamnya tentang beliau,” katanya.
Dalam sambutannya, Budoyo Pracahyo menyampaikan bahwa masyarakat Minangkabau dikenal memiliki tradisi kuat dalam perdagangan, sastra, serta melahirkan banyak tokoh keagamaan dan intelektual.
“Minang dikenal melahirkan pedagang, sastrawan, dan tokoh agama. Dari berbagai riset sosial yang kami lakukan, semoga kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat. Tradisi Minang juga dikenal dengan budaya mengaji dan silat yang terus dipelihara,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pusat Dokumentasi HB Jassin, Hasan Asfahani, menilai Minangkabau telah banyak melahirkan tokoh penting dalam berbagai bidang dan berharap Andre Donas dapat mengikuti jejak para tokoh tersebut.
“Minang telah melahirkan banyak tokoh besar. Semoga hal itu dapat diikuti Andre Donas sebagai penulis berlatar arkeologi yang memiliki minat pada sastra Minang,” kata Hasan.
Diskusi dipandu moderator Prof. Madin dan menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Prof. Bagus Takwin, Okky Madasari, serta Asvi Warman Adam.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Pembina Yayasan Rawamangun Prof. Sugeng Prawoto berhalangan hadir.
Acara bedah buku ini menjadi ruang diskusi mengenai literasi dan budaya berpikir masyarakat Minangkabau, sekaligus memperkenalkan karya-karya Andre Donas kepada publik yang lebih luas.























