Oleh Firdaus Makassar
Goa – Fusilat News – Bagi sebagian orang, rekreasi adalah menikmati hamparan alam yang hijau, mengabadikan pemandangan melalui kamera, atau sekadar menghirup udara sejuk untuk melepas penat. Namun bagi sebagian lainnya, terutama penyandang disabilitas, pertanyaan mendasarnya justru lebih sederhana: apakah tempat itu dapat diakses?
Pertanyaan itu muncul saat kami mengunjungi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Moncongloe, Desa Bissoloro, pada Rabu, 13 Mei 2026. Selama dua malam kami berada di lokasi untuk menikmati berbagai pesona wisata yang ditawarkan kawasan tersebut.
Hamparan pohon pinus yang menjulang, udara dingin yang menyegarkan, serta suara kicauan burung yang bersahutan menghadirkan suasana tenang yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Alam menawarkan keteduhan dan ketenangan yang dapat menghilangkan penat.
Namun perjalanan ini tidak hanya menjadi momen untuk berwisata. Kami juga menjadikannya sebagai ruang untuk mengamati dan berdiskusi tentang satu persoalan yang sering luput dari perhatian: aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di tempat wisata.
Iman mengawali diskusi dengan menyoroti minimnya fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas di berbagai lokasi wisata.
“Sebagian orang fokus pada isu-isu besar, tetapi lupa bahwa disabilitas juga memiliki kebutuhan akan rekreasi. Padahal rekreasi bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi hak setiap orang tanpa terkecuali,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan satu kenyataan yang masih sering terjadi. Fasilitas wisata selama ini lebih banyak dirancang untuk orang tanpa hambatan fisik. Akibatnya, banyak penyandang disabilitas harus menghadapi tantangan yang lebih besar hanya untuk mendapatkan pengalaman yang sama.
Kandacong menilai bahwa pengalaman menikmati alam bagi penyandang disabilitas tentu memiliki cara yang berbeda.
“Dengan keterbatasan yang ada, penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama dengan orang lain untuk menikmati rekreasi,” katanya.
Rekreasi pada dasarnya merupakan kebutuhan semua orang. Aktivitas tersebut memiliki manfaat psikologis, membantu mengurangi tekanan, memulihkan pikiran, serta menghadirkan ketenangan batin. Hanya saja, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menikmati dan memaknai pengalaman tersebut.
Di tengah diskusi, Iman yang juga merupakan penyandang disabilitas netra menggambarkan pengalamannya saat berada di lokasi perkemahan.
“Kalau saya lebih menikmati suasana yang sejuk dan tenang. Kalau berbicara soal visual, tentu saya tidak bisa menikmatinya seperti orang lain. Tetapi menikmati sesuatu tidak hanya melalui satu indra, melainkan bisa melalui indra-indra lainnya,” jelasnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa menikmati keindahan tidak selalu harus melalui penglihatan. Suara, udara, aroma, hingga suasana sekitar juga dapat menghadirkan pengalaman yang bermakna.
Namun persoalannya bukan hanya pada cara menikmati alam, melainkan juga pada akses menuju pengalaman tersebut.
Biccu menilai bahwa perhatian terhadap aksesibilitas masih harus ditingkatkan, terutama bagi penyandang disabilitas netra dan pengguna kursi roda.
“Penyandang disabilitas juga membutuhkan rekreasi. Namun yang harus menjadi perhatian adalah apakah lokasi wisata tersebut benar-benar ramah bagi mereka atau tidak,” ujarnya.
Penyandang disabilitas netra, misalnya, membutuhkan penunjuk arah yang jelas atau pendamping yang dapat menggambarkan situasi sekitar. Sementara pengguna kursi roda memerlukan jalur yang aman dan mudah diakses agar dapat menikmati tempat wisata secara mandiri.
Menurut Biccu, pengelola wisata dan pemerintah perlu mulai melihat aksesibilitas sebagai bagian penting dari pelayanan publik, bukan sekadar fasilitas tambahan.
“Pembuatan jalur akses sebenarnya tidak bertentangan dengan estetika sebuah tempat wisata. Kita bisa merancang desain universal yang menggabungkan keindahan dan kemudahan akses secara bersamaan. Jika alasan estetika justru mengabaikan hak penyandang disabilitas, maka fasilitas wisata itu sesungguhnya belum lengkap,” tegasnya.
Aksesibilitas juga tidak hanya bermanfaat bagi penyandang disabilitas. Lansia, ibu hamil, anak-anak, hingga pengunjung dengan kebutuhan khusus lainnya juga akan merasakan manfaat yang sama.
Pada akhirnya, wisata bukan hanya tentang seberapa indah suatu tempat, tetapi juga tentang siapa saja yang dapat menikmatinya. Sebab ketika sebuah tempat wisata tidak menyediakan ruang bagi semua orang, maka keindahan yang ditawarkan sesungguhnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.
























