By Paman BED
Di zaman ketika layar ponsel lebih sering kita tatap daripada wajah sendiri, hidup terasa seperti lomba panjang tanpa garis finis. Setiap hari, kita disuguhi kabar orang lain: liburan, promosi jabatan, bisnis melejit, investasi meroket, rumah baru, mobil baru, gelar baru. Semua tampak bergerak cepat—sementara kita, kadang masih di tempat yang sama.
Di titik itulah FOMO bekerja.
Perasaan cemas, gelisah, takut tertinggal. Takut menjadi satu-satunya yang “belum sampai”. Takut menyesal karena merasa melewatkan peluang. Takut dianggap gagal oleh dunia yang semakin bising.
Fear of Missing Out (FOMO) bukan sekadar istilah psikologi. Ia telah menjadi denyut tak terlihat yang memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan mengambil keputusan.
Ketika Hidup Menjadi Ajang Perbandingan
FOMO menemukan ladang suburnya di media sosial. Platform seperti TikTok dan ekosistem milik Meta Platforms membanjiri kita dengan potongan-potongan “kehidupan terbaik” orang lain.
Yang tampil adalah senyum dan pencapaian.
Yang disembunyikan adalah lelah, gagal, jatuh, dan bangkit dalam sunyi.
Kita pun mulai membandingkan hidup utuh kita dengan highlight hidup orang lain.
Teman liburan—kita belum.
Teman sukses—kita masih berjuang.
Teman pamer pencapaian—kita mulai meragukan diri.
Lalu muncul suara kecil di kepala:
“Semua orang bahagia, cuma aku yang biasa saja.”
Di sanalah FOMO lahir.
Dari Layar ke Dompet, dari Pikiran ke Keputusan
FOMO tidak berhenti sebagai perasaan. Ia menjelma menjadi tindakan.
Di dunia investasi, grafik naik memancing euforia. Orang ramai-ramai membeli, kita ikut tanpa analisis. Takut ketinggalan cuan. Beli di puncak, panik saat turun, lalu menyesal.
Di dunia kerja, kita mengejar sertifikat demi sertifikat, seminar demi seminar—bukan karena strategi, tapi karena takut kalah cepat.
Dalam gaya hidup, kita membeli barang yang belum perlu, hanya karena satu alasan: semua orang punya.
FOMO menggeser keputusan rasional menjadi reaksi emosional.
Bukan lagi bertanya, “Apa yang aku butuhkan?”
Melainkan, “Apa yang sedang ramai?”
Mengapa Kita Mudah Terjebak?
Ada beberapa akar yang membuat FOMO begitu kuat:
- Otak manusia lebih takut kehilangan daripada senang mendapatkan.
Rugi terasa lebih menyakitkan daripada gagal mencoba. - Media sosial menciptakan ilusi kebahagiaan permanen.
Seolah semua orang selalu baik-baik saja—padahal tidak. - Tekanan sosial.
Kita ingin diakui, diterima, dan dianggap berhasil. - Krisis tujuan hidup.
Tanpa kompas, ombak sekecil apa pun bisa menyeret.
Di sinilah FOMO menemukan ladangnya.
FOMO: Alarm atau Racun?
FOMO sejatinya netral. Ia menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana kita mengelolanya.
Dalam dosis sehat, FOMO berfungsi sebagai alarm. Ia mendorong belajar, meningkatkan kapasitas, dan memperbaiki diri. Takut tertinggal ilmu, lalu rajin membaca. Takut tertinggal kompetensi, lalu serius berlatih. Ini healthy FOMO.
Namun ketika tak terkendali, FOMO berubah menjadi racun: keputusan impulsif, utang konsumtif, stres berkepanjangan, minder, burnout, bahkan kerugian finansial. Ini toxic FOMO.
Masalahnya bukan pada rasa takutnya, melainkan ke mana rasa takut itu diarahkan.
Ketika FOMO Bertemu Iman
Dalam perspektif iman, FOMO berakar pada satu kegelisahan mendasar: takut tidak kebagian.
Takut rezeki lewat.
Takut peluang habis.
Takut nasib berhenti.
Padahal Islam sejak awal menanamkan fondasi yang kokoh: iman kepada qadarullah.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”
(HR. Sahih Muslim)
Hidup ini tidak berjalan liar tanpa arah. Ada ukuran, ada ketentuan, ada hikmah yang sering baru kita pahami setelah waktu berlalu.
Iman kepada takdir membebaskan kita dari ilusi bahwa rezeki orang lain mengurangi jatah kita.
Tidak.
Apa yang menjadi bagian kita, tidak akan tertukar.
Ikhtiar: Antara Pasrah dan Perjuangan
Namun iman bukan alasan untuk diam.
Islam tidak mengajarkan pasrah sebelum berusaha.
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
“Dan manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab: belajar sebelum ujian, bekerja sebelum menuntut hasil, menghitung risiko sebelum berinvestasi.
Mengatakan “ini takdir” tanpa usaha bukan tawakal. Itu kemalasan yang dibungkus religiusitas.
Tawakal: Menyerahkan Setelah Maksimal
Setelah ikhtiar, barulah tawakal.
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.”
(HR. Sunan at-Tirmidzi)
Inilah rumus hidup yang sering kita lupa:
usaha dulu, pasrah kemudian.
Tawakal bukan berhenti berpikir.
Tawakal adalah berhenti cemas setelah berpikir maksimal.
FOMO yang Dilapisi Iman
Ketika FOMO dilapisi iman, ia berubah bentuk.
Bukan lagi:
“Kalau aku tidak ikut sekarang, aku hancur.”
Melainkan:
“Aku berusaha sebaik mungkin, sisanya aku serahkan pada Allah.”
Bukan lagi:
“Semua orang lebih cepat dariku.”
Melainkan:
“Setiap orang punya waktunya.”
Bukan lagi:
“Aku harus seperti mereka.”
Melainkan:
“Aku harus menjadi versi terbaik diriku.”
Di titik ini, FOMO tidak lagi memaksa. Ia hanya mengingatkan.
Menuju JOMO: Damai dengan Pilihan
Dari FOMO, kita diajak naik kelas menuju JOMO—Joy of Missing Out.
Bahagia meski tidak ikut semua tren.
Tenang meski tidak selalu viral.
Damai meski hidup sederhana.
Bukan karena menyerah, tapi karena sadar arah.
Orang yang punya tujuan hidup tidak sibuk mengejar bayangan orang lain.
Kesimpulan: Antara Takut dan Tawakal
FOMO adalah fenomena zaman. Ia tak bisa dihindari, tetapi bisa dikendalikan.
- Tanpa iman, FOMO melahirkan kecemasan.
- Tanpa ikhtiar, iman berubah menjadi alasan kemalasan.
- Tanpa tawakal, usaha menjelma beban.
Islam menawarkan keseimbangan:
takdir yang menenangkan hati,
ikhtiar yang menggerakkan langkah,
dan tawakal yang menguatkan jiwa.
Saran
Pertama, perjelas tujuan hidup. Tanpa arah, semua tren tampak penting.
Kedua, kurangi perbandingan sosial. Hidup bukan lomba lari massal, melainkan perjalanan personal.
Ketiga, latih kesadaran finansial dan emosional. Tidak semua yang viral perlu dibeli. Tidak semua yang ramai perlu diikuti.
Keempat, rawat iman dan tawakal. Di sanalah ketenangan yang tidak bisa diberikan algoritma.
Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah tertinggal tren—
melainkan kehilangan arah.
Referensi
- Al-Qur’an QS. Al-Qamar: 49
- Al-Qur’an QS. Ar-Ra’d: 11
- Al-Qur’an QS. An-Najm: 39
- Al-Qur’an QS. At-Taghabun: 13
- Al-Qur’an QS. At-Talaq: 3
- HR. Sahih Muslim (iman kepada takdir)
- HR. Sunan at-Tirmidzi (tawakal dan unta)
- Konsep Fear of Missing Out dalam psikologi sosial dan media digital
By Paman BED























