Kita hidup di zaman ketika simbol dipilih lebih karena daya klik, bukan daya tafsir.
Dan PSI tampaknya tahu betul ritme zaman itu. Maka mereka memutuskan mengganti mawar merah—yang barangkali sudah dianggap layu—dengan seekor gajah berkepala merah. Lalu menambahkan akhiran “Tbk.” seolah partai adalah entitas yang bisa dibeli per lembarnya, seperti saham yang bergerak naik-turun oleh cuaca opini publik.
Namun, seperti kata penyair yang saya lupa namanya, tidak semua yang mengkilap adalah emas. Dan tidak semua yang “rebranding” adalah kemajuan.
Tbk, tiga huruf yang dalam dunia bisnis mengandung struktur hukum yang rigid, tiba-tiba disisipkan ke dalam tubuh partai yang katanya progresif. Ini bukan soal legal formal belaka. Ini soal nalar: sejak kapan partai politik menjadi perusahaan terbuka?
Apakah solidaritas kini bisa dihitung dividen tahunannya?
PSI seolah sedang bermain-main di antara dua dunia: satu dunia politik yang memerlukan ideologi, prinsip, dan konsistensi; dan dunia dagang yang hidup dari impresi, instan, dan grafik performa. Di titik perlintasan itu, mereka tersandung oleh kesembronoan simbolik.
Gajah—dalam banyak peradaban—adalah lambang kekuatan, kebesaran, bahkan kesetiaan. Tapi simbol bukan sekadar bentuk binatang. Ia tumbuh dari sejarah dan pertarungan nilai. Ketika Partai Demokrat Amerika menggunakan gajah dan keledai, itu lahir dari satire politik berusia lebih dari satu abad. Ada narasi panjang yang menopang simbol itu, bahkan ketika ia diperdebatkan.
Lalu dari mana PSI menemukan gajah merahnya?
Ia muncul begitu saja. Tanpa akar. Tanpa cerita. Dan justru karena itu: hampa.
Simbol tanpa konteks ibarat patung tanpa alas. Ia mudah tumbang.
Di satu sisi, PSI mungkin ingin menunjukkan keterbukaan, kekuatan, dan keberanian. Tapi ketika semua itu diwujudkan dalam rupa-rupa yang kabur dan tidak dijelaskan, kita malah mendapati satu hal: kegamangan.
Barangkali PSI sedang mencari perhatian. Tapi perhatian adalah mata uang yang murah dalam politik. Ia bisa dibeli dengan sensasi, tetapi tidak bisa ditukar dengan kepercayaan. Dan publik Indonesia, meski sering dianggap mudah lupa, sebenarnya tidak sebodoh yang dibayangkan politisi muda yang sibuk bermain TikTok.
Maka esai pembanding yang menyebut “krisis simbolik” itu benar adanya. PSI bukan sedang berinovasi, melainkan sedang kehilangan arah. Antara keinginan tampil segar dan tekanan relevansi, mereka memilih kemasan daripada isi. Padahal partai, jika ingin bertahan, harus dibangun dari pertanyaan-pertanyaan berat: kepada siapa aku berpihak? Untuk siapa aku bersuara?
Bukan: bagaimana agar aku tampak keren?
Mungkin inilah paradoks PSI: partai yang dilahirkan dengan niat mulia melawan politik tua, tapi kini terjebak dalam estetika yang terlalu muda. Dan seperti gajah yang kehilangan habitat, mereka terlihat besar, tapi berjalan tanpa arah.
Mereka lupa: politik adalah tentang merawat ingatan, bukan sekadar tampil di timeline.
Dan saya tak yakin, apakah gajah merah mereka akan diingat sebagai simbol kekuatan… atau hanya sebagai meme yang gagal.




















