Fusilatnews – Ada saat ketika sebuah kata bisa memecah sunyi. Ada waktu ketika kalimat sembrono bisa membangunkan sesuatu yang selama ini memilih diam.
Purnawirawan TNI itu sudah lama tak berseragam. Tapi di dalam dirinya, disiplin dan loyalitas tetap hidup seperti sisa api dalam arang yang belum padam.
Maka ketika seorang politisi—Sylvester Matutina—menyebut mereka “bau tanah”, reaksi itu datang bukan sebagai letupan emosional semata, tapi sebagai panggilan untuk bersatu kembali, sebagaimana mereka dilatih sejak taruna: esprit de corps, jiwa korsa.
Letnan Jenderal (Purn) Suwarno, misalnya, bicara dengan suara tenang tapi penuh peringatan:
“Kami ini bukan siapa-siapa, tapi kami pernah menjadi bagian dari penjaga republik ini. Menyebut kami ‘bau tanah’ sama saja menghina sejarah pengabdian kami.”
Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo tak langsung marah, tapi memilih membalas dengan sindiran halus:
“Tanah memang tempat kita kembali. Tapi sebelum kami kembali ke tanah, kami akan pastikan tanah ini tetap utuh untuk generasi kalian.”
Sementara Letjen (Purn) Syarwan Hamid berkata dengan nada getir,
“Orang yang menyebut kami ‘bau tanah’ barangkali lupa, bahwa tanah yang diinjaknya sekarang, adalah tanah yang kami perjuangkan dengan darah.”
Dan mereka pun berkumpul. Tak ada komando resmi. Tak ada instruksi panglima. Tapi satu per satu bersuara, dan suara itu menggema seperti gema laras panjang di lereng pegunungan yang pernah mereka bela.
Karena sejak mereka masuk Akademi Militer, mereka belajar bukan hanya menembak dan berbaris, tapi juga bersatu. Dalam lelah, dalam luka, dalam senyap. Disatukan oleh peluh di tenda darurat, oleh dendang senja di pos perbatasan, oleh bendera yang tak boleh jatuh.
Jiwa itu tidak mati bersama pensiun. Ia hanya berganti medan. Dulu mereka melawan separatis, kini mereka melawan penghinaan. Dulu mereka melawan musuh bersenjata, kini mereka melawan laku pongah yang meremehkan sejarah.
Mungkin para purnawirawan itu tak bisa menulis cuitan lebih cepat dari para buzzer. Mungkin mereka tak tahu strategi media sosial. Tapi mereka tahu cara bertahan. Mereka tahu bagaimana bertempur dalam badai. Mereka tahu bagaimana menunggu dengan tenang sampai musuh kelelahan oleh dirinya sendiri.
Dan kini, mereka bangkit bukan untuk kekuasaan. Tapi untuk kehormatan.
Karena bagi mereka, seperti kata Letjen (Purn) Agus Widjojo:
“Tentara bisa pensiun, tapi kehormatan tidak bisa ditanggalkan. Ia menempel sampai napas terakhir.”
Goenawan pernah berkata, dalam salah satu catatannya, bahwa yang tua adalah tubuh, bukan makna. Dan makna tidak mati, ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
Mereka yang disebut “bau tanah” itu kini kembali membentuk barisan. Barisan senyap yang tahu persis: musuh paling berbahaya bukan yang membawa senjata, tapi yang membawa kesombongan dan melupakan sejarah.
Dan kita, yang masih berjalan di atas tanah yang mereka jaga, mestinya bertanya: siapa sebenarnya yang layak disebut “bau tanah”? Mereka yang pernah berkorban untuk negeri, atau mereka yang baru belajar mengeja makna perjuangan?
























