• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Galeri Kolonial

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
December 23, 2024
in Crime, Feature, Pojok KSP, Seni & Budaya
0
Galeri Kolonial
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Jakarta – Ini masih soal pameran lukisan karya Yos Suprapto (72) yang dibreidel itu. Pembreidelnya adalah Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui Galeri Nasional yang dikepalai oleh Plt Kepala Galeri Nasional Jarot Mahendra, karena sang kurator, Suwarno Wisetrotomo mengundurkan diri setelah berselisih pendapat dengan Yos.

Pameran itu sendiri sedianya berlangsung mulai 19 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025 di Galeri Nasional, Jakarta. Namun, hanya beberapa menit menjelang dibuka, Kamis (19/12/2024) malam, tiba-tiba Galeri Nasional melakukan pembatalan. Pintu masuk gedung pameran digembok. Lampu-lampu dipadamkan. Para-para pengunjung yang sudah terlanjur datang dilarang masuk. Publik kecewa.

“Saya bilang ini pembreidelan,” kata Yos Suprapto, perupa senior asal Yogyakarta yang lahir di Surabaya tahun 1952 dan pernah 25 tahun tinggal di Australia, Jumat (20/12/2024).

Galeri Nasional berdalih pembatalan pameran lukisan itu karena sang kurator, Suwarno Wisetrotomo mengundurkan diri. Adapun alasan Suwarno mundur karena berselisih pendapat dengan Yos.

Mengapa keduanya berselisih pendapat? Karena Suwarno minta 5 dari 30 lukisan Yos ditutup kain hitam atau bahkan diturunkan. Dalihnya, 5 lukisan itu tidak sesuai dengan tema pameran, yakni “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan”.

Sebaliknya, Yos “keukeuh” semua lukisannya wajib ditampilkan, meskipun ia bersedia dua lukisannya yang berjudul “Konoha I” dan “Konoha II” ditutup kain hitam. Kesepakatan pun gagal tercapai.

Salah satu lukisan yang ditolak Suwarno, yakni “Konoha I”, menggambarkan sesosok raja bermahkota yang duduk di singgasana kekuasaannya sambil kedua kakinya menginjak dua sosok manusia, sementara di belakang raja ada pasukan berseragam cokelat dan hijau.

Banyak yang menafsirkan sosok raja itu ialah Joko Widodo, Presiden ke-7 RI yang dalam menggenggam kekuasaannya didukung Polri (cokelat) dan TNI (hijau).

Sesuara dengan Suwarno, Fadli Zon menyatakan 5 lukisan Yos yang diminta diturunkan itu terlalu vulgar dan bermuatan politik serta menghujat seseorang.

Ironisnya, dalam memaknai lukisan Yos, politikus Partai Gerindra itu tanpa melihat terlebih dulu lukisan-lukisan dimaksud dan tanpa pula berdialog dengan Yos. Zon hanya menerima laporan “ABS” (Asal Bapak Senang) dari Suwarno dan Jarot Mahendra

Mungkin Suwarno dan Jarot Mahendra mengalami dilema. Bak menghadapi buah Simalakama. Betapa pun keduanya adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN): Suwarno dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jarot Mahendra Plt Kepala Galeri Nasional. Laporan ABS pun mereka sampaikan ke Fadli Zon.

Tidak hanya bagi Fadli Zon yang ironis, pembatalan (pembreidelan) pameran lukisan Yos juga ironis bagi Galeri Nasional.

Bagi Zon, ironis karena ia seorang Menteri Kebudayaan yang mestinya paham akan seni dan budaya. Seni dan budaya bukan ilmu eksakta yang kalau 1 ditambah 1 hasilnya pasti 2. Ilmu eksakta punya tafsir tunggal. Sebaliknya, seni dan budaya itu multitafsir. Relatif. Nisbi. Tergantung dari sudut mana kita memandang.

Sebab itu, mestinya serahkan saja kepada publik untuk menilainya yang tentu saja akan lebih objektif, tidak tendensius. Jangan main hakim sendiri.

Apalagi, Zon adalah pelaku budaya sebagai kolektor Keris, senjata tradisional etnis Jawa, warisan luhur budaya bangsa.

Yos akhirnya menilai Zon tak pantas jadi Menteri Kebudayaan. Yos juga mengaku tidak mau lagi berurusan dengan Zon dan Galeri Nasional. Ia memilih gulung tikar, membawa kembali pulang 30 lukisannya ke Yogyakarta dengan perasaan getir. Pameran tunggal yang sudah ia persiapkan selama setahun pun ambyar dan tinggal mimpi belaka.

Adapun ironisme bagi Galeri Nasional adalah karena lembaga ini menyandang kata “nasional”. Nasional, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti kebangsaan yang meliputi segala hal tentang suatu bangsa yang berkaitan dengan kebudayaan hingga cita-cita.

Akibat melakukan pembreidelan pameran lukisan Yos, atau siapa pun, maka Galeri Nasional pun bercita rasa kolonial. Galeri nasional rasa kolonial.

Kolonial berarti berhubungan dengan sifat jajahan, atau penjajah. Jadi, akan lebih tepat jika Galeri Nasional berganti nama menjadi Galeri Kolonial. Sebab hanya pemerintah kolonial yang bisa melakukan pembreidelan sebuah pameran lukisan. Padahal dalam sejarahnya tak pernah sebuah rezim pemerintahan tumbang hanya karena sebuah pameran lukisan.

Sementara Indonesia kini adalah negara demokrasi. Pembreidelan pameran lukisan itu jelas merupakan pelanggaran terhadap konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menjamin kebebasan berekspresi.

Pembreidelan pameran lukisan itu juga merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dilindungi konstitusi dan undang-undang.

Ironisnya, pembreidelan acara kesenian dan kebudayaan itu justru terjadi di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang baru saja membentuk Kementerian Kebudayaan, berdiri sendiri dan terpisah dari Kementerian Pendidikan yang sebelum-sebelumnya disatukan.

Apakah Prabowo memang sedang membangkitkan militerisme mengingat ia berlatar belakang militer sebagai bekas Komandan Jenderal Kopassus?

Ataukah ia menempuh cara-cara rezim Orde Baru yang represif terhadap kritik, mengingat bekas Menteri Pertahanan itu adalah bekas menantu mendiang Presiden Soeharto penguasa rezim Orde Baru?

Pembreidelan pameran lukisan itu justru kian menebalkan citra Prabowo sebagai terduga pelanggar HAM seperti yang pernah ia lakukan di tahun 1997-1998.

Kalau tidak ada evaluasi dari Prabowo kepada Fadli Zon dan Jarot Mahendra, maka benar dugaan publik bahwa pembreidelan pameran lukisan Yos Suprapto itu atas seizin Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Kecuali jika nanti ada evaluasi terhadap Fadli Zon dan Jarot Mahendra. Untuk itu, kita tunggu saja tanggal mainnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mursyidah, Pengurus PPWI Pidie, Raih Rekor MURI Se-ASEAN

Next Post

Otto Perlu Klarifikasi Terkait Single Bar dan 70 Ribu Anggota Peradi: Apakah Realistis?

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Prof. Otto: MK Tak Berwenang, Gugatan Anies-Imin dan Ganjar-Mahfud Cacat Formil

Otto Perlu Klarifikasi Terkait Single Bar dan 70 Ribu Anggota Peradi: Apakah Realistis?

Gaji Direksi PT Timah Capai Rp 200 Juta/Bulan, Hakim Terkaget di Sidang Kasus Harvey Moeis

Pengusaha Harvey Moeis Divonis 6,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Timah

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...