Haneda – Tokyo – 31 Juli 2025 – Tanggal 30 Juli 2025, jagat informasi kembali bergemuruh. Kali ini bukan karena politik atau selebritas, tapi karena alam. Tsunami menghampiri Jepang—sebuah negeri yang namanya hampir selalu muncul ketika bencana alam besar terjadi, entah itu gempa, topan, atau tsunami. Dan pada hari itu, notifikasi WhatsApp saya pun membludak. Dari anak, saudara, hingga teman-teman, semuanya bertanya dengan nada yang sama: “Kamu baik-baik saja, kan?” Maklum saja, mereka tahu saya sedang dalam penerbangan menuju Tokyo via Singapura.
Seperti biasa, saya langsung melakukan verifikasi lintas sumber, menulis kabar terkini, dan mengimbangi derasnya kekhawatiran dengan ketenangan data. Setiba di Haneda hari ini, saya bertemu teman-teman lama, termasuk Nakamura-san, yang langsung saya tanyai soal peristiwa kemarin. Jawabnya santai namun meyakinkan, “Ya, memang ada tsunami. Tapi tak ada korban jiwa. Ada yang meninggal, tapi karena kecelakaan lalu lintas.” Tak ada dramatisasi, tak ada kepanikan. Hanya ketenangan khas Jepang yang selalu membuat saya kagum.
Kita kerap lupa, Jepang bukan hanya negeri yang dikelilingi potensi bencana alam, tapi juga negara yang berhasil menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari budaya. Sejak dini, anak-anak Jepang diajarkan bagaimana menghadapi gempa, tsunami, dan bencana lainnya. Sirine bukan hal yang asing, jalur evakuasi ditandai dengan jelas, latihan rutin dilakukan berkala, dan yang lebih penting: mereka patuh dan tahu apa yang harus dilakukan, tanpa panik.
Inilah yang membuat tsunami kemarin tidak menjadi bencana besar. Masyarakatnya sudah “berdamai” dengan alam, bukan dalam arti menyerah, tetapi memahami dan bersiap. Ketika sirine berbunyi, mereka tahu harus lari ke tempat tinggi. Ketika ombak datang, mereka sudah lebih dulu menjauh. Tidak ada keributan, tidak ada saling dorong, apalagi saling teriak menyalahkan. Semuanya bergerak seperti alur naskah yang telah dilatih bertahun-tahun.
Bahkan para TKI kita di Jepang yang biasa melucu di media sosial, kemarin mendadak serius, menurunkan liputan soal tsunami dengan gaya khas mereka: informatif dan tetap ringan. Mereka pun ikut tertib, ikut terlatih. Karena hidup di Jepang memang berarti harus siap menghadapi alam.
Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah: bencana bisa terjadi kapan saja, tapi kepanikan bisa dicegah. Dan itulah yang diajarkan Jepang kepada kita—bahwa kesiapsiagaan bukanlah soal teknologi semata, tapi soal mental, budaya, dan pendidikan yang berkelanjutan.
Hari ini Tokyo kembali tenang. Tidak ada puing-puing, tidak ada isak tangis, hanya kehidupan yang berjalan seperti biasa. Tapi di balik ketenangan itu, tersimpan kedisiplinan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Dan barangkali, itu gelombang paling besar yang seharusnya kita pelajari dari Jepang.























