Tokyo, Fusilatnews – 30 Juli 2025 — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,8 yang mengguncang lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia, Selasa malam (29/7), memicu gelombang tsunami yang mencapai wilayah pesisir Jepang. Badan Meteorologi Jepang (JMA) segera mengeluarkan peringatan tsunami, mendorong evakuasi massal terhadap hampir dua juta warga di sepanjang pantai timur laut negara itu.
JMA mencatat gelombang tsunami setinggi 1 hingga 1,3 meter menghantam beberapa wilayah pesisir Jepang, termasuk Hokkaido, Iwate, dan Fukushima. Gelombang pertama dilaporkan mencapai daratan sekitar pukul 21.10 waktu setempat. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar, peringatan tetap diberlakukan karena potensi gelombang susulan.
“Evakuasi dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Kami tidak ingin mengulangi kelengahan seperti pada 2011,” ujar seorang pejabat setempat di Hokkaido. Ribuan warga mengungsi ke lokasi-lokasi yang lebih tinggi dan pusat-pusat evakuasi darurat telah dibuka sejak semalam.
Gempa yang berpusat sekitar 120 kilometer dari Petropavlovsk-Kamchatsky, Rusia, ini terjadi pada kedalaman 20 kilometer dan juga dirasakan hingga Alaska dan sebagian wilayah Jepang. Layanan kereta cepat (Shinkansen) di wilayah utara Jepang sempat dihentikan sementara, dan beberapa penerbangan ke daerah terdampak dialihkan.
Sementara itu, operator pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi memastikan bahwa tidak ada kerusakan atau kebocoran radiasi yang terjadi akibat gempa maupun gelombang tsunami. Sekitar 4.000 pekerja di lokasi fasilitas tersebut dievakuasi untuk menghindari risiko.
Hingga Rabu pagi, belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan berat. Namun, JMA memperingatkan kemungkinan terjadinya gempa susulan dan gelombang kecil yang masih dapat mengancam pesisir.
“Warga diminta tidak kembali ke rumah sebelum ada pengumuman resmi bahwa situasi benar-benar aman,” kata seorang juru bicara JMA dalam jumpa pers.
Tsunami yang juga berdampak pada sebagian wilayah Hawaii dan pantai barat Amerika Serikat ini menandai salah satu aktivasi sistem peringatan tsunami paling luas sejak dekade terakhir.
Pemerintah Jepang menegaskan akan terus memantau perkembangan dan menyiagakan seluruh perangkat darurat nasional, termasuk pasukan penyelamat dan bantuan logistik untuk warga yang terdampak.

























