Oleh: Entang Sastraatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)
Ketika harga beras melejit, siapa yang paling terdampak? Apakah petani menangis, atau justru tertawa? Pertanyaan ini perlu dijawab secara jernih, agar kita tidak terjebak dalam simpati yang salah alamat atau kebijakan yang keliru sasaran.
Setidaknya ada lima alasan mengapa pemerintah begitu khawatir ketika harga beras melonjak tinggi.
Pertama, dampaknya terhadap kemiskinan.
Sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah mengalokasikan porsi besar pendapatannya untuk membeli beras. Ketika harga beras naik, beban mereka pun kian berat, dan risiko jatuh ke dalam jurang kemiskinan menjadi semakin besar.
Kedua, inflasi.
Beras adalah komoditas utama. Lonjakan harganya akan memicu inflasi secara keseluruhan. Daya beli masyarakat merosot, pertumbuhan ekonomi melambat, dan stabilitas fiskal terganggu.
Ketiga, stabilitas sosial.
Kenaikan harga beras yang tak terkendali dapat memicu keresahan sosial. Riak-riak ketidakpuasan mudah berubah menjadi gelombang demonstrasi, yang dapat mengganggu stabilitas politik dan keamanan.
Keempat, ketahanan pangan.
Beras adalah makanan pokok. Ketika harganya tak terjangkau, akses masyarakat terhadap pangan bergizi pun terancam. Ini bukan hanya masalah perut, tetapi juga persoalan nasional.
Kelima, dampak pada kelompok rentan.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok miskin akan paling merasakan dampaknya. Harga beras yang tinggi berarti asupan gizi terganggu. Maka bukan hanya kemiskinan yang meningkat, tapi juga potensi stunting dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Atas dasar itulah, pemerintah memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas harga beras. Melalui kebijakan stabilisasi harga, subsidi, dan bantuan pangan, diharapkan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar yang layak.
Lalu, apakah petani ikut menderita?
Tidak selalu. Dalam situasi normal, naiknya harga beras justru bisa menjadi berkah bagi petani. Mereka bisa menjual gabah atau beras dengan harga lebih tinggi, dan pendapatan pun meningkat. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak petani tetap berada di sisi yang kalah, bahkan ketika harga beras tinggi. Mengapa?
Harga input melonjak. Kenaikan harga pupuk, benih, pestisida, dan sewa lahan membuat keuntungan petani tergerus.
Tengkulak menguasai pasar. Petani kerap terjerat dalam sistem distribusi yang timpang, di mana tengkulak menentukan harga beli gabah, bukan berdasarkan pasar, tetapi kekuasaan dagang.
Akses pasar terbatas. Banyak petani tidak memiliki infrastruktur dan informasi yang cukup untuk menjual langsung ke pasar. Akibatnya, harga jual yang mereka terima jauh dari harga pasar riil.
Jadi, ketika harga beras naik, petani tidak otomatis tersenyum. Bahkan bisa jadi mereka hanya menjadi penonton dari permainan harga yang dikendalikan oleh aktor-aktor besar di rantai distribusi.
Siapa yang paling menderita?
Jawabannya: konsumen. Terutama mereka yang berpendapatan rendah. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan pokok. Dalam jangka panjang, hal ini mengganggu kualitas hidup dan memperlebar ketimpangan sosial.
Saatnya Petani Naik Kelas
Jika petani ingin menikmati hasil kerja kerasnya secara utuh, maka sudah saatnya mereka tidak lagi hanya menjual gabah mentah. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai pasok beras, dari sawah hingga meja makan.
Beberapa strategi bisa dilakukan:
Pendidikan dan pelatihan.
Bekali petani dengan pengetahuan budidaya yang modern, manajemen pasca panen, dan teknik pemasaran.Akses teknologi.
Sediakan mesin pertanian, alat panen, sistem irigasi, dan fasilitas penggilingan agar petani bisa menghasilkan beras sendiri dengan kualitas baik.Penguatan kelembagaan.
Dorong pembentukan koperasi tani atau asosiasi yang kuat untuk memperbaiki posisi tawar petani di hadapan tengkulak dan pengusaha besar.Akses pasar langsung.
Buka jalur distribusi yang memungkinkan petani menjual langsung ke konsumen atau lembaga pemerintah seperti Bulog.Subsidi dan insentif.
Berikan dukungan nyata berupa subsidi input produksi atau insentif bagi petani yang meningkatkan kualitas berasnya.Perbaikan infrastruktur.
Bangun jalan pertanian, irigasi, gudang, dan pasar desa yang memungkinkan efisiensi dan memperpendek rantai distribusi.
Dengan pendekatan seperti itu, kita tidak hanya menyelamatkan petani dari kemiskinan, tapi juga menjadikan mereka mitra strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Petani tidak seharusnya menjadi objek belas kasihan, tapi subjek utama dalam peta ekonomi bangsa.
Dan untuk itu, mereka butuh dukungan, bukan hanya simpati. Butuh sistem, bukan hanya slogan.
Semoga jalan ke sana makin terbuka. Dan semoga yang tertawa saat harga beras naik, kali ini benar-benar petani.

























