Fusilatnews – Pagi bisa datang dari jempol yang sibuk. Di sela uap nasi dan dengung panci, seorang ibu menatap layar kecilnya—dan di sanalah dunia bicara. Bukan lewat suara berat penyiar berita, bukan pula dari teks di halaman koran. Tapi dari seorang pemuda berkaos oblong, menyampaikan kabar harga beras naik, dengan emoji tertawa dan latar musik yang akrab di telinga.
Ia tersenyum, lalu mengangguk. Ia merasa tahu. Ia merasa paham. Ia merasa telah mendapat kebenaran—meski kebenaran itu barangkali hanya sepotong, atau sekadar pantulan dari keinginan untuk percaya.
Inilah Indonesia hari ini, dan mungkin esok. Sebuah negeri yang memeluk berita dalam bentuk baru: bukan lagi kolom panjang yang dibaca dengan tekun, tetapi potongan-potongan video yang menghibur, mengagetkan, menyentuh, dan kadang menyesatkan.
Riset Reuters Institute for the Study of Journalism 2025 menyodorkan angka-angka yang tidak dingin. Ia menunjukkan bahwa 41 persen pengguna internet Indonesia mencari berita di YouTube. Dan lebih mengejutkan lagi, 34 persen kini menjadikan TikTok sebagai sumber utama informasi. Bukan hanya untuk hiburan, tapi untuk memahami dunia.
Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah pergeseran cara kita memandang kebenaran. Sebab di TikTok, berita datang dengan gerak cepat, narasi singkat, dan wajah-wajah yang bukan wartawan, bukan ahli, bukan penyaksi. Tapi mereka dipercaya.
Barangkali karena bahasa mereka tidak berjarak. Tidak resmi. Tidak menggurui. Mereka bicara seperti teman: santai, kadang sembrono, tapi terasa jujur. Atau setidaknya, tampak jujur. Di zaman ini, “terasa” bisa lebih penting dari “sebenarnya”.
Yang lebih menggetarkan: meski 57 persen orang Indonesia mengaku percaya pada berita, 7 dari 10 di antaranya takut tertipu hoaks. Rasa percaya yang dibayang-bayangi curiga. Seperti orang yang menyentuh air tapi takut basah. Seperti berjalan dalam gelap, sambil berharap menemukan cahaya dari layar ponsel.
Media arus utama masih ada—Detik, Kompas, Tribun. Tapi mereka tak lagi sendirian. Mereka kini bersaing dengan suara-suara yang lahir dari algoritma, dari orang-orang yang tak pernah duduk di ruang redaksi, tak mengenal etika jurnalistik, tapi mengerti satu hal: bagaimana membuat orang berhenti, menatap, dan membagikan.
Dalam kerumunan video pendek itu, kabar bisa jadi kabur, opini bisa menyamar jadi fakta, dan sensasi bisa mengalahkan verifikasi.
Maka kita bertanya: akankah negeri ini menuju Indonesia Emas dengan tumpuan pada informasi yang datang bukan dari ruang berita, tapi dari kamar tidur remaja dengan kamera ponsel?
Atau barangkali, kita sudah tidak lagi membedakan mana jurnalis, mana performer. Sebab yang penting bukan siapa yang bicara, tapi apakah kita merasa nyaman dengan apa yang ia katakan.
Dan di titik itulah, kebenaran menjadi relatif. Ia tidak lagi dicari, hanya diklik.
Di zaman yang tergesa-gesa ini, kebenaran datang seperti notifikasi: cepat, ramai, dan mudah hilang. Tapi mungkin justru karena itu, kita perlu jeda. Untuk bertanya, bukan apa yang viral, tapi apa yang benar.


























