Oleh : Ronny P Sasmita
(Tulisan sebelumnya) SELAIN Partai Komunis Indonesia (PKI), hasil riset Hellen juga menyimpulkan dengan yakin bahwa Omar Dhani terlibat intens. Sementara itu Soebandrio dikategorikan tidak terlibat langsung, tetapi mengetahui dengan persis rencana Gerakan 30 September 1965. Soal Soekarno, Hellen mengambil posisi ambigu. Posisi Soekarno misterius. Namun dari beberapa langkah Soekarno setelah peristiwa dan sikap politiknya jelas-jelas melindungi PKI dan Omar Dhani di satu sisi dan tak bersimpati pada para jenderal yang menjadi korban di sisi lain. Saya ingin mengutip lagi John Hughes soal Soekarno bahwa cukup sulit untuk membantah keterlibatan Soekarno dalam peristiwa tersebut.
“Despite all this, and despite Suharto’s exoneration of Sukarno as the mastermind behind the coup, it is difficult to exempt Sukarno from involvement in it.This is not to suggest that Sukarno wrote out an order for the generals’ removal.It does not mean the plotters came to Sukarno, asked for his assent, and got it.In Indonesia, things are not done that way.And in any event, Sukarno had proved himself too wily and experienced a politician for that.” Lalu Hughes menambahkan: “With that remarkable Javanese capacity for evasion of direct issues, there would have been no need for Sukarno to signal in actual words his blessing for the arrest of the generals.But from the behavior of the plotters it seems clear they believed they had either received such blessing or would undoubtedly be given it.”
Salah perhitungan Aidit
Jika demikian, maka di mana letak salah perhitungan Aidit? Menurut saya, pertama, Aidit salah memberangkatkan rencananya dari dokumen Ghilcrist. Atau, jika Aidit terlibat dalam merekyasa dokumen tersebut, Aidit terlalu gegabah memakai strategi tersebut. Viktor Fic bahkan meyakini dokumen tersebut palsu, tak jelas asalnya dari mana. Dokumen tersebut dibuat dalam rangka operasi Palmer, kata Fic. Jadi, bukan dokumen yang terkait dengan kedutaan Inggris.
Sementara itu, penelitian terbaru juga menyatakan dokumen tersebut adalah hasil rekayasa agen Ceko di bawah kendali KGB. Mengapa salah? Karena dengan beredarnya isu tentang dokumen tersebut, isu dewan jenderal bergentayangan di ruang publik, terutama dari media-media milik PKI, yang membuat posisi TNI Angkatan Darat (AD) terpojok, lalu mengambil posisi siaga satu. Karena faktor kesiapsiagaan TNI AD tersebut, John Roosa dengan agak serampangan menyimpulkan bahwa peluang TNI AD sebagai pelaku Gerakan 30 September di buku awalnya lebih besar ketimbang peluang PKI sendiri. Padahal artinya yang paling pas adalah bahwa TNI AD sudah dalam posisi sangat siap ketika rencana Aidit dan biro khusus PKI dilancarkan. Dalam hal ini, Soekarno juga terlalu menyeriusi dokumen tersebut yang dibawa oleh Soebandrio kepada Soekarno. Kedua, Aidit berlebihan menilai penyakit Bung Karno. Entah benar atau tidak dokter dari China mengatakan kepada Aidit bahwa penyakit Soekarno sudah tingkat parah, sekali lagi kena serangan berkemungkinan tidak akan selamat. Hanya Aidit yang mengetahui itu. Yang jelas, sebagaimana dikutip Zhou, dokumen deklasifikasi Kementerin Luar Negeri China berkata lain. Laporan dokter yang memeriksa Soekarno mengatakan, kondisi Soekarno tak seburuk itu, bahkan sudah semakin membaik. Sarannya untuk Soekarno hanya dua, kurangi kesibukan dan kurangi aktivitas seksual. Terbukti, Soekarno masih mampu bertahan sampai tahun 1970, jauh dari dugaan Aidit. Dan terbukti setelah peritiwa pagi 1 Oktober, berdasarkan kajian Victor Fic, Soekarno tak menyerahkan kekuasaan kepada Omar Dhani untuk jadi presiden dan Aidit menjadi perdana menteri, sebagaimana perjanjian antara Soekarno dan Aidit di tanggal 7 dan 8 Agustus, sekembali Aidit dari China.
Menurut Fic, ada dua alasan mengapa Soekarno berubah pikiran di tanggal 1 Oktober. Pertama, karena Soekarno mulai panik dan berubah pikiran setelah mengetahui Nasution gagal dieksekusi. Kedua, karena Soekarno merasa jauh lebih sehat, berbeda dengan tanggal 4 Agustus yang pingsan berkali-kali, lalu memerintahkan Untung untuk menghabisi dewan Jenderal. Karena perubahan sikap Soekarno itu, kata Fic, rencana plot mulai berantakan. Ketiga, Aidit salah menilai China. Dalam rentang waktu itu, China bahkan masih jauh dari status great power. China mengalami kelaparan parah terbesar sepanjang sejarah setelah kelaparan Ukraina pasca perang dunia pertama. Kebijakan Great Leap Forward (1956-1966) telah menghancurkan ekonomi China dan menciptakan kelaparan yang sangat parah. Bagaimana mungkin Indonesia bisa bergantung kepada komitmen China. Namun dalam konteks ini, saya memaklumi hal itu. Karena di saat itu, bukan hanya Aidit yang salah menilai China. Dalam buku Hong Liu, China and the Shaping of Indonesia 1949-1965 (2012), hampir semua tokoh Indonesia memuji ekonomi China, termasuk Bung Hatta setelah kunjungannya ke sana tahun 1957. Keempat, Aidit terlalu percaya diri atas besarnya dukungan untuk PKI kala itu. Memang benar anggotanya sampai tiga juta dan anggota organisasi underbow PKI sekitar 16 juta, yang menjadikan PKI sebagai partai komunis terbesar di luar Soviet dan China. Namun, seperti kata John Hughes, pertumbuhannya tidak organik dan penyokongnya sangat bersifat temporal. Pertama, keadaan ekonomi yang memburuk kala itu membuat banyak pemilih condong ke PKI.
Kedua, karena perlindungan yang diberikan Soekarno untuk PKI. Dengan kata lain, meskipun berjumlah jutaan, hanya sebagian kecil yang benar-benar bersifat ideologis dan siap bergerak melakukan perlawanan sipil, untuk meneruskan rencana plot di level yang lebih luas. Kelima, Aidit lupa mengontrol editorial harian Rakyat untuk tanggal 2 Oktober. Padahal di tanggal itu, Aidit menulis surat untuk Soekarno dari Yogyakarta, agar Soekarno melakukan beberapa hal. Dua hal di antaranya adalah segera merombak kabinet dan memindahkan wewenang ketertiban dalam negeri ke polisi. Karena lupa memberi briefing kepada harian Rakyat, editorial harian itu di tanggal 2 Oktober yang memberikan dukungan kepada Gerakan 30 September dan menghadirkan karikatur yang mengutuk dewan jenderal, seperti kata John Hughes, benar-benar menjadi blunder yang luar biasa, yang serta merta membuat TNI AD menempatkan PKI sebagai pelakunya. Keenam, yang menurut saya paling fatal, Aidit salah menilai Soeharto dan menganggapnya progresif, lalu tidak memasukannya ke dalam daftar. Lalu jika benar ada kudeta dalam kudeta, seperti kata Poulgrain, terdapat kesalahan ketujuh Aidit, yakni jelas-jelas Aidit gagal mengidentifikasi siapa Syam. Kedelapan, Aidit gagal mengidentifikasi CIA ada di mana.
Saat laporannya ke Mao soal AS dan CIA masih bersama Nasution, jika Poulgrain benar, maka faksi CIA nyatanya sudah bersama Soeharto, bukan lagi Nasution. Tak lupa, kesalahan paling fatal dari gerakan adalah gagal membunuh Nasution. Sebagaimana kita mengetahui dengan jelas, secara legal formal dan konstitusional, bukan Soeharto yang melengserkan Soekarno, tapi MPRS yang diketuai Nasution yang mencabut mandat Soekarno sebagai presiden. Terakhir, jika kembali kepada konteks global, suasana perang dingin, kita dengan sederhana bisa memaknai peristiwa 30 September adalah peristiwa menangnya kubu Barat melalui tangan Soeharto dan Nasution, atas Blok Komunis Soviet dan China, yang kemudian memperburuk situasi perang di Vietnam. Kok bisa? Bukan karena seteru Amerika dan Soviet semakin memanas, tapi menurut Jeremy Friedman, karena setelah gagalnya PKI di Indonesia, Soviet dan China saling menyalahkan dan perseteruan di antara mereka meruncing. Jadi Uni Soviet semakin serius membantu Vietnam Utara, kata Friedman, tujuan utamanya bukan untuk melemahkan Amerika, tapi justru untuk menipiskan peran China atas Vietnam Utara. Perubahan politik di China dan Soviet
Yang tak kalah penting, perubahan politik di China sangat drastis setelah PKI gagal di Indonesia. Sebulan setelah Mao mengetahui Soeharto mendapat mandat via Supersemar di bulan Maret 1966, di bulan Mai 1966 Mao meluncurkan gerakan revolusi kultural atau yang dikenal dengan “Great Proletariat Cultural Revolution.” Mao menghabisi semua lawan politiknya. Semua tokoh dan pejabat negara yang dianggap revisionis, reformis, borjuis, dan antimaois digeruduk oleh penjaga merah (red guard). Sebagian dibunuh di tempat, sebagian dibawa ke pengasingan. Li Shaoqi, Presiden China kala itu, menjadi salah satu korbanya. Begitu pula dengan Deng Xiaoping. Tak lupa, setahun kemudian, 1967, China melakukan suspensi hubungan diplomatik dengan Indonesia. Lalu dua tahun kemudian, 1968, giliran Soviet menggeruduk Cekoslovakia. Breznev menginvasi Ceko dan menggasak gerakan reformis di sana. Di sisi lain, perseteruan kedua negara semakin menjadi. Tahun 1969, Mao menduduki wilayah di sekitar sungai Ussuri di perbatasan Soviet dan China. Kedua negara nyaris saja terlibat perang nuklir. Soviet sudah bersiap-bersiap mengirim rudal nuklir ke instalasi senjata nuklir China. Untung saja Mao takut dan menarik pasukan dari sungai Ussuri. Setelah itu, bagi Mao, bukan Amerika lagi yang menjadi ancaman utamanya, tapi Soviet. Kemudian, di tahun 1971, Henry Kissinger membuka jalur diplomasi dengan Mao, memanfaatkan seteru di dalam kubu komunis. Mao menyambut dengan hangat tangan Amerika. Tahun 1972, presiden AS bertemu Mao di Beijing. Mao akhirnya memilih berkawan dengan AS, untuk melawan Soviet. Thank to Cornell Paper.
Ronny P Sasmita | Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution
Dikutip Kompas.com, Minggu 19 September 2022
Artikel ini sambungan dari:





















